PPKM Level 4 Diperpanjang

Angka Kematian COVID-19 RI Kian Melejit, Pemerintah Bisa Apa?

Oleh: Irwan Syambudi - 26 Juli 2021
Dibaca Normal 3 menit
Angka kematian kasus COVID-19 terus melejit hingga mencapai rekor tertinggi, apa upaya pemerintah untuk menekan kasus kematian?
tirto.id - Angka kematian kasus COVID-19 terus melejit hingga mencapai rekor tertinggi. Penambahan kematian selalu di atas 1.000 per hari dalam 6 hari. Apa yang bisa dilakukan pemerintah membendung laju kematian di tengah strategi yang dinilai tak efektif?

Pada 23 Juli 2021 penambahan kasus kematian mencapai 1.566, angka itu menjadi yang tertinggi sepanjang pandemi. Dan angka kematian di atas 1.000 kasus itu terjadi konsisten sejak 16 Juli 2021 yakni 1.205 kematian; 17 Juli 1.092 kematian dan 18 Juli 1.093 kematian, 19 Juli 1.338 kematian, 20 Juli 1.280 kematian dan 21 Juli 1.383 kematian; dan 22 Juli 1.449 kematian hingga 24 Juli 2021 1.415 kematian.

Epidemiolog asal Indonesia di Griffith University Australia Dicky Budiman bilang kematian yang melonjak bukan saja menunjukkan strategi penanganan pandemi yang tak efektif, tetapi sudah gagal.

“Yang jelas strategi kita di hulu gagal atau belum berhasil menemukan dan sekaligus menekan kasus infeksi. Dan itu tentu berakibat pada tingginya kematian ini. Dan sekali lagi, kasus kematian adalah indikator serius keparahan situasi pandemi di suatu wilayah atau negara,” kata Dicky kepada Tirto, Jumat (23/7/2021).

Ketika lonjakan kasus kematian begitu tinggi, yang harus dilakukan kata Dicky adalah melakukan peningkatan testing dan tracing. Namun, angka testing masih sangat fluktuatif dan cenderung rendah tak pernah mencapai 500 ribu per hari.

Misalnya, data dalam sepekan terakhir menunjukkan testing hanya berkisar 100-228 ribu orang per hari. Rinciannya, pada 17 Juli 2021 ada 188.551 orang dites; 18 Juli 138.046; 19 Juli 127.461; 20 Juli 114.674; 21 Juli 116.232; 22 Juli 228.702; dan 23 Juli 202.385.

“Ketika kematian melonjak ya testing dan tracing itu yang harus ditingkatkan dengan standar 500 per hari itu sudah. Tapi saat ini sudah bukan 500 lagi tapi 750 ribuan itu sudah minimal dengan laju transmisi yang tinggi saat ini,” kata Dicky.

Dengan testing yang tinggi maka kemudian dilanjutkan dengan tracing. Ini penting untuk melakukan tindak lanjut dengan isolasi karantina hasil tracing tersebut. Sehingga laju penularan bisa benar-benar ditekan.

Lalu angka fatalitas atau kematian juga dapat ditekan dengan melakukan “kunjungan rumah untuk penilaian awal risiko mana yang bisa isolasi mandiri mana yang tidak. Itu yang harus dilakukan,” ujarnya.

Sehingga mereka yang berisiko seperti lanjut usia dan komorbid tak melakukan isolasi mandiri di rumah. Dengan demikian kasus pasien COVID-19 yang meninggal karena isolasi mandiri dan tak dirawat di rumah sakit dapat ditekan.

Namun, kenyataannya angka kematian saat isolasi mandiri dan di luar rumah sakit terus meningkat. Koalisi warga untuk LaporCOVID-19 mencatat jumlah pasien COVID-19 yang meninggal saat isolasi mandiri (isoman) atau meninggal di luar rumah sakit (RS) jumlahnya ada 2.313 sampai dengan 22 Juli 2021 kemarin.

“Data yang kami kumpulkan ini adalah fenomena gunung es. Jadi kematian orang yang di luar fasilitas kesehatan kami duga jauh lebih tinggi,” kata Co-Inisiator LaporCOVID-19 Ahmad Arif saat jumpa pers daring, Kamis (23/7/2021).

Untuk menekan angka kematian di luar fasilitas kesehatan, LaporCOVID-19 merekomendasikan agar tempat isolasi terpusat diperbanyak dengan menggunakan gedung sekolah atau gedung pemerintahan lainnya yang dilengkapi dengan tenaga kesehatan.

Kemudian dapat dilakukan dengan memperkuat layanan pre-hospital (pra-rumah sakit) dengan memperluas jangkauan konsultasi kesehatan secara daring. Selain itu, pemantauan dan dukungan terhadap pasien isoman baik secara medis, sosial ekonomi juga harus dilakukan.



Upaya Pemerintah Tekan Angka Kematian COVID


Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengakui perlu adanya perbaikan jumlah testing sebab dalam beberapa hari terakhir terjadi penurunan.

“Jumlah orang diperiksa yang mengalami penurunan selama 4 hari terakhir perlu untuk segera dikejar untuk meningkat kembali, karena semakin tinggi testing semakin banyak kasus yang dapat terdeteksi, dan ditangani sejak dini,” kata Wiku dalam konferensi pers, Kamis.

Selain itu, angka kematian, kata dia, juga menjadi fokus lantaran mengalami peningkatan dalam tujuh hari terakhir yang angkanya selalu di atas 1.000 kematian per hari.

“Ini tidak bisa ditoleransi lagi karena ini bukan sekadar angka, di dalamnya ada keluarga, kerabat kolega dan orang-orang tercinta yang pergi meninggalkan kita. Kasus positif yang turun dan kesembuhan yang meningkat harus diikuti dengan kematian yang turun pula,” kata Wiku.

Oleh karena itu, Wiku meminta kepada sejumlah pemerintah daerah seperti Jawa Tengah, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bali untuk menurunkan angka kematian dengan cara sedini mungkin pasien COVID-19 ditangani dan meningkatkan pelayanan di rumah sakit.

“Penelusuran kontak juga penting dilakukan agar kasus dapat segera terdeteksi dan mendapatkan penanganan. Penurunan kasus positif, BOR serta jumlah desa atau kelurahan yang tidak patuh protokol kesehatan dapat diupayakan dengan meningkatkan lagi pengawasan dan menindak tegas pada pelanggaran protokol,” kata Wiku.

Sementara Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan pihaknya juga terus berupaya untuk membendung laju kematian akibat COVID-19 yang kian meningkat.

“Kita mendorong lebih banyak tempat perawatan supaya lebih bisa tertangani. Kedua adalah testing dan tracing supaya kasus lebih cepat ditemukan. Yang ketika isolasi mandiri harus terpantau,” kata Nadia kepada reporter Tirto, Jumat.

Mengenai penambahan tempat tidur sebetulnya sudah dilakukan terus-menerus. Namun, kata Nadia, masih banyak yang tak tertolong lantaran pasien datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi kritis.

Sementara mengenai temuan masih banyaknya pasien yang meninggal saat isolasi mandiri, pihaknya terus mendorong agar pemantauan satgas di tingkat desa hingga RT lebih aktif.


Baca juga artikel terkait PANDEMI COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Maya Saputri
DarkLight