Menuju konten utama

Vegetarian yang Kian Populer

Menjadi vegetarian saat ini jelas bukan menjadi suatu pilihan yang akrab ditemui, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di belahan dunia lain. Namun, seiring dengan semakin terbukanya jendela informasi, baik itu melalui internet, maupun studi ilmiah, gaya hidup vegetarian semakin populer, sebab disinyalir memberikan manfaat yang luar biasa untuk tubuh manusia.

Vegetarian yang Kian Populer
Sejumlah aktivis vegetarian berkebaya melakukan parade makanan vegetarian pada peringatan hari Kartini di Graha Bina Praja Palembang, Sumatera Selatan. [Antara Foto/ Feny Selly]

tirto.id - Nafisah Wulandari, 27, adalah seorang manajer sebuah konsultan pariwisata di Eropa. Ia merupakan satu di antara segelintir orang di dunia yang dalam beberapa tahun terakhir telah mengadopsi gaya hidup vegetarian. Itupun, ia masih mengkategorikan dirinya sebagai seorang pescatarian – kelompok orang yang masih memakan ikan dan produk-produk laut – bukan seorang vegetarian total.

Baginya, menjadi seorang pescatarian adalah masalah ideologi, pilihan yang diambilnya karena beberapa prinsip yang ia pegang. Semua bermula ketika ia mengetahui bahwa ayam dan daging sapi yang ia makan sebelumnya diperlakukan dengan tidak memenuhi kaidah-kaidah kesejahteraan hewan ketika berada di peternakan.

"Dari tahun 2012 [saya] sudah baca-baca berbagai sumber. Awalnya lebih ke animal treatment, karena sapi dan ayam produksi massal, dan saya tidak suka dengan cara peternakan-peternakan memperlakukan hewan ternak," kata Wulan, panggilan akrabnya, kepada tirto.id.

"Awal-awal saya mau jadi pescatarian karena merasa tidak setuju dengan konsep peternakan massal. Saya melihat berbagai macam daging menjadi ‘geli,’ karena [di pikiran saya,] saya seperti memutar film sejarah daging-daging yang ada di piring itu seperti apa."

Wulan mengatakan, gaya hidup yang diadopsinya tersebut sudah ia mulai sejak tahun 2013 dan sejak memulai gaya hidup barunya, ia merasa memperoleh energi positif dalam hidupnya.

Tidak hanya semakin jarang jatuh sakit, tetapi gaya hidup itu mengubah pola pikirnya terhadap kehidupan kesehatannya secara menyeluruh. Ia menjadi lebih sering olahraga dan apa yang ia lakukan berdampak positif bagi lingkungan di sekitarnya.

"Karena saya memutuskan untuk jadi pescatarian, saya jadi lebih concern dengan kesehatan. Jadi sering berolahraga. [...] Saya juga tidak pernah berjerawat lagi," katanya.

"Saya tidak pernah sakit seperti flu, masuk angin, dan cepat capai. Segar terus."

Ketika ditanya apakah sulit menjadi seorang pescatarian, ia dengan tegas menjawab tidak. Sebab, kata dia, hal itu lama-lama sudah tertanam pada habitusnya sehingga terbiasa dengan situasi tersebut di mana pun dia berada.

"Saya bikin soto betawi misalnya, isinya jamur. Jadi seperti soto betawi jejamuran [nama sebuah restoran khusus masakan jamur di Yogyakarta], hahaha," kata wanita yang saat ini tinggal di Kopenhagen, Denmark, tersebut.

Tren Positif yang Menanjak

Masyarakat Pendukung Perlakuan Etis terhadap Hewan (PETA) – kelompok pembela hak-hak hewan terbesar di dunia – pada tahun 2016 ini gencar mengkampanyekan tahun ini sebagai tahun vegetarian. Mereka menggunakan hashtag#TheYearofVegan sebagai tombak dari kampanye mereka.

Di sisi lain, pencarian di internet melalui mesin pencari Google mengenai vegetarian dan veganism melonjak dengan sangat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan pengolahan data di Google Trends, pencarian kata kunci vegan di seluruh dunia dalam setahun terakhir melonjak hingga 32 persen.

Veganism - Diet menjadi kata kunci terkait paling populer selain vegan. Sementara itu, resep-resep masakan vegetarian juga menjadi satu dari sekian banyak pencairan yang dilakukan terkait kata kunci vegan.

Seperti dikutip dari laman situs resmi PETA, di Amerika Serikat, 36 persen orang lebih menyukai alternatif produk susu, dan sebanyak 41 persen orang AS mengurangi konsumsi daging mereka dalam 12 bulan terakhir di tahun 2015.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Hartman Group juga menemukan bahwa sebesar 12 persen generasi millenial mengatakan bahwa mereka akan menjadi vegetarian.

Di sisi lain, Harvard Medial School dalam laman Harvard Health Publications mencatat, jika dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi lebih banyak daging, para vegetarian cenderung mengonsumsi lebih sedikit lemak jenuh dan kolesterol, serta lebih banyak vitamin C dan E, serat makanan, asam folat, kalium, magnesium, dan phytochemical (bahan kimia tanaman), seperti karotenoid dan flavonoid.

Akibatnya, mereka cenderung memiliki total kolesterol dan LDL (kolesterol jahat) yang lebih rendah, tekanan darah yang menurun, dan indeks massa tubuh (BMI) yang lebih rendah, yang semuanya terkait dengan umur panjang dan mengurangi risiko untuk banyak penyakit kronis.

Meskipun belum ada data yang cukup mengenai bagaimana persisnya diet vegetarian mempengaruhi kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Namun, beberapa hasil riset menunjukkan bahwa pola hidup vegetarian mengurangi risiko cardiac events (seperti serangan jantung) dan kematian yang disebabkan oleh gagal jantung.

Salah satu studi terbesar yang pernah dilakukan dengan melibatkan 76,000 partisipan pada beberapa tahun yang lalu menunjukkan, secara rerata, vegetarian memiliki kemungkinan 25 persen lebih kecil meninggal akibat penyakit jantung.

Ratusan studi juga menunjukkan bahwa mengonsumsi buah dan sayuran lebih banyak dapat menurunkan risiko perkembangan beberapa jenis kanker. Namun dalam hal ini, vegetarian murni tidak semerta-merta lebih baik dibandingkan mereka yang juga mengonsumsi ikan atau produk unggas.

Dari berbagai analisis yang dikumpulkan dari Oxford Vegetarian Study dan EPIC-Oxford, mereka yang memakan ikan memiliki risiko terkena beberapa jenis kanker tertentu daripada mereka yang merupakan vegetarian murni. Berhenti memakan daging merah juga terbukti menghilangkan faktor risiko untuk kanker usus besar.

Penelitian juga menunjukkan bahwa diet yang didominasi oleh sayur-sayuran dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2. Dalam studi Seventh-day Adventists, risiko vegetarian terkena diabetes adalah setengah dari non-vegetarian, bahkan setelah mempertimbangkan faktor Body Mass Index (BMI).

Studi Kesehatan Perempuan berbasis di Harvard juga menemukan korelasi yang sama antara memakan daging merah (terutama daging olahan, seperti bacon dan hot dog) dan risiko diabetes, setelah disesuaikan dengan BMI, total asupan kalori, dan olahraga.

Meski tren vegetarian meningkat, tetapi masih banyak negara yang konsumsi sayurannya berada di bawah standar konsumsi sayuran dan buah yang direkomendasikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO), yaitu 73 kilogram/kapita/tahun.

Untuk konsumsi sayur, berdasarkan data dari FAO yang diolah oleh ASEAN DNA – sebuah situs yang dimiliki dan dikelola oleh Human Resources Institute, Universitas Thammasat dan dioperasikan oleh IBMP Klub, Thammasat Business School – Indonesia hanya mengonsumsi 33 kg sayur/kapita/tahun.

Selain Indonesia, negara-negara di Asia Tenggara sendiri, seperti, Filipina, Malaysia, Thailand juga masih berada di bawah standar tersebut, yaitu 64 kg, 55 kg, 52 kg/kapita/tahun secara berturut-turut.

Stigma Vegetarian

Di balik segala manfaatnya, masih terdapat pula stigma negatif yang melekat pada mereka yang memutuskan untuk menjadi vegetarian.

Wulan mengatakan bahwa teman-temannya di Indonesia sering menganggap bahwa orang yang memilih untuk menjadi vegetarian merupakan orang yang terlalu fokus menjaga penampilan dirinya, bukan karena memang pilihannya untuk memilih hidup yang lebih berkualitas.

“Teman-teman saya sendiri selalu menganggap kalau ada orang vegetarian atau vegan itu karena buat diet, biar tidak gendut, atau jaga badan. Kalau saya [berpikir] siapa yang peduli. Biasanya orang menjadi vegetarian atau vegan itu karena prinsip tadi, hak hewan atau lingkungan, atau kesehatan,” sebutnya.

Wulan sendiri mengaku tidak akan memaksakan pilihannya kepada orang lain, sembari menekankan bahwa hal itu merupakan hak setiap orang dalam hidupnya.

“Saya tidak mau memaksakan pola pikir saya ke orang lain. Tapi menurut saya, itu positif, dan kalau orang lain mau mencoba dan cocok untuk mereka, ya kenapa tidak?” katanya.

Ia mengakui, pola hidup vegan sering kali ditemukan pada negara-negara yang penduduknya secara rata-rata lebih sejahtera, sehingga pikiran untuk memenuhi kebutuhan primer sudah tidak lagi memenuhi pikiran mereka.

“[Mereka yang tinggal di Indonesia] mungkin lebih susah untuk terpikir kalau sapi sebenarnya adalah penyumbang terbesar emisi karbon atau hewan yang diperlakukan tidak adil,” sahutnya.

Sebagai catatan, menurut laporan The Guardian pada tahun 2015, industri ternak dunia menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih besar dari semua mobil, pesawat, kereta api dan kapal digabungkan. Namun, sebuah survei tingkat global oleh Ipsos MORI dalam laporannya menemukan bahwa terdapat dua kali lebih banyak orang yang berpikir jika transportasi merupakan penyumbang besar pemanasan global.

Jadi, dengan segala keuntungan yang didapat, apakah Anda tertarik menjadi seorang vegetarian?

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Ign. L. Adhi Bhaskara

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti