Serie A

Sejarah Rasisme Liga Italia: Dulu Fabio Liverani Kini Moise Kean

Oleh: Iswara N Raditya - 4 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah rasisme di persepakbolaan Italia selalu saja berulang, dari Fabio Liverani, Mario Balotelli, dan kini Moise Kean.
tirto.id - Moise Kean menjadi sasaran rasisme oleh sekelompok suporter Cagliari saat turut mengantarkan kemenangan tandang Juventus dengan skor 0-2 dalam lanjutan Liga Italia Serie A di Sardegna Arena, Rabu (3/4/2019). Sejarah rasisme di sepakbola negeri Mussolini tampaknya terus berulang. Dulu, Fabio Liverani juga mengalami perlakuan serupa.

Kean adalah pesepakbola kelahiran Italia yang memiliki darah Pantai Gading. Striker belia berusia 19 tahun ini sebenarnya sedang naik daun berkat penampilan apiknya di Juventus. Bahkan, Kean langsung mencetak gol di laga debutnya bersama tim nasional Italia beberapa waktu lalu.

Namun, capaian itu bukan jaminan bagi Kean untuk lolos dari cibiran rasis sebagian orang Italia. Hal yang sama juga pernah dialami Fabio Liverani di masa lalu. Menjalani debut bersama Gli Azzurri pada 25 April 2001, Liverani sebenarnya mengukir sejarah sebagai pemain kulit hitam pertama di Timnas Italia.

Liverani lahir di Italia. Ayahnya orang Somalia. Pamor pemain kelahiran 29 April 1976 ini mulai naik usai memperkuat Perugia selama semusim dengan torehan 32 laga dan 3 gol pada 2000/2001.

Penampilan menawan Liverani membuat klub ibukota yang baru saja merengkuh scudetto Serie A kala itu, Lazio, kepincut dan lantas merekrutnya. Sang gelandang blasteran ini pun resmi memperkuat klub dari kota tempat ia dilahirkan, Roma.

Selama lima musim membela Lazio, Liverani kerap menuai tindakan rasisme dari suporter, tak peduli ia menjadi salah satu gelandang Biancoceleste paling penting saat itu, tak peduli ia berjibaku sepenuh hati di lapangan dengan jersey biru kebanggaan Italia.

Liverani masih mengenang masa-masa menyedihkan itu hingga kini. Menurutnya, “tradisi” rasisme di Italia, termasuk di ranah sepakbola, jangan sampai terus berlanjut hingga ke generasi berikutnya di masa depan.

“Di Italia, masalah rasisme sangat besar sehingga penting untuk menghormati warna [kulit] orang. Pesan itu selalu penting bagi anak-anak,” tandas Liverani kepada SkySports pada 2015 silam.


Keburukan yang Selalu Terulang

Masih ada pesepakbola kelahiran Italia lainnya yang pernah menerima perlakuan rasis, yakni Mario Balotelli. Sama seperti Kean dan Liverani, Super Mario juga termasuk anggota skuad tim nasional Azzurri.

Lahir di Palermo, Italia, dengan nama Mario Barwuah, ia berasal dari keluarga imigran Ghana. Tahun 1993, ketika berusia tiga tahun, Mario diberikan ke panti asuhan karena orangtuanya tidak sanggup menghidupinya. Ia kemudian diadopsi oleh keluarga Balotelli dan memperoleh nama belakangnya itu.

Semasa memperkuat klub-klub Serie A macam Inter Milan dan AC Milan, Balotelli tidak jarang menjadi sasaran rasisme meskipun sebenarnya ia adalah sosok striker tangguh yang dibutuhkan Italia, terlepas dari tabiat buruk yang kerap diperlihatkannya.

Dalam laga antara tuan rumah Juventus kontra Inter Milan pada April 2006, misalnya, sebagian tifosi La Vecchia Signora menyanyikan lagu-lagu bernuansa rasisme sepanjang pertandingan. Terlebih Super Mario mencetak satu gol yang membuyarkan kemenangan Juventus.

Sepanjang musim itu, Balotelli terus-menerus diserang cemooh rasis oleh suporter Juventus yang hadir di stadion, bahkan, dikutip dari AFP (17 Januari 2010), dalam pertandingan yang tidak melibatkan Inter Milan sekalipun. Akibatnya, Bianconeri dua kali dijatuhi denda dan penutupan sebagian sisi stadion.

Meskipun begitu, kecintaan Balotelli terhadap Italia teramat besar. “Saya orang Italia, saya merasa orang Italia, dan saya akan selamanya bermain dengan tim nasional Italia,” ucapnya suatu kali.


Kean, Liverani, serta Balotelli yang lahir dan pernah membela tim nasional Italia saja mendapat cacian rasis. Apalagi para pesepakbola yang berasal dari luar negeri itu. Cukup sering kasus rasial mewarnai perjalanan sejarah sepakbola Italia, termasuk di Serie A.

Antonio Zago, Samuel Eto'o, Sulley Muntari, Kevin-Prince Boateng, Antonio Rudiger, hingga yang terbaru Kalidou Koulibaly, telah mengalaminya. Tak hanya dari suporter, ungkapan berbau rasis terkadang justru datang dari sesama pesepakbola.

Tentu saja banyak pihak yang geram dengan kasus yang selalu berulang ini. Salah satunya adalah pelatih Juventus saatini, Massimiliano Allegri. “Jika tindakan biadab itu terjadi berulang-ulang di stadion, maka harus ada langkah tegas yang diambil,” tandasnya seperti dilansir Football-Tribe mengutip dari Daily Mail.

“Salah satunya dengan membatalkan laga, menangkap si pembuat onar, dan melarangnya hadir di stadion selama-lamanya. Pelaku rasis tak pantas mendapatkan hiburan seindah sepakbola, membersihkan stadion dari aroma rasis adalah keharusan!” imbuh pria asli Italia ini.

Kean, korban rasisme sepakbola Italia terkini, juga menunjukkan perlawanan usai membobol gawang Cagliari dengan selebrasinya di hadapan suporter tuan rumah. Di Instagram, Kean mengunggah foto perayaan golnya itu dengan membubuhkan catatan: “Cara terbaik untuk menanggapi rasisme.”



Baca juga artikel terkait LIGA ITALIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Mufti Sholih