Menuju konten utama

Trump Desak Ukraina Harus Punya Presiden Baru Gantikan Zelenskiy

Desakan ini muncul sehari setelah kesepakatan pasokan bahan bakar diesel AS dengan Moskow yang langsung menuai kemarahan Zelenskiy.

Trump Desak Ukraina Harus Punya Presiden Baru Gantikan Zelenskiy
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy memegang telepon seluler yang ia gunakan untuk merekam dirinya sendiri saat ia berbicara di Kyiv, Ukraina, Senin (7/3/2022), dalam gambar yang diambil dari video. ANTARA FOTO/Ukrainian President Office/via Reuters TV/Handout via REUTERS/hp/cfo
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Amerika Serikat dan Ukraina kembali bersitegang setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menyerukan pergantian kepemimpinan di Kyiv.

Desakan ini muncul hanya sehari setelah Washington mengumumkan kesepakatan pasokan bahan bakar diesel dengan Moskow yang langsung menuai kemarahan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy.

Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Sabtu (10/10/2026), Trump menilai Zelenskiy telah bertindak merugikan pasokan energi global dan membebani warga Amerika.

“Saya pikir sudah saatnya Ukraina mendapatkan presiden baru," ujar Trump dikutip dari Reuters, Minggu (11/10/2026).

Pasalnya, Ukraina melakukan serangan militer terhadap kilang-kilang minyak Rusia yang dianggap Trump telah mengganggu stabilitas pasar diesel dunia serta merugikan para petani dan peternak AS.

Pernyataan keras tersebut dilontarkan Trump di tengah tekanan domestik yang dihadapinya. Lonjakan harga diesel global, yang dipicu oleh meletusnya perang Iran pada Februari lalu, telah menjadi beban politik bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu bulan depan, dimana kubu Demokrat berambisi merebut kendali Kongres.

Kemarahan Zelenskiy dan Korban Jiwa di Zaporizhzhia

Zelenskiy tidak tinggal diam menghadapi kebijakan kontroversial tersebut. Dalam kritiknya terhadap Gedung Putih sejauh ini, ia secara terbuka mengaitkan keputusan AS mencabut sanksi diesel Rusia dengan hantaman bom mematikan di negaranya.

Menurut Zelenskiy, langkah Washington tersebut telah memberikan angin segar bagi Moskow. Ia mengungkapkan bahwa pada hari yang sama, Rusia menjatuhkan lima bom luncur ke kawasan permukiman di kota Zaporizhzhia, menewaskan 20 orang termasuk tiga anak-anak.

Salah satu korban jiwa adalah seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang tewas saat blok apartemennya rata dengan tanah.

"Hari ini, Rusia mengucapkan terima kasih atas pencabutan sanksi ekspor diesel dengan cara menjatuhkan lima bom luncur ke gedung-gedung perumahan di Zaporizhzhia," kecam Zelenskiy.

Ia menyebut bahwa Moskow selalu membaca pelonggaran tekanan internasional sebagai lampu hijau untuk terus melumat kota-kota Ukraina.

Tragedi di Zaporizhzhia menambah daftar panjang penderitaan warga sipil setelah serangkaian serangan masif sepanjang pekan ini, termasuk pemboman di Kramatorsk dan Pryluky yang menewaskan hampir 80 orang dalam dua hari.

Diplomasi yang Terpecah dan Kecaman Domestik

Kebijakan perdagangan bahan bakar yang ditempuh Trump ini turut memicu kritik dari internal Partai Republik di Kongres. Perwakilan Don Bacon menilai bahwa Washington seharusnya memperketat sanksi yang baru saja disahkan, alih-alih melonggarkannya.

Sementara itu, para analis ekonomi meragukan kesepakatan tersebut mampu menurunkan harga bahan bakar secara signifikan mengingat kapasitas ekspor Rusia saat ini masih terganggu akibat perang.

Di sisi lain, pengumuman kesepakatan diesel ini mengejutkan delegasi Ukraina yang tengah merundingkan proposal perdamaian bersama pejabat AS dan Eropa di Miami.

Akibat dinamika ini, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa pemulihan dialog damai secara langsung masih sulit terwujud dalam waktu dekat, di tengah rencana kunjungan utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Moskow dalam dua pekan mendatang.

Menutup keterangannya, Trump kembali melancarkan ultimatum kepada Ukraina agar menghentikan seluruh operasi militer yang menyasar fasilitas energi Rusia.

"Saya katakan kepadanya, 'Lakukan apa pun yang Anda mau. Jangan serang kilang minyak. Ada banyak target lain,' dan dia tetap melakukannya dan menyerang," tegas Trump.

"Saya menyarankan agar mereka mendapatkan pemimpin baru yang bisa menghasilkan kesepakatan, karena dia sebenarnya bisa membuat banyak kesepakatan, namun entah mengapa dia tidak pernah melakukannya.”

Baca juga artikel terkait DONALD TRUMP atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto