Menteri Darmin: Biodiesel 20 Bisa Hemat Devisa Rp 15 Triliun

Oleh: Alexander Haryanto - 1 September 2018
Pemerintah telah menerapkan mandatori B20 mulai Sabtu, 1 September 2018 untuk semua sektor.
tirto.id - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, penerapan biodiesel 20 atau B20 ini bisa menghemat devisa negara sebanyak Rp 15,8 triliun. Pemerintah telah menerapkan mandatori B20 mulai Sabtu, 1 September 2018 untuk semua sektor.

Darmin berpendapat, kebijakan tersebut bisa cepat memberikan dampak untuk negara, terutama untuk penyelamatan devisa negara. Pasalnya, 80 persen solar akan dicampur dengan 20 persen minyak crude palm oil (CPO).

“Berdasar hitungan Kementerian ESDM jika kebijakan berlaku efektif per 1 September nanti, maka penghematan yang bisa didapat negara untuk sementara adalah 1,1 miliar dolar AS atau Rp15,8 triliun,” ungkap Darmin, seperti dikutip Setkab.go.id.

Untuk diketahui, pemerintah telah menerapkan kebijakan Biodiesel 20 pada Sabtu (1/9/2018). Penggunaan B20 tidak hanya digunakan untuk public service obligation (PSO) namun juga non PSO meliputi alat berat hingga untuk keperluan industri.

Pada kemarin Jumat (31/8), pemerintah telah melakukan uji coba pengisian truk dan bus dengan bahan bakar yang sudah mengandung B20 dari sebuah truk tangki milik Pertamina.

Nantinya, semua penjualan solar di SPBU-SPBU akan diganti dengan Biodiesel 20 yang merupakan campuran bahan bakar nabati (minyak sawit) sebanyak 20 persen dengan bahan bakar minyak (BBM) solar.

Sementara itu, Menteri BUMN, Rini Soemarno juga menyatakan penerapan Biodiesel 20 juga dapat mengurangi impor BBM di dalam negeri.

"Sekarang ternyata sudah ada alat yang bisa merombak untuk memanfaatkan 100 persen CPO. Kami sedang coba, sedang usulkan, semoga dapat diterima untuk kita mengkonversi sekitar 1.000 megawatt (pembangkit listrik)," kata dia.

Menurut Rini, hal itu akan menjadi rencana jangka menengah panjang pemerintah yang dapat menghemat devisa sampai dengan 1 miliar dolar AS.



Baca juga artikel terkait BBM atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Alexander Haryanto