Ahli SEO: Pengulangan Keyword dalam Konten Merusak Profil Situs

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 13 Maret 2019
Dibaca Normal 1 menit
Ahli SEO mengatakan pengulangan kata kunci pada konten belum tentu baik bagi sebuah situs, bisa jadi malah membuat bounce rate tinggi.
tirto.id - SEO head Greenpark Content, Reza Purnama Putra mengatakan pemilik situs perlu menghindari kebiasaan pengulangan kata kunci tertentu (keyword stuffing) agar konten muncul di halaman pertama mesin pencari Google.

Menurut Reza, kebiasaan pengulangan keyword justru dapat merusak profil situs lantaran memiliki perpindahan kunjungan (bounce rate) tinggi.

"Kalau Anda memiliki website pakai keyword stuffing atau density karena dikejar-kejar bos untuk traffic ya secara tidak langsung orang klik bounce rate-nya tinggi," ucap Reza dalam acara SEO Con di Jakarta pada Rabu (13/3/2019).

Pernyataan Reza membantah anggapan bahwa kelemahan pendekatan Search Engine Optimization
(SEO) dapat dieksploitasi dengan menduplikat kata kunci tertentu secara massal. Tujuanya untuk meningkatkan peluang munculnya konten tersebut di urutan teratas search engine result page (SERP) alias tampil di page one Google.

Namun di satu sisi, Reza membenarkan bila sedikit-banyak duplikasi kata kunci itu dapat "mengelabui" algoritma Google kendati belum tentu disambut baik pembaca.

Ia mencontohkan pengalamannya mendapati pencarian tentang obat kolestrol di internet justru mengarahkan pengguna ke situs tidak berkualitas. Seperti misalnya dalam sebuah situs yang ia temukan memuat penjelasan produk obat kolesterol dengan banyak pengulangan kata "kolesterol", tetapi minim informasi mengenai produk maupun penjual yang dapat dituju.

"Misal saya nemu situs obat kolestrol isinya amburadul. Buat engagament kliknya bisa 10.000 tapi yang bertahan satu," ucap Reza.


Pengulangan Kata Kunci Membuat Pembaca Tak Betah

Reza menyarankan agar pemilik situs bergerak pada pembuatan konten yang menurutnya wajar dan menjaga kualitas. Ketimbang membuat konten untuk SEO, ia memperingatkan bila sasaranannya harus ditujukan kepada pembaca.

Hal ini katanya berlaku terutama pada media online yang menurut pengalamannya pernah menerapkan praktik serupa di ruang redaksi. Namun, hasilnya justru membuat pembaca tidak "betah" selama kunjungan situs. Meskipun menaikkan traffic, katanya, lama pembaca menghabiskan waktu di situs (session) jauh terpuruk.

"Kalau itu bounch-nya tinggi. Goalnya apa? Malah dibuang (kontennya). Karena yang penting dia habis dari situs itu besok balik lagi. Jadi dia menikmati, user experience [pengalaman pengguna] di website itu," ucap Reza.

Sebagai orang yang pernah bekerja di media, Reza menegaskan bahwa fokus pada SEO memiliki batasan. Sebab dalam situs berita, tetap ada kaidah jurnalistik yang perlu diterapkan serta pentingnya kebiasaan membaca pembuat konten.


Konten SEO Dibuat Sealami Mungkin

Konten dengan pendekatan SEO, katanya, memang sepatutnya dibuat sealami mungkin sebagaimana tulisan dibuat untuk dibaca manusia. Hal ini menurutnya penting diperhatikan karena SEO sendiri bekerja berdasarkan preferensi manusia yang mencari konten bukan sebaliknya.

Karena itu ia lebih menyarankan tulisan-tulisan yang unik dan orisinil. Kalau perlu konten itu memang menyasar gap dari bahasan utama di mesin pencari. Meskipun demikian, dalam pemilihan judul dan kata-kata dalam paragraf pertama tetap mempertimbangkan kata kunci yang umum diperbincangkan masyarakat.

Salah satu bentuk penulisan konten dengan pendekatan yang dapat ditiru katanya bisa berupa artikel sekitar 500 kata, mendalam, dan memiliki pembawaan santai.

"Menulis itu narasi bagus. Judul dan isi relevan. Nulis senatural mungkin. Asal kode etik atau kaidah yang harus ditaati. Orang harus suka baca. Kalau gak pernah baca, nulisnya bisa nge-spam," ucap Reza, "Ini kan nulis bukan how to rank."


Baca juga artikel terkait SEO atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Agung DH