Menjadi Narsisis Lewat Kaus

Rihanna menggunakan kaus bertuliskan “School Kills”. NCP/Star Max
Oleh: Patresia Kirnandita - 26 Maret 2017
Dibaca Normal 3 menit

Sejak lebih dari tiga dekade silam, kaus telah menjadi bagian dari budaya populer yang dimanfaatkan untuk menunjukkan sebuah identitas. Namun, apa jadinya bila kaus disulap menjadi wadah pemuas hasrat narsisistik seseorang?

tirto.id - Banyak cara dilakukan orang untuk menunjukkan identitas. Salah satu yang paling kerap dipilih adalah menggunakan kaus yang bertuliskan pernyataan-pernyataan atau gambar tertentu. Konten yang dimuat dalam kaus dapat bervariasi, mulai dari kegemaran terhadap grup musik tertentu, binatang, gagasan individual, sampai afiliasi dengan suatu kelompok.

Belakangan, di media sosial berkembang tren kaus bertuliskan kata-kata seperti “Queens are born in June” atau nama bulan lainnya. Kaus-kaus ini pun dijual secara online di aneka toko kaus dan Amazon. Tidak hanya di luar negeri, ‘wabah’ statement shirt bertuliskan senada pun menjamah Indonesia dan merangkul pembeli-pembeli laki-laki dengan pernyataan “Semua pria diciptakan setara, tapi yang terbaik lahir di Juni”.

Tentu saja pernyataan-pernyataan dalam kaus semacam ini bukan kali pertama ditemukan dalam industri budaya populer yang menyasar anak-anak muda pada umumnya. Pada 2015 silam, Rihanna sempat tertangkap kamera menggunakan kaus bertuliskan “School Kills” rancangan desainer Korea Hyein Seo.

Dilansir situs Fashionista, Rihanna menggunakan kaus ini saat menghadiri Paris Fashion Week, MTV Movie Awards, dan dalam turnya dengan Eminem. Menariknya, pada Februari 2017 lalu, Harvard Gazette mewartakan penyanyi kelahiran Barbados 29 tahun silam itu dianugerahi penghargaan dari kampus papan atas di AS tersebut atas jasa amalnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

Sederet pesohor Hollywood lainnya pun tak luput mempromosikan tren statement shirt ini. Terkadang, tulisan yang dibuat pun terkait dengan isu yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat. Katy Perry misalnya, sempat terlihat mengenakan kaus bertuliskan “nasty woman” selepas Donald Trump menyebut Hillary Clinton demikian pada debat presidensial terakhir, sebagaimana dicatat dalam situs Glamour.

Reaksi terhadap presiden AS sekarang pun juga tampak saat aktris Kathreen Khavari mengenakan dress bertuliskan “My Iranian immigrant mother teaches your kids how to read” pada pemutaran perdana serial TV Big Little Lies di TCL Chinese Theatre.

Sementara, model dan pemeran Enchantress dalam film Suicide Squad, Cara Delevigne, pernah tertangkap kamera mengenakan crop top bertuliskan “Twerking is not a crime” yang kemudian direlasikan publik dengan tingkah kontroversial Miley Cyrus pada ajang MTV VMA tahun 2013 lampau.

Sekilas Sejarah T-Shirt

Seperti ditulis situs T-shirt Magazine, penggunaan kaus telah dimulai sejak awal abad 20 selama masa Perang Dunia I. Tentara AS memandang kaus katun yang kerap digunakan orang Eropa lebih baik dibanding pakaian bermaterial wol yang mereka pakai saat berperang.

Hal ini bukan kebenaran tunggal lantaran ada pula pihak yang mengatakan bahwa kaus pertama kali dikenakan oleh pelaut-pelaut Amerika sebagai baju dalam dan sama sekali bukan fashionable item pada saat itu. Kaus juga diproduksi untuk tim football kampus dan dimanfaatkan untuk menyerap keringat semata.

Seusai Perang Dunia I pada dekade 20-an, penulis F. Scott Fitzgerald tercatat sebagai orang pertama yang menggunakan kata T-shirt saat ia mencantumkannya dalam novel This Side of Paradise, demikian tertulis dalam situs Today I Found Out. Kejamakan penggunaan kaus terus berlangsung pada masa Perang Dunia II dan mulai ditemukan dikenakan oleh anak sekolah dan mahasiswa.

Popularitas kaus baru tampak menanjak pada saat Marlon Brando memerankan Stanley Kowalski dalam film A Street Car Named Desire (1951). Di sana, Brando tampak mengenakan kaus putih polos ketat yang mempertegas bentuk tubuhnya yang atletis. Empat tahun kemudian dalam film Rebel Without a Cause, James Dean pun tampak mengenakan kaus serupa yang makin menyokong ketenaran fashion item ini.

Perubahan sosial yang terjadi di suatu negara tak pelak menggeser gaya hidup masyarakat, termasuk cara berpakaian. Dalam buku A Cultural History of Fashion in the 20th and 21st Centuries: From Catwalk to Sidewalk, Bonnie English (2007) menyatakan bahwa kaus telah bertransformasi dari item yang dikenakan kelas pekerja menjadi bagian dari penanda identitas kaum pascamodernis.

Sebagaimana blue jeans, kaus telah menjadi ikon budaya yang menampilkan ekspresi afiliasi sosial politik, representasi preferensi, serta wadah untuk beriklan. Gambar-gambar destinasi wisata atau sudut kota tak lagi ditempatkan di kartu pos atau foto saja, tetapi juga pada kaus yang pada akhirnya menjadi salah satu cendera mata yang lumrah ditemukan di berbagai tempat di dunia.

Pada pengujung dekade 60-an, kaus juga digunakan sebagai lambang protes terhadap berbagai isu. Tulisan “Make love, not war” misalnya, merupakan tanggapan negatif publik terhadap keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam. Di samping itu, kaus tie dye juga menjadi populer dikenakan pada masa itu, terutama oleh kaum hippies yang menjadi bagian dari subkultur di AS.


Dua Sisi Statement Shirt

Di satu sisi, statement shirt dapat digunakan untuk menyebarkan pengaruh tertentu. Sejumlah kaus secara implisit mendukung orang-orang untuk lebih positif memandang tubuhnya yang tak melulu seideal gambaran di media massa.

Atau pada momen Women’s March di AS beberapa waktu lalu, Natalie Portman terlihat mengenakan kaus Dior bertuliskan “We Should All Be Feminists” saat berorasi di depan publik. Kaus ini pun tampak dikenakan oleh Rihanna dan Chiara Ferragni, model dan perancang busana ternama asal Italia.

Ribuan likes pun mengekori post yang dipublikasikan para pesohor ini di Instagram. Orang-orang tampak merayakan gagasan yang tertuang dalam kaus. Namun yang kerap luput dari perhatian, pada saat bersamaan, orang juga turut merayakan semangat kapitalisme yang dibawa industri busana.

Belum lagi dampak buruk konsumerisme kaus lainnya terhadap lingkungan. Mengamini hakikat manusia sebagai makhluk dinamis, termasuk dalam hal gagasan yang dimilikinya, pertanyaan yang kemudian dapat muncul adalah apakah pernyataan-pernyataan dalam kaus ini akan terus sejalan dengan pemikiran penggunanya di masa depan?

Kecenderungan orang ketika tidak lagi menyukai kaus berharga terjangkau yang memuat gambaran atau pernyataan tertentu adalah membuangnya yang tak pelak, malah menyumbang penghancuran lingkungan berupa tumpukan limbah.

Banyaknya afirmasi terhadap cinta diri tidak hanya memberikan efek positif bagi seseorang. Dalam buku The Narcissism Epidemic: Living in The Age of Entitlement, Twenge dan Campbell (2009) menyoroti bagaimana budaya populer, termasuk buku pengembangan diri dan kaus, mendorong perilaku narsisistik seseorang.

Pilihan tindakan orangtua pun menjadi salah satu faktor mengapa seseorang memuja diri secara berlebihan saat beranjak dewasa. Dengan memberikan pakaian bertuliskan “Princess”, “Future Leader of The World”, atau “I am special” misalnya, efek samping yang potensial terjadi adalah penilaian diri yang terlalu tinggi.

Hal remeh temeh seperti zodiak atau bulan kelahiran pun bisa dibuat sedemikian rupa untuk menciptakan kesan superior dibanding orang lain. Ekspresi diri besar-besaran lewat kaus ini bukan tidak mungkin menjadi penanda bahwa seseorang memiliki kecenderungan narsistis yang pada level tertentu dikategorikan sebagai salah satu gangguan kejiwaan.

Pada akhirnya, mengekspresikan diri lewat kaus tidak bisa dikatakan salah secara mutlak. Namun, berbagai pertimbangan akan hal-hal implisit di baliknya tak bijak pula jika diabaikan. Pertanyaan yang sepatutnya ditujukan sebelum mengonsumsi kaus-kaus atau produk budaya populer lainnya adalah apakah hal tersebut benar-benar merepresentasikan identitas diri atau seseorang hanya membelinya lantaran sedang naik daun?

Dan, apakah tulisan yang tertera pada kaus itu bukan hanya cara untuk meraih sebanyak mungkin perhatian serta menonjolkan superioritas berlebihan yang kontradiktif dengan kapasitas diri sebenarnya?

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight