Airbag Berbahaya yang Membawa Takata pada Kebangkrutan

Seorang pekerja sedang merapikan produk di etalase Takata. Foto/Reuters
Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 3 Juli 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sejak 2009, airbag produksi Takata menyebabkan kematian banyak konsumennya. Tahun ini, Takata mengajukan permohonan kepailitan.
tirto.id - Gurjit Rathore, perempuan berusia 33 tahun sedang menyetir Honda Accord miliknya pada Desember 2009. Sebuah truk tiba-tiba menabraknya dari depan. Kantong udara secara otomatis keluar. Namun, alih-alih menyelamatkannya dari benturan, kantong itu terbuka bersama serpihan logam yang menancap di tubuh Gurjit. Ia meninggal dunia.

Tak terima dengan fakta itu, keluarga korban lalu menggugat Takata Corp, perusahaan pembuat airbag atau kantong udara yang ada dalam Honda Accord. Produk Takata sendiri tak hanya disematkan pada mobil keluaran Honda, tetapi juga di sejumlah mobil keluaran BMW dan Toyota.

Gurjit bukanlah korban pertama. Menurut catatan Associated Press, sebelum Gurjit, ada korban lainnya, seorang perempuan berusia 18 tahun bernama Ashley Parham. Kecelakaan yang menimpa Ashley terjadi di Midwest City, Oklahoma pada 27 Mei 2009. Ia mengendarai tipe mobil yang sama dengan Gurjit, Honda Accord tahun 2001.

Setelah kematian Ashley dan Gurjit, deretan nama dari seluruh dunia ikut menjadi korban. Tahun 2013, Hai Ming Xu yang mengendarai Acura TL tercatat menjadi korban ke-tiga. Saat polisi mendatangi lokasi kecelakaan mobil milik Hai Ming Xu di Alhambra, California pada bulan September 2013, mereka mengira pengendaranya tewas karena ditembak di wajah.

Hal serupa disimpulkan oleh polisi Orlando yang memeriksa sebuah kecelakaan setahun kemudian. Mereka meyakini, sang pengemudi, Hien Thi Tran, telah menjadi korban penusukan yang mungkin menyebabkan kecelakaan itu.

Padahal, yang membunuh keduanya adalah kantong udara yang dipasang di mobil dan ditujukan untuk melindungi mereka saat terjadi benturan. Hasil investigasi menyatakan kantong udara itu mengembang dengan kekuatan dahsyat, melemparkan kepingan logam dan melukai pengendaranya cukup parah.

Tahun 2014, setidaknya ada tiga korban; Law Suk Leh di Malaysia, Jewel Brangman di California, dan Hien Thi Tran di
Florida.



Takata Corp adalah perusahaan suku cadang otomotif berbasis di Jepang. Produk andalannya adalah kantong udara dan sabuk pengaman. Di Eropa, kantor pusat Takata berlokasi di Jerman. Di negara itu, ia memiliki sembilan fasilitas produksi.

Pada mulanya, Takata adalah perusahaan produsen tekstil. Ia sudah berdiri sejak 1933. Barulah pada 1950-an, Takata mulai mengembangkan sabuk pengaman untuk mobil. Sukses memproduksi sabuk pengaman, perusahaan mulai merambah ke produksi kantong udara, tempat duduk anak, dan beberapa item keamanan tambahan. Ia memiliki 46 pabrik yang tersebar di 17 negara. Misinya untuk mengurangi korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas.

Rentetan kematian akibat kantong udara yang dimulai sejak 2009 tampak menjadi sebuah paradoks dari misi yang diusung. Kantong udara yang seharusnya menyelamatkan nyawa penumpang saat terjadi kecelakaan, malah memperparah keadaan dan menjadi pemicu kematian.

Serangkaian kecelakaan itu membuat Takata menghadapi berbagai gugatan di pengadilan. Tak hanya dari konsumen, tetapi juga dari para produsen mobil yang menjadi mitranya. Lebih dari 100 juta unit mobil di yang menggunakan airbag Takata terpaksa harus di-recall. Itu adalah penarikan mobil terbesar dalam sejarah.

Sampai Desember tahun lalu, produsen mobil yang terkena dampak penarikan unit ini antara lain; Acura, Audi, BMW, Cadillac, Chevrolet, Chrysler, Daimler Trucks North America, Daimler Vans USA LLC, Dodge/Ram, Ferrari, Fisker, Ford, GMC, Honda, Infiniti, Jaguar, Jeep, Land Rover, Lexus, Lincoln, Mazda, McLaren, Mercedes-Benz, Mercury, Mitsubishi, Nissan, Pontiac, Saab, Saturn, Scion, Subaru, Tesla, Toyota, dan Volkswagen

Secara sadar dan tanpa mengumumkannya kepada publik, Takata menggunakan amonium nitrat, menggantikan tetrazol dalam kantong udaranya. Perseroan mengklaim bahwa penggunaan amonium nitrat bisa membuat kantong udara mengembang lebih cepat.

Beberapa sumber yang merupakan mantan karyawan Takata, mengklaim bahwa biaya merupakan faktor pendorong di balik peralihan. Takata dengan tegas menolak klaim ini, lalu pada akhirnya tetap menyatakan diri bersalah di persidangan.

Pada Januari tahun ini, Takata membayar denda senilai $1 miliar karena menyembunyikan cacat produk yang menyebabkan 17 kematian. Takata mengaku bersalah. Perseroan juga membayar denda $125 juta kepada konsumen yang terluka oleh kantong udara dan juga $850 juta untuk pembuat mobil yang menggunakan airbag keluaran Takata. Kondisi keuangan perusahaan makin kritis. Perdagangan saham Takata di Bursa Saham Tokyo juga telah dihentikan sejak akhir Juni lalu.

Menghadapi kesulitan keuangan yang berdampak pada membengkaknya utang, Takata Corp di Jepang memutuskan mengajukan permohonan pailit pada Senin (26/6). Keputusan itu diambil dalam rapat khusus dewan direksi dan komisaris. Betapa tidak, sampai Maret tahun ini, liabilitas perusahaan telah mencapai 397,8 miliar yen pada Maret tahun ini. Sementara nilai asetnya melorot dari 160 miliar yen lima tahun lalu, menjadi hanya 30 miliar yen.

Apa yang dialami Takata adalah contoh nyata bahwa aktivitas bisnis yang tak bertanggung jawab tak akan membawa perusahaan ke puncak kejayaan, tetapi sebaliknya, kebangkrutan.

Baca juga artikel terkait TAKATA atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight