Menuju konten utama

Nilai Tukar Rupiah ke Dolar AS dan IHSG Hari Ini Dibuka Melemah

Sesi pembukaan pagi menempatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan IHSG hari ini dalam posisi melemah. Simak penjelasannya.

Nilai Tukar Rupiah ke Dolar AS dan IHSG Hari Ini Dibuka Melemah
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (13/10/2026) turun 26 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.939 per dolar AS. IHSG juga melemah ke level 5.914,98 hari ini.

Pelemahan rupiah melanjutkan tren yang terjadi sehari sebelumnya, ketika rupiah ditutup melemah 14 poin atau 0,08 persen dari Rp17.899 menjadi Rp17.913 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian ekonomi global, terutama terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral AS dan perkembangan geopolitik internasional.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Kebijakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena suku bunga AS berpengaruh terhadap pergerakan modal internasional dan nilai tukar berbagai mata uang, termasuk rupiah.

Jika The Fed menaikkan suku bunga, aset keuangan berdenominasi dolar AS berpotensi menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi ini dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan mendorong pelemahan mata uang negara lain, khususnya apabila investor mengalihkan dana dari pasar negara berkembang ke aset-aset di AS.

“Pernyataan terbaru dari pejabat The Fed juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut,” ucap Ibrahim dikutip Antara (12/10/2026).

Salah satu pejabat yang menyampaikan pandangan mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan moneter adalah Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem. Ia menilai pengetatan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk membawa inflasi AS kembali ke target bank sentral sebesar 2 persen.

Pandangan serupa disampaikan Gubernur The Fed Christopher Waller, yang mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan dapat diperlukan untuk menurunkan inflasi lebih cepat apabila data ekonomi secara umum tetap sesuai dengan perkiraan.

Ibrahim mengatakan pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi AS yang dirilis sepanjang pekan tersebut. Data yang menjadi perhatian meliputi inflasi konsumen, inflasi produsen, dan penjualan ritel, serta pernyataan lanjutan dari sejumlah pejabat The Fed.

Selain faktor moneter, perkembangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina turut menjadi perhatian investor.

IHSG Dibuka di Posisi 5.914,98

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (13/10) pagi. IHSG dibuka melemah 21,17 poin atau 0,36 persen ke level 5.914,98.

Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 yang mengukur pergerakan 45 saham unggulan, dengan penurunan 1,80 poin atau 0,30 persen ke posisi 589,10. Kondisi tersebut terjadi setelah IHSG pada perdagangan Senin (12/10) ditutup melemah cukup tajam akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.

Pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya, IHSG turun 157,61 poin atau 2,59 persen ke level 6.936,15, sedangkan indeks LQ45 merosot 10,77 poin atau 1,79 persen ke posisi 690,90.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menjelaskan bahwa tekanan terhadap pasar saham Indonesia dipengaruhi oleh sejumlah sentimen negatif dari luar negeri maupun dalam negeri.

Dari sisi global, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik masih tinggi. Harga minyak mentah Brent bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan biaya energi dan produksi bagi berbagai sektor usaha, sekaligus memicu kekhawatiran terhadap inflasi.

"Sentimen negatif berasal dari ketidakpastian di global yang masih tinggi, harga minyak Brent yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel, kekhawatiran akan potensi capital outflow di pasar obligasi Indonesia, serta berbagai isu mengenai MSCI," ujar Ratna.

Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi karena perkembangan harga energi, inflasi, dan kebijakan ekonomi global dapat memengaruhi prospek perusahaan serta pergerakan pasar saham.

Selain harga minyak, investor juga mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat dan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury yield.

Tingkat imbal hasil obligasi AS menjadi salah satu pertimbangan investor global dalam menentukan penempatan modal. Apabila imbal hasil aset di AS dinilai lebih menarik, sebagian investor dapat mengalihkan dananya dari pasar negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih menguntungkan atau aman.

Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga The Fed juga dapat memengaruhi nilai tukar mata uang, biaya pendanaan, dan selera risiko investor. Kombinasi faktor tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar keuangan, termasuk pasar saham Indonesia.

Tekanan terhadap pasar juga berkaitan dengan kekhawatiran mengenai potensi capital outflow di pasar obligasi Indonesia dan berbagai isu yang berhubungan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Sentimen geopolitik turut memperburuk ketidakpastian pasar. Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah laporan mengenai serangan kelompok Houthi dari Yaman ke wilayah Arab Saudi, termasuk infrastruktur minyak Aramco dan Lapangan Terbang Internasional King Khalid di Riyadh.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah menjadi perhatian investor karena wilayah tersebut memiliki peran penting dalam pasokan energi dunia. Gangguan terhadap infrastruktur minyak atau meningkatnya risiko konflik dapat memicu kekhawatiran mengenai kelancaran pasokan minyak mentah, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan menambah tekanan inflasi global.

Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Insider
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar