Advertorial

Ajinomoto: dari Penyedap Masakan hingga Produk Kecantikan

Oleh: Advertorial - 16 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Apa yang terjadi bila tubuh kekurangan protein? Massa otot menyusut, rentan infeksi, pertumbuhan sel terganggu, dan sebagainya.
tirto.id - Menjelang hari raya idul fitri 2 tahun lalu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman meminta masyarakat agar mengubah pola konsumsi protein dari daging sapi ke sumber-sumber protein lain seperti daging ayam, telur, ikan, atau kambing. Alasan Amran: harga daging sapi tinggi sedangkan kebutuhan masyarakat terhadap protein tak bisa ditangguhkan.

Bukan hanya jelang idul fitri Amran menyarankan masyarakat mencari makanan pengganti daging sapi. Pada akhir tahun lalu, sehabis melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Cipinang, Jakarta Timur (7/12/2017), Amran juga menyebut keong sawah sebagai sumber protein alternatif. “Jangan salah, keong sawah itu proteinnya tinggi,” katanya.

Lepas dari keributan yang timbul setelah ucapan Amran soal keong sawah, ada satu hal yang diterima khalayak dan karena itu tak terbantahkan: manusia tak bisa hidup tanpa asupan protein. (Perhatikan akar kata protein versi kamus Merriam Webster: prōteios—diambil dari bahasa Yunani—artinya utama).

Situs T.H. Harvard School of Public Health menyebut protein terdapat di seluruh bagian tubuh manusia—otot, tulang, kulit, rambut, juga di bagian tubuh lain termasuk jaringan. Protein juga berperan dalam pembentukan enzim yang menggerakkan sejumlah reaksi kimia dan memproduksi hemoglobin yang kemudian mengangkut oksigen dalam darah. “Setidaknya ada 10.000 protein berbeda yang menjadikan Anda seperti saat ini dan mempertahankannya agar tetap seperti itu.”

Apa yang terjadi bila tubuh kekurangan protein?

Dokter Kevin Adrian dari aladokter.com membeberkan: tubuh akan kehilangan berat badan karena berkurangnya massa otot (otot menyusut), sering mengalami infeksi karena sistem kekebalan tubuh melemah, kelelahan otot, pembengkakan di tubuh, adanya gangguan dalam pertumbuhan sel, rambut rontok, diare, perlemakan hati, anemia, hingga mengalami kondisi malnutrisi energi protein seperti kwashiorkor dan marasmus.

Sumber yang sama juga menjelaskan, kebutuhan harian protein pada tiap orang tergantung pada jenis kelamin, usia, berat badan, aktivitas, dan kondisi kesehatan secara umum. “Asupan protein yang direkomendasikan adalah sebanyak 0,8 gram per kilogram berat badan per hari. Jadi untuk orang yang memiliki berat badan 70 kg, maka kebutuhan protein per harinya adalah 56 gram. Untuk penderita penyakit gagal ginjal, asupan nutrisi tertentu termasuk protein, perlu dikurangi. Tujuannya adalah untuk mengurangi beban kerja ginjal.”

Protein terbuat dari dua puluh unsur dasar asam amino. Diketahui, asam amino terbagi ke dalam dua kelompok utama: asam amino non-esensial dan asam amino esensial. Kelompok pertama—tirosin, sistein, serin, prolin, glisin, asam glutamat, asam aspartat, ariginin, alanin, glutamin, dan asparagin—dapat diproduksi sendiri oleh tubuh sedangkan kelompok kedua—histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan, dan valin—hanya bisa didapat dari makanan. Di titik inilah makanan-makanan yang mengandung asam amino berperan bagi kesehatan.

Infografik Avertorial Protein dan Asam Amino
Infografik Avertorial Protein & Asam Amino


Temuan baru terus dikembangkan

Pada 2014, Science Daily mewartakan sebuah tim yang dipimpin Christian Heinis dari Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL) telah menemukan asam amino sintesis untuk kepentingan dunia medis.

Sebagai gambaran, obat-obatan yang kerap dikonsumsi manusia pada dasarnya adalah peptida—molekul yang terbentuk dari dua atau lebih unsur asam amino—dan protein. Baik peptida maupun protein dibuat dari unsur-unsur alami asam amino yang dapat ditemukan pada semua organisme hidup. Karenanya, ketika ada temuan baru berupa asam amino sintesis, hal demikian boleh dibilang suatu langkah yang progresif.

“Seiring menumpuknya beban penyakit, obat yang lebih baru dan lebih efektif juga harus dikembangkan. Sebagai contoh, resistensi bakteri yang tumbuh secara global mendorong kebutuhan manusia akan antibiotik baru,” demikian bunyi publikasi tersebut.

Selain digunakan untuk kepentingan medis, asam amino juga dimanfaatkan industri kosmetik. Dalam sebuah publikasi di Cosmetic Ingredient Review, asam amino dinyatakan aman untuk digunakan dalam produk-produk kecantikan, misalnya sampo dan pelembap.

Pemanfaatan senyawa penting itu di bidang obat-obatan dan kosmetik kini juga dikerjakan oleh Ajinomoto, perusahaan yang memproduksi penyedap rasa monosidium glutamat. Tak main-main, Ajinomoto telah meneliti asam amino selama seabad.

“Asam amino membuat kita tetap hidup dan berkembang,” kata pihak Ajinomoto.