tirto.id - Di tengah biaya BBM yang terus naik, pengusaha dan pemilik UMKM perlu mencari cara untuk menekan biaya operasional. Salah satu opsinya adalah menggunakan mobil listrik untuk angkut barang. Namun, apakah mobil listrik benar-benar cocok untuk menunjang operasional bisnis?
Biaya operasional memang menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhitungkan para pelaku usaha, terutama saat harga BBM meningkat dan kebutuhan distribusi barang juga semakin tinggi.
Di sinilah para pemilik usaha butuh kendaraan yang tepat untuk mendukung bisnisnya. Seiring dengan meningkatnya tren electric vehicle (EV) di Indonesia, mobil listrik pun mulai dilirik untuk dijadikan kendaraan niaga.
Menariknya, saat ini sudah banyak kendaraan listrik niaga yang dipasarkan di Tanah Air dan perkembangannya terus meningkat. Mengutip dari situs MarqStats, pasar kendaraan listrik komersial di Indonesia juga diproyeksikan tumbuh cukup pesat dalam beberapa tahun ke depan.
Nilai pasarnya meningkat dari $32,04 juta pada 2025 menjadi $273,12 juta pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 53,51%. Dari sisi volume, jumlah kendaraan listrik komersial juga diproyeksikan naik dari sekitar 195 unit pada 2025 menjadi 3.500 unit pada 2030.
Pertumbuhan ini pun dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti meningkatnya kebutuhan layanan logistik dan last-mile delivery, perkembangan e-commerce, semakin berkembangnya elektrifikasi kendaraan, hingga pembangunan infrastruktur pengisian daya.
Apakah Mobil Listrik Cocok untuk Angkut Barang?

Mobil listrik bisa jadi salah satu pilihan kendaraan untuk menunjang kegiatan bisnis, termasuk mengangkut barang. Namun, kecocokannya tetap bergantung pada jenis usaha, jarak pengiriman, kapasitas muatan, serta ketersediaan fasilitas pengisian daya.
Secara umum, berikut beberapa alasan kenapa mobil listrik cocok dijadikan kendaraan operasional untuk bisnis:
1. Biaya Operasional Berpotensi Lebih Hemat
Salah satu pertimbangan utama dalam memilih kendaraan untuk bisnis adalah biaya operasional. Kendaraan yang digunakan untuk mengantar barang setiap hari tentu akan membutuhkan energi dalam jumlah besar.EV menggunakan energi listrik sebagai sumber tenaga sehingga tidak membutuhkan bensin atau solar. Menurut situs Wuling, biaya energi per kilometer mobil listrik dapat lebih rendah dibandingkan mobil biasa. Potensi penghematannya bahkan disebut mencapai 50–70%.
2. Perawatan Kendaraan Lebih Sederhana
Selain biaya energi, pengeluaran untuk perawatan juga perlu diperhitungkan ketika kendaraan digunakan sebagai armada bisnis. Mobil dengan mesin pembakaran memiliki sejumlah komponen yang membutuhkan perawatan berkala, seperti oli mesin, busi, dan sistem pembuangan.Mobil listrik tidak menggunakan mesin pembakaran seperti kendaraan konvensional. Oleh karena itu, beberapa jenis perawatan yang berkaitan dengan mesin pembakaran tidak diperlukan.
3. Jarak Tempuh Dapat Menunjang Pengiriman Harian
Mobil listrik bisa menempuh jarak yang jauh sehingga cocok dijadikan kendaraan niaga. Namun, setiap jenis dan merek mobil memang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam hal jarak tempuh.Sebagai contoh, mobil niaga dari Wuling diklaim bisa menempuh jarak hingga 250–300 km, bahkan ada pula yang jarak tempuhnya mencapai 400 km dalam satu kali pengisian daya.
Kemampuan tersebut sudah sangat memadai untuk mendukung kebutuhan operasional harian, tapi jarak tempuh aktual tetap dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti beban muatan, kecepatan, hingga kondisi jalan.
4. Fast Charging Membantu Menjaga Produktivitas
Waktu pengisian daya juga menjadi faktor penting bagi kendaraan yang digunakan untuk distribusi. Kendaraan bisnis idealnya bisa digunakan kapan saja, bahkan setelah digunakan menempuh jarak jauh.Kabar baiknya, beberapa mobil listrik komersial telah dilengkapi fitur fast charging sehingga pengisian baterai berlangsung lebih cepat dibandingkan pengisian dengan metode standar. Hal ini membuat mobil listrik tetap ideal untuk kendaraan bisnis.
5. Kapasitas yang Cocok untuk Kebutuhan Bisnis
Mobil listrik untuk angkut barang umumnya didesain memiliki kabin, ruang kargo, atau bak yang memadai untuk operasional bisnis. Namun, kapasitas kendaraan tetap harus disesuaikan dengan jenis barang yang diangkut.Jangan hanya mempertimbangkan volume ruang kargo atau bak, tapi perhatikan juga daya angkut atau batas muatan kendaraan agar barang yang dibawa tidak melebihi kapasitas yang ditentukan.
6. Fleksibel untuk Berbagai Jenis Usaha
Sejumlah mobil listrik komersial juga fleksibel dan cocok untuk berbagai kebutuhan bisnis, mulai dari distribusi barang, mengantar paket, hingga dijadikan food truck. Bagi UMKM, fleksibilitas ini bisa dijadikan pertimbangan karena kendaraan operasional tidak selalu digunakan untuk satu jenis aktivitas saja.Panduan Memilih Mobil Listrik untuk Angkut Barang

Mobil listrik komersial umumnya akan digunakan untuk membawa banyak muatan dan beroperasi secara rutin sehingga spesifikasinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan usaha. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih mobil listrik untuk angkut barang:
1. Sesuaikan Kapasitas Muatan dengan Jenis Barang
Setiap bisnis memiliki kebutuhan berbeda sehingga hal pertama yang harus diperhatikan adalah jenis dan kapasitas muatan.Sebagai contoh, pengiriman paket dari toko online membutuhkan karakteristik mobil yang berbeda dengan mobil untuk distribusi alat berat atau barang berukuran besar. Namun, jangan hanya melihat seberapa luas ruang kargo yang tersedia, perhatikan juga batas berat muatan kendaraan.
2. Pilih Jenis Mobil Sesuai Kebutuhan
Selain kapasitas berat, jenis mobil maupun bentuk dan konfigurasi ruang kargo juga penting. Misalnya, kendaraan seperti blind van bisa dijadikan pilihan untuk bisnis yang membutuhkan ruang tertutup untuk membawa barang, misalnya pengantaran paket atau usaha katering.Sementara itu, mobil listrik dengan model pick up atau bak terbuka lebih cocok untuk mengangkut alat berat atau barang-barang yang besar.
3. Perhitungkan Jarak Tempuh Harian dan Kapasitas Baterai
Sebelum menentukan pilihan mobil listrik untuk angkut barang, hitung terlebih dahulu berapa jarak yang biasa ditempuh mobil setiap harinya.Misalnya, kendaraan digunakan untuk mengirim barang dari gudang ke beberapa pelanggan di dalam kota. Jarak total perjalanan dari gudang, seluruh titik pengiriman, hingga kembali ke lokasi usaha sebaiknya dihitung.
Di sisi lain, jarak tempuh berkaitan erat dengan kapasitas baterai. Semakin besar kapasitas baterai umumnya semakin besar pula energi yang dapat disimpan.
Yang tak kalah penting, jangan menjadikan angka jarak tempuh pada spesifikasi mobil sebagai patokan yang pasti akan selalu diperoleh dalam penggunaan sehari-hari. Jarak tempuh tetap akan dipengaruhi oleh beban muatan, kecepatan, kondisi lalu lintas, medan jalan, hingga gaya berkendara.
4. Cek Durasi dan Kemampuan Fast Charging
Waktu pengisian daya wajib jadi pertimbangan jika kendaraan digunakan dengan intensitas tinggi. Kendaraan yang dipakai untuk satu kali perjalanan dalam sehari pastinya memiliki kebutuhan berbeda dengan armada yang harus melakukan beberapa kali distribusi dalam sehari.Pengisian daya cepat atau fast charging jadi fitur yang wajib ada pada mobil listrik untuk angkut barang. Fitur ini bisa mempersingkat waktu pengisian daya baterai sehingga kendaraan dapat digunakan lagi lebih cepat.
5. Pastikan Infrastruktur Charging Mendukung Rute Operasional
Kendaraan dengan jarak tempuh panjang tetap membutuhkan akses pengisian daya. Oleh karena itu, ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di sekitar lokasi usaha dan sepanjang rute distribusi juga perlu diperhitungkan.Jika sebagian besar perjalanan dilakukan di dalam kota dan kendaraan dapat kembali ke gudang setiap hari, pengisian daya di lokasi usaha mungkin sudah cukup memadai. Namun, bisnis dengan rute antarkota atau perjalanan panjang perlu mempertimbangkan lokasi SPKLU di sepanjang perjalanan.
6. Cek Garansi Baterai
Baterai merupakan salah satu komponen penting sekaligus bernilai tinggi pada mobil listrik. Jadi, saat hendak membeli mobil listrik untuk angkut barang, pastikan dulu apakah produsen memberikan garansi pada komponen baterai.Perhatikan durasi dan cakupan garansi, termasuk ketentuan yang berlaku untuk kendaraan yang digunakan sebagai kendaraan komersial. Selain garansi, cek juga jaringan bengkel resmi, ketersediaan suku cadang, layanan bantuan darurat, serta kemudahan mendapatkan dukungan teknis.
Rekomendasi Mobil Listrik untuk Angkut Barang

Setelah mengetahui berbagai hal yang perlu dipertimbangkan, memilih mobil listrik untuk angkut barang sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan skala operasional bisnis. Berikut beberapa rekomendasi mobil listrik untuk angkut barang yang bisa dijadikan referensi:
1. Wuling Mitra EV
Wuling menghadirkan mobil listrik komersial yang tersedia dalam varian Blind Van dan MiniBus sehingga cocok untuk mengangkut barang. Kendaraan ini pun memiliki ruang kargo luas hingga 6,5 m3, lengkap dengan akses pintu yang praktis berupa dual sliding doors dan rear barn door.Mobil listrik ini bisa menghasilkan daya hingga 75 kW dan torsi 180 Nm. Tersedia dua pilihan baterai lithium iron phosphate (LFP), yakni 41,9 kWh pada Long Range dengan jarak tempuh hingga 300 km dan 56,2 kWh pada Premium Range dengan jarak tempuh hingga 400 km.
Mobil listrik Wuling ini juga sudah mendukung fast charging yang bisa mengisi daya baterai dari 30% hingga 80% dalam waktu sekitar 30 menit.
Harga Wuling Mitra EV:
- Mitra EV Blind Van Long Range: Rp328.000.000
- Mitra EV Blind Van Premium Range: Rp358.000.000
- Mitra EV MiniBus Long Range: Rp348.000.000
- Mitra EV MiniBus Premium Range: Rp378.000.000
2. Mitsubishi L100 EV
Mitsubishi L100 EV merupakan kendaraan niaga ringan berbentuk two-seater blind van. Mobil ini memiliki dimensi yang kompak sehingga mudah bermanuver di jalan sempit. Untuk membawa barang, L100 EV mampu mengangkut beban hingga 425 kg.Mobil listrik ini menggunakan baterai lithium-ion berkapasitas 20,1 kWh dengan jarak tempuh hingga 180 km. Pengisian normal membutuhkan waktu sekitar 7,5 jam, sedangkan fast charging dapat mengisi baterai hingga 80% dalam waktu sekitar 42 menit.
Harga Mitsubishi L100 EV: Rp323.300.000
3. DFSK Gelora E BlindVan
Rekomendasi berikutnya ada DFSK Gelora E BlindVan yang punya ruang kargo berkapasitas hingga 4,8 m3 serta daya angkut barang mencapai 1.100 kg. Kapasitas ini membuatnya cocok untuk membawa paket, barang dagangan, maupun kebutuhan lainnya dalam jumlah cukup banyak.Untuk performa, Gelora E menggunakan motor listrik dengan daya maksimum 60 kW dan torsi maksimum 200 Nm. Mobil listrik ini menggunakan baterai 42 kWh dengan jarak tempuh hingga 300 km. Gelora E juga menyediakan quick charging dengan pengisian 20–80% sekitar 80 menit.
Harga DFSK Gelora E BlindVan: Rp360.000.000

4. Farizon V8E Cargo Van
Farizon V8E Cargo Van juga cocok dijadikan mobil untuk angkut barang karena memiliki ruang kargo yang luas. Mobil ini dibekali motor listrik 90 kW dan baterai 65 kWh yang mampu menempuh jarak hingga 428 km, cukup untuk menunjang operasional dengan rute pengiriman yang panjang.Farizon V8E mendukung fast charging 100 kW. Farizon juga menyediakan panel instrumen digital yang menampilkan informasi seperti kapasitas baterai dan estimasi jarak tempuh, sementara kamera mundur HD yang berguna untuk manuver dan bongkar-muat di area terbatas.
Harga Farizon V8E Cargo Van: Rp425.000.000
5. Farizon F3E Super Cargo
Farizon F3E Super Cargo merupakan truk listrik ringan yang dibekali berbagai fitur modern di dalam kabinnya untuk menunjang produktivitas. Mobil ini dilengkapi baterai LFP berkapasitas 72,82 kWh yang diklaim mampu menghasilkan jarak tempuh hingga 430 km dalam sekali pengisian.Baterai tersebut juga didukung sistem fast charging 100 kW sehingga cocok dijadikan mobil operasional bisnis. Dari sisi daya angkut, F3E Super Cargo memiliki kapasitas angkut mencapai 2 ton dan dapat digunakan dengan konfigurasi bak maupun boks hingga 12 m3.
Harga Farizon F3E Super Cargo: Rp475.000.000
6. Foton e-Truckmate
Foton eTRUCKMATE merupakan kendaraan niaga listrik yang ditawarkan dalam beberapa konfigurasi, yaitu cargo box, pick-up, dan blind van, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan distribusi barang.Kendaraan ini menggunakan motor listrik dengan daya puncak 60 kW dan torsi maksimum 220 Nm. Foton juga membekalinya dengan baterai lithium-ion phosphate 38,64 kWh dengan jarak tempuh 220–250 km. Baterai ini pun sudah dilengkapi dengan perlindungan IP68 sehingga lebih tahan air.
Untuk pengisian daya, baterai mobil listrik ini bisa diisi dari 20–80% dalam waktu 30 menit (DC) atau 4 jam (AC), sedangkan pengisian 0–100% membutuhkan waktu sekitar 1 jam (DC) dan 6 jam (AC).
Harga Foton e-Truckmate: Rp385.000.000
Rekomendasi Wall Charger Mobil Listrik

Wall charger bisa membantu pemilik mobil listrik mengisi daya kendaraan dengan lebih praktis. Setiap produk menawarkan spesifikasi dan fitur yang berbeda, mulai dari daya pengisian, jenis konektor, hingga fitur keamanan dan konektivitas. Berikut beberapa rekomendasi wall charger mobil listrik:
1. Raceway Wall Charger 7,4 kW
Raceway Wall Charger merupakan perangkat pengisian kendaraan listrik di rumah dengan output AC hingga 7,4 kW dan dilengkapi kabel charger Type 2 sepanjang 10 meter. Wall charger ini dilengkapi layar LCD 3,4 inci untuk memantau arus, daya, dan status pengisian.Pengguna juga dapat mengontrol perangkat melalui aplikasi ponsel, termasuk mengatur jadwal charging dan memantau konsumsi listrik. Tersedia akses dengan dua kartu RFID, produk ini dibanderol harga Rp10–11 juta.
2. SPC WLE112-AC7KW
SPC WLE112-AC7KW merupakan wall charger AC 7 kW yang dapat digunakan untuk meng-charge mobil listrik di rumah. Konektornya menggunakan Type 2 (IEC 62196) dengan panjang kabel 4,5 meter.Untuk kemudahan pengoperasian, charger yang sudah dilengkapi layar touchscreen ini menyediakan beberapa mode pengisian, yaitu Plug & Charge, kartu RFID, serta lewat aplikasi. Dengan pemasangan wall-mounted, charger ini bisa dibeli di harga Rp4–5 juta.
3. OTOHEROES Smart EV Charger Type 2 - PG01
Charger mobil listrik ini cocok digunakan di rumah, kantor, maupun lokasi lainnya dengan dukungan tiga pilihan daya, yaitu 7 kW (32A 1-phase), 11 kW (16A 3-phase), dan 22 kW (32A 3-phase). Produk ini memiliki charging head dengan ketahanan air IP65 dan dilengkapi kabel 4,5 meter.Menggunakan konektor Type 2, proses charging dapat dipantau dan diatur melalui smart app di smartphone. Perangkat juga dilengkapi perlindungan terhadap overvoltage, overcurrent, overheating, short circuit, dan fitur auto turn off. Charger ini bisa dibeli di harga Rp4–5 juta.
4. EcoVolt Premium AC Wallbox EV Charger
EcoVolt Premium AC Wallbox EV Charger hadir dengan tiga pilihan output, yaitu 7 kW, 11 kW, dan 22 kW yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mobil dan kapasitas listrik di rumah. Charger ini menggunakan konektor Type 2 dengan kabel sepanjang 5 meter.Perangkat juga sudah dilengkapi layar LCD serta indikator LED untuk memantau dan mengatur proses pengisian, termasuk pengaturan arus dan waktu, dengan akses tambahan melalui RFID. Sudah memiliki rating IP65, perangkat charger ini dibanderol harga RP5–6 juta (7 kW).
5. Lenodi Smart EV Charger Type 2 - 7 kW
Smart EV Charger ini mendukung output 7 kW dengan konektor Type 2 yang umum digunakan pada berbagai mobil listrik, termasuk sejumlah model BYD hingga Hyundai. Sementara pengoperasian dan pemantauan charging dapat dilakukan secara praktis melalui aplikasi smartphone.Selain lewat aplikasi, tersedia 3 kartu RFID untuk membatasi akses penggunaan. Perangkat ini dilengkapi layar LCD untuk memudahkan pemantauan serta perlindungan terhadap overvoltage, overcurrent, overheating, dan short circuit. Produk ini bisa dibeli di harga Rp2–3 juta.
Temukan berbagai tips, rekomendasi, info spesifikasi, hingga berita terkini seputar dunia otomotif melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id




























