Samuel Eto'o Pensiun Meninggalkan Kenangan tentang Mou & Guardiola

Infografik Samuel Etoo
Striker FC Barcelona, ​​Samuel Eto'o, mengacungkan jempolnya ketika ia berpose dengan pengagum sepak bola spesialnya tahun ini saat upacara di Istanbul, Turki, Senin malam, 27 Februari 2006. AP / Pencari Murad
Oleh: Renalto Setiawan - 16 September 2019
Dibaca Normal 4 menit
Samuel Eto'o memutuskan pensiun pada 8 September 2019. Perselisihannya dengan Guardiola dan kedekatannya dengan Mourinho menjadi salah satu kisah yang paling menarik.
tirto.id - Juli 2016, keadaan Turki morat-marit. Militer Turki, salah satu angkatan bersenjata terkuat di Eropa, melakukan kudeta untuk meruntuhkan pemerintahan Erdogan. Bom meledak hampir di setiap sudut kota. Gedung-gedung ambruk, orang-orang berlari berhamburan.

Dalam keadaan kaos tersebut, pemerintah Turki menganjurkan para warga asing untuk segera meninggalkan Turki, termasuk para pesepakbola impor yang mengepul uang di sana. Pesawat-pesawat pribadi mengudara, membawa bintang-bintang sepakbola itu pergi ke tempat-tempat aman.

Tapi, tidak demikian dengan seorang striker papan atas asal Kamerun yang kala itu tengah memperkuat Antalyaspor. Demi sebuah wawancara, ia justru membiarkan pesawat pribadi terbang meninggalkannya.

“Aku pikir pesawat pribadi yang menunggunya sudah pergi sekitar 15 menit sebelum wawancara rampung,” kenang Graham Hunter di ESPN. “Ia memilih tetap tinggal, berani mengambil risiko yang bisa membuatnya terperangkap di Antalya (Turki) hanya untuk menepati janjinya kepada kami.”

Wawancara tersebut dilakukan untuk pembuatan Take The Ball, Pass The Ball, film dokumenter tentang kejayaan Barcelona era Pep Guardiola yang digagas oleh Hunter. Nahasnya, hari di mana wawancara dilakukan adalah hari yang sama ketika kudeta militer Turki ditetapkan. Namun, sang striker bersikeras agar wawancara tetap berlangsung. Pembuat film pun sepakat.

Nama pesepakbola tersebut adalah Samuel Eto'o.

Ditempa Kehidupan Keras

John Fadugba, dalam salah satu tulisannya di FourFourTwo berjudul “Samuel Eto’o: The Lionheart Who Conquer Europe”, menilai bahwa nyali Eto’o sudah dibentuk sejak kanak.

Eto'o tumbuh di Douala, salah satu kota besar di Kamerun yang disebut Filippo Ricchi, jurnalis asal Italia, sebagai “kota dengan keputusasaan murni”. Di sana kekerasan dan kemiskinan hampir selalu berhasil menghantam jatuh visi untuk hidup secara ideal.

Keluarga Eto’o tak luput dari hantaman tersebut. Setelah ayahnya kehilangan pekerjaan sebagai akuntan, ibu Eto’o harus selalu bangun pukul tiga pagi untuk membeli ikan di pelabuhan, lalu kembali menjualnya di pusat kota agar dapur di rumah tetap ngebul.


Yang menarik, di tengah kehidupan serba sengsara, Eto’o kecil justru menyebut Douala sebagai “tempat yang menyenangkan.” Menurutnya, di mana pun dan kapan pun itu, hidup ideal hanya bisa muncul lewat kerja keras.

Maka, saat orang-orang yang berada di sekitarnya berpeluh keringat sekadar untuk makan seadanya, Eto’o juga menyetel mentok antusiasnya demi menjadi pesepakbola kelas dunia.

“Aku bisa jadi seperti sekarang karena tak pernah mengendorkan antusias, tanpa itu semua usahaku hanya akan membentur ketidakmungkinan,” kata Eto’o.

Sejatinya, kata antusias saja tidak cukup untuk menggambarkan kengototan pemain kelahiran 10 Maret 1981 tersebut. Sebab, sepanjang usahanya itu juga berkelindan kenekatan dan sikap keras kepala yang terkadang tanpa ampun.

“Ia adalah seorang pria yang pernah melarikan diri dari tur timnas Kamerun usia muda di Perancis, ketika berusia 11 tahun, dan bersembunyi selama tujuh bulan di flat kakak perempuannya... Ia melakukannya demi trial bersama klub sepakbola di seluruh Perancis, yang semuanya gagal total,” tulis Hunter.

Perpaduan antara nyali, konsistensi, dan keras kepala itulah yang mengantarkan Eto’o menjadi salah satu penyerang terbaik di dunia. Ia menghadapi kegagalan dengan cara sebaik dan sekuat-kuatnya. Dan hasilnya amat jelas menunjukkan: torehan gol dan prestasi Eto’o menjadi keniscayaan.

Selama hampir dua dekade menjadi pesepakbola profesional, Eto’o berhasil mencetak 426 gol untuk 10 klub berbeda. Dari Real Madrid, Barcelona, Chelsea, hingga Qatar SC. Di level timnas, dari total 124 gol yang ia torehkan, sebagian berperan besar terhadap keberhasilan Kamerun di Olimpiade 2000 serta di dua edisi Piala Afrika (2000 dan 2002).

Soal gelar, Eto’o juga tiada duanya. Ia adalah salah satu dari pemain-pemain langka di jagat sepak bola yang berhasil mengumpulkan tiga gelar bergengsi dalam dua musim berturut-turut dengan dua klub berbeda.

Trigelar pertama ia raih pada musim 2008-2009 bersama Barcelona. Yang kedua terjadi di musim berikutnya ketika ia bermain untuk Inter.

Ada satu hal lain yang juga membuat Eto'o spesial: ia menjadi salah satu dari sedikit pemain yang bisa membuat Pep Guardiola tampak seperti manusia biasa saja.

Perselisihan dengan Pep Guardiola

Ketika Pep menjadi pelatih Barcelona pada awal musim 2008-2009, ia berkomitmen untuk membuang “racun” yang bisa menghambat laju Barcelona. "Racun" di sini berarti para pemain bintang yang ia anggap telah kehilangan semangat seperti Ronaldinho, Deco, dan juga Eto’o.

Para pemain tersebut, dan juga beberapa pemain lain yang tidak mengeluarkan performa terbaik mereka, lantas dimasukkan ke daftar jual. Namun, Eto’o sama sekali tak peduli dengan rencana pelatih anyarnya itu.

Dalam Barca: The Making Great of The World, Hunter menulis bahwa Eto'o “membungkam mulut, berlatih layaknya darwis, mencetak 11 gol dalam 11 penampilan bersama klub dan negaranya dan [...] memperlihatkan standar tinggi soal kerja keras.”

Melihat hal tersebut, Pep akhirnya memilih mempertahankan Eto’o namun dengan sebuah peringatan: jika kembali mengganggu keharmonisan tim seperti sebelumnya, ia akan segera ditendang keluar. Eto’o menyepakatinya. Dan tidak hanya menunjukkan performa luar biasa, ia juga sekaligus mampu mendorong rekan-rekannya untuk mencetak sejarah.

Persoalannya kemudian, Eto’o adalah Eto’o. Ketika segalanya berjalan salah, ia tak tahan untuk diam.

Sebab itulah kenapa ia pernah nyaris adu pukul dengan Eidur Gudjhonsen ketika pemain asal Islandia itu tak mau mengumpan ke arahnya; ia sering memarahi rekan-rekannya ketika mereka lembek selama latihan; ia selalu ingin dimainkan setiap kali ia sehat; dan ia juga tak takut beradu argumen dengan sang pelatih.

Salah satu adu argumen paling panas antara Eto’o dan Pep terjadi di tempat latihan. Ketika itu, sang pelatih menginginkannya menjadi penyerang kanan demi memaksimalkan peran Messi. Pep lantas mengajarkan bagaimana Eto’o harus melakukan pergerakan di posisi barunya tersebut.

Namun, si pemain rupanya tak suka dengan cara pelatihnya dalam melakukan penjelasan.

“Guardiola menyuruhku untuk melakukan hal spesifik saat latihan, salah satu pergerakan yang tidak biasanya dilakukan oleh seorang penyerang. Aku menanggapinya biasa-biasa saja, tapi aku selalu berpikir layaknya seorang penyerang, dan aku melihat bahwa aku tidak akan bisa melakukan apa yang dia inginkan,” kata Eto’o, yang ditulis Guillem Belague dalam bukunya yang berjudul Pep Guardiola: Another Way of Winning.

“Aku berkata padanya kalau ia salah. Dia lantas mengusirku dari tempat latihan. Pada akhirnya, satu-satunya orang yang benar adalah aku. Guardiola tidak pernah bermain sebagai penyerang sedangkan aku adalah seorang penyerang.

Aku mendapatkan respek dari orang-orang di segala penjuru dunia sebagai seorang penyerang.”


Kendati kemudian
Eto’o menaati permintaan Pep hingga bahkan menjadi pahlawan kemenangan Barcelona atas Manchester United dalam laga final Liga Champions 2008-2009, sang pelatih kadung punya penilaiannya tersendiri.

Menurut Pep, Eto’o memang mau mengorbankan dirinya untuk kepentingan tim, tetapi, seperti penyerang kelas dunia pada umumnya, ia berpendapat bahwa ego anak buahnya itu sulit dibendung. Maka yang terjadi selanjutnya sudah bisa ditebak: Pep melego Eto’o ke Inter tanpa mengucapkan kata perpisahan.

Eto’o tak terima, tentu. Katanya: “Seperti Laporta dan Pep, banyak orang telah mengecewakanku.”

Dimanusiakan Jose Mourinho

Yang menarik, selama berada di Inter, Eto’o juga sering kali dimainkan sebagai penyerang kanan oleh Jose Mourinho. Bahkan dalam beberapa kesempatan, karena ia diplot untuk lebih banyak bertahan, rekan-rekannya di Inter tak jarang meledek Eto’o sebagai full-back kanan.

Lalu mengapa kemudian ia bersedia menerima peran tersebut dan tak pernah sekali pun berkata buruk mengenai Mourinho? Penyebabnya: Mourinho memperlakukan dirinya seperti manusia, tidak seperti Pep yang memandang pemain bak robot belaka.

Salah satu momen menyenangkan yang paling diingat Eto’o tentang Mourinho terjadi menjelang final Liga Champions 2009-2010. Kala itu, secara tak terduga Mourinho menyuruh Eto’o memberikan motivasi kepada rekan-rekannya.



“Mourinho melakukan sesuatu yang nyaris tak pernah dilakukan oleh pelatih manapun,” kata Eto’o, dilansir dari Sport Bible. “Setelah melakukan team-talk, ia mengatakan, ‘Sekarang Samuel akan mengatakan kepada kita semua bagaimana agar kita dapat memenangkan pertandingan.’”

Eto’o lantas memberikan wejangan hingga sempat membuat Julio Cesar, kiper Inter kala itu, meneteskan air mata.

“Menang atau tidak, kita akan berjuang mati-matian. Kita akan mati di atas lapangan untuk membawa gelar ke Milan atau kita akan mati tanpa membawa apa-apa!"

Inter pada akhirnya berhasil menjadi juara dengan mengalahkan Bayern Munchen 2-0. Dan di partai semifinal sebelumnya, Nerazzurri juga berhasil mengalahkan Blaugrana, yang secara tidak langsung menjadi tamparan telak dari Eto'o kepada Pep.

Beberapa waktu lalu, tepatnya 8 September 2019, Eto'o, yang telah berusia 38 tahun, memutuskan untuk mengakhiri karier sepak bolanya usai berpetualang selama hampir dua dekade sebagai pemain profesional. Ia, tentunya, akan dikenang sebagai salah satu striker paling berbakat yang pernah ada dalam sejarah.

Sementara sebagian lain mungkin bakal mengingat Eto'o sebagai seseorang yang pernah menyisihkan uang untuk membeli mobil-mobil bekas, lalu mengubahnya jadi taksi, agar saudara-saudaranya di Douala bisa mempunyai harapan untuk hidup secara ideal.

Adieu, Eto'o!

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA DUNIA atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight