Menuju konten utama
Horizon

Suharti, Perintis Ayam Goreng yang Membangun Merek Sendiri

Berawal dari berjualan ayam goreng dengan sepeda, Suharti membangun restoran dan memperjuangkan mereknya sendiri setelah berpisah dari suami.

Suharti, Perintis Ayam Goreng yang Membangun Merek Sendiri
Ayam Goreng Suharti. Instagram/ayamgorengsuhartiofficial
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - "Untung Mas, oli tersebut saya campur dengan jelantah sehingga masih bisa matang dan bisa terjual. Saya memang curiga kalau oli, karena setiap saya masukkan ke wajan asapnya menggumpal hitam," kata Suharti sambil tertawa panjang.

Seperti dikutip Kompas edisi 9 Mei 1994, pengalaman itu terjadi ketika Suharti membeli minyak goreng untuk memasak ayam dagangannya. Di depan toko, ia keliru mengambil jeriken yang sama bentuknya dengan jeriken minyak goreng milik penjual. Tanpa memeriksa lebih jauh, ia membawa pulang jeriken berisi oli tersebut.

Kisah itu menjadi salah satu pengalaman Suharti ketika merintis usaha ayam goreng. Ia memulai dagangannya dengan berkeliling menggunakan sepeda, kemudian membangun jaringan rumah makan bersama suaminya sebelum mengembangkan usaha sendiri.

Pada 30 Oktober 2026, pendiri jaringan rumah makan Ayam Goreng Suharti itu meninggal dunia dalam usia 86 tahun. Sebelum wafat, ia sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Dari Warisan Mbok Berek hingga Berjualan dengan Sepeda

Suharti lahir di Candisari, Sleman. Ia hanya menyelesaikan pendidikan hingga tingkat sekolah dasar. Dalam buku Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi (1991:786), ketika berusia 10 hingga 12 tahun, Suharti sudah banyak dilamar orang.

Suharti berasal dari keluarga Mbok Berek yang tradisi kulinernya berkembang sejak masa sebelum Perang Dunia II. Mbok Berek adalah julukan Nyi Kiyem, istri Ronodikromo. Pasangan itu memiliki enam anak, salah satunya Kardi Tanudimejo, ayah Suharti.

Menurut kisah keluarga yang dimuat Kedaulatan Rakyat edisi 5 September 1979, nama Mbok Berek berawal dari salah satu putranya bernama Ronopawiro yang masa kecilnya kerap menangis dan berteriak dengan suara serak seperti "berek-berek". Julukan itu kemudian membuat Nyi Kiyem lebih dikenal sebagai Mbok Berek.

Masih menurut koran tersebut, suami Mbok Berek pernah mendapatkan "bisikan" dari seorang bangsawan Jawa: "Jika kaki/nini ingin hidup bahagia, tentram, berjualanlah daging ayam goreng."

Keluarga itu kemudian mulai menjual sekitar lima hingga sepuluh ekor ayam setiap hari. Tradisi ayam goreng keluarga Mbok Berek lalu berkembang di kawasan Kalasan. Sejumlah anggota keluarga dan orang yang pernah bekerja dalam usaha tersebut turut merintis usaha ayam goreng sendiri. Suharti termasuk salah satunya. Ia belajar memasak di rumah makan milik kakak perempuannya, Mbok Mangundimedjo, di Candisari.

Di tempat itu, ia bekerja sebagai juru masak selama sekitar empat tahun. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal Suharti sebelum mulai menjual ayam goreng sendiri.

Warsa 1960, Suharti mulai menjajakan ayam goreng sendiri. Ia berkeliling mengantarkan dagangan ke pelanggan.

"Setiap subuh ia mengayuh sepeda membonceng sekerenjang ayam goreng berisi 15 sampai 20 ekor, disetor ke beberapa toko dan pasar Yogya,” tulis Tempo dalam artikel "Berkat Resep Bumbu si Mbok", 19 Februari 1983.

Pada 1961, Suharti menikah dengan Sachlan Prato Hardjono, seorang pegawai di lingkungan Pemda Yogyakarta. Pernikahan ini merupakan pernikahan kedua Suharti. Dari pernikahan sebelumnya, ia telah memiliki tiga anak.

Setelah menikah, Sachlan ikut membantu mengembangkan usaha ayam goreng tersebut. Suharti menangani pengolahan dan penjualan, sedangkan suaminya membantu membeli ayam di pasar sepulang bekerja. Keduanya membagi pekerjaan agar dagangan dapat disiapkan setiap hari.

Jumlah pelanggan mereka terus bertambah hingga penjualan menjangkau Klaten dan Solo. Untuk mempercepat distribusi, Suharti dan Sachlan mengganti sepeda tua dengan skuter Vespa bekas. Kendaraan itu membantu mereka membawa dagangan ke lebih banyak tempat.

Mengembangkan Jaringan Rumah Makan

Penjualan ayam goreng yang terus berkembang mendorong Suharti dan Sachlan untuk memiliki rumah makan sendiri. Keinginan itu juga muncul setelah mereka mencoba menawarkan kerja sama kepada keluarga pengusaha ayam goreng Mbok Berek lainnya. Dalam wawancara dengan Tempo pada 14 Juni 1986, Sachlan mengatakan tawaran mereka malah mendapat ejekan.

Suatu hari, ketika beristirahat di tempat teduh dekat Bandara Adisucipto, Sachlan mengutarakan keinginannya untuk membeli lahan di kawasan tersebut dan mendirikan rumah makan. Sejak 1968, Suharti dan Sachlan mulai menabung 1.000 rupiah setiap hari untuk mewujudkan rencana mereka.

Saat itu, Sachlan masih bekerja di kantor, sedangkan Suharti memasak dan menjajakan ayam kepada pelanggan. Pada 1972, tabungan mereka mencapai 800.000 rupiah. Uang itu digunakan untuk membeli tanah seluas 800 meter persegi di dekat bandara dengan harga 200.000 rupiah. Di lahan tersebut, keduanya kemudian membangun rumah makan.

Rumah makan itu mula-mula menggunakan nama Mbok Berek Asli. Ruang makannya dihiasi ukiran dan lampu hias, serta dilengkapi halaman parkir untuk memudahkan pelanggan. Seiring waktu, mereka menggunakan nama Suharti sebagai identitas restoran.

"Saya tidak mau memakai nama Mbok Berek, karena langganan saya sudah banyak dan kenal nama saya. Saya beri nama Rumah Makan Ayam Goreng Suharti," katanya kepada Kompas, 9 Mei 1994.

Suharti dan Sachlan membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk mengembangkan racikan ayam goreng sendiri agar berbeda dari resep keluarga Mbok Berek. Suharti ikut mengawasi mutu masakan di rumah makannya. Buku Kiat Sukses Wanita Indonesia (1997:280) mencatat bahwa ia kerap memeriksa dapur dan mencicipi masakan para juru masak. Ia juga mengunjungi cabang di luar Yogyakarta setiap satu atau dua pekan.

Di luar kegiatan usaha, Suharti juga menjalankan kebiasaan spiritual. Dalam buku yang sama, ia disebut rutin menunaikan salat tahajud dan mengaitkan kecukupan hidup keluarganya dengan laku, salat, serta tirakat.

Haji Tumiji, salah seorang pekerja yang bergabung pada 1974, mengenang masa awal rumah makan ketika listrik belum tersedia dan restoran masih menggunakan lampu petromak. Tumiji mampu menyekolahkan keempat putrinya hingga perguruan tinggi dari penghasilannya.

Dalam laporan Tempo terbitan 19 Februari 1983, dari bisnis ayam goreng, Suharti memiliki enam mobil, tiga di antaranya sedan. Sebagai anggota Ikatan Wanita Pengusaha (IWAPI) Yogyakarta, Suharti pernah berkunjung ke Amsterdam dan bertemu Ratu Juliana. Sementara itu, Sachlan pernah berkeliling Asia untuk mempelajari pengelolaan restoran. Ia juga memiliki sekitar 15 burung perkutut yang beberapa di antaranya bernilai jutaan rupiah.

Pada Idulfitri 1986, Suharti dan Sachlan membuka rumah makan di Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta. Cabang tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam perluasan usaha mereka ke luar Yogyakarta. Merujuk laporan Tempo terbitan 14 Juni 1986, investasi pembangunannya diperkirakan lebih dari 500 juta rupiah. Bangunannya seluas sekitar 300 meter persegi, dengan 50 meja makan yang masing-masing dilengkapi empat kursi. Pembukaan restoran lainnya kemudian menyusul di Bandung, Semarang, dan Surakarta.

Selain rumah makan, Suharti dan Sachlan juga merintis usaha pemondokan bagi pelajar dan mahasiswi di Yogyakarta sejak pertengahan 1970-an. Usaha itu berkembang hingga memiliki puluhan kamar di beberapa lokasi. Mereka juga pernah merencanakan pembangunan hotel di atas lahan seluas 10.000 meter persegi dekat kompleks rumah makan.

Pecah Kongsi dan Membangun Kembali Nama Suharti

Setelah hampir tiga dekade membangun rumah tangga dan usaha bersama, Suharti dan Sachlan akhirnya bercerai. Ketika menjelaskan perpisahannya, Suharti menggunakan ungkapan Jawa gawatnya lelakon. Ia menyebut adanya godaan nafsu laken bagi laki-laki atau lelaken bagi perempuan.

Perselisihan mereka turut menyangkut pengelolaan rumah makan yang selama ini dikembangkan bersama. Tempo edisi 25 Januari 1992 mencatat bahwa jaringan restoran tersebut berada dalam penguasaan Sachlan. Nama Suharti tetap dipertahankan sebagai identitas restoran, tetapi foto dan lukisannya diturunkan dari dinding rumah makan.

"Tidak pernah terpikir oleh saya, akan begini jadinya," ujar Suharti.

Suharti menyebut kehadiran orang ketiga dan kesibukan Sachlan mengurus rumah makan di Jakarta sebagai penyebab keretakan rumah tangga mereka. Sachlan memberikan penjelasan berbeda mengenai hubungan mereka dan awal usaha ayam goreng tersebut. Ia juga membantah bahwa penggunaan nama Suharti pada rumah makan menunjukkan kepemilikan usaha oleh istrinya. Sachlan beralasan bahwa Suharti hanyalah sebuah nama yang juga dimiliki banyak orang.

Pada Oktober 1991, di tengah keretakan hubungan itu, Suharti membuka rumah makan di Semarang. Menurut laporan Tempo edisi 25 Januari 1992, rumah makan tersebut menggunakan nama Ayam Goreng Ny. Suharti dengan logo dua ekor ayam, huruf S, dan tulisan Ny. Suharti. Logo itu kemudian ditambah potret dirinya dalam busana Jawa. Suharti menegaskan, "Ini usaha saya sendiri, tanpa campur tangan Sachlan."

Dalam perkembangan berikutnya, Suharti kembali menggunakan nama Ayam Goreng Suharti tanpa tambahan "Ny.". Nama tersebut telah ia pilih sejak 1972 untuk membedakan rumah makannya dari Mbok Berek. Sementara itu, masih menurut Tempo (25 Januari 1992), Sachlan tetap menggunakan nama Ayam Goreng Ny. Suharti dengan logo dua ekor ayam dan huruf S.

Kepada Kompas edisi 9 Mei 1994, Suharti mengungkapkan bahwa ia akhirnya menerima kemungkinan hidup tanpa bergantung pada suaminya. "Hidup melimpah rasanya tak ada artinya. Tetapi sekarang sudah saya pupus, jika memang perlu tanpa suami pun saya bisa hidup. Di manapun, tanpa apapun aku bisa hidup, pengertian itu yang akhirnya kembali saya pegang."

Baca juga artikel terkait OBITUARI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi