Mengapa di Jepang Sering Terjadi Gempa Bumi?

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 8 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Alasan mengapa gempa bumi sering terjadi di Jepang.
tirto.id - Gempa kembali terjadi di Jepang, di beberapa kota sekaligus pada Minggu (6/10/2019) dan Senin (7/10/2019). Gempa terjadi di Sapporo dengan kekuatan 3,9, Kagoshima (4,9 m), Shinhidaka (3,9 m), Sugoshima (4,6 m), Amagi (4,9 m), Naha (3,9 m).

Sebelumnya, Earthquake USGS melansir, gempa juga terjadi di beberapa daerah di Jepang pada tanggal 2 dan 3 Oktober, seperti di Iwate (4,7 m), dan Hachijo-Tokyo (4,4 m).

Gempa sering terjadi di Jepang, karena Jepang berada di area yang disebut Cincin Api Pacific, wilayah dilalui oleh lempengan api bawah permukaan bumi.

Cincin api tersebut berbentuk seperti sepatu kuda, yang mengikuti pelek di Samudra Pasifik dan sering kali menjadi penyebab gempa bumi dan erupsi volkanis di wilayah di atasnya.

Lempeng tektonik di cincin api ini sering bertumbuk dan bertabrakan. Lapisan cadangan api di atasnya sering mencuat atau bergoncang ketika lempeng bergerak dan bertabrakan.

Lempeng-lempeng tersebut bergerak dan berinteraksi satu sama lain, entah bertubrukan, memisah, dan menumpuk. Hal-hal tersebut membuat lapisan tanah yang berada di atasnya juga ikut bergerak, pergerakan inilah yang disebut gempa.

Dilansir Livescience, Jepang berada di atas lempeng Pasifik dan lempeng Laut Filipina. Kedua lempeng ini sangat aktif dibandingkan dengan lempeng-lempeng lainnya di dunia. Jepang adalah negara kepulauan dan titik gempa di lepas pantai sehingga memicu timbulnya tsunami.

Rata-rata gempa yang terjadi di Jepang berkekuatan 7 magnitudo (kekuatan itensitas gempa). Pada kekuatan 0 m, getaran sama sekali tidak terasa. Kekuatan 1 M dapat dirasakan oleh beberapa orang dalam ruangan.

Kekuatan 3 M, orang di dalam ruangan dapat merasakan dan kemungkinan aliran listrik ikut terguncang. Pada kekuatan 4 M dapat mengejutkan orang karena guncangannya terasa, mampu mengguncang ringan benda-benda di atas ruangan.

Sementara itu 5 Mmenyebabkan guncangan, benda-benda terjatuh dari tempatnya, orang-orang sulit berpegangan pada benda, dan bangunan seperti tembok mulai tidak kuat menahan jaringan satu sama lain.

Kekuatan 6 M menyulitkan orang bergerak dengan kaki (berjalan, berlari), dan tembok dapat rubuh, serta benda-benda bergerak dari tempatnya dan kemungkinan akan pecah, hancur. Pada kekuatan 7, orang sudah sulit untuk bertindak seperti kemauan dan kesadarannya, dan benda-benda dalam ruangan berhamburan ke segala arah, dan beberapa bangunan rubuh.

Efek riil juga bergantung pada jarak wilayah dari pusat gempa, Real Estate Tokyo melansir. Karena gempa sering terjadi di wilayah ini, pemerintah dan penduduk Jepang memiliki persiapan sangat baik dalam menghadapi gempa dan tsunami untuk meminimalisir korban jiwa dan kerusakan.

Telegraph mewartakan, pendidikan menghadapi gempa, tsunami, dan banjir sudah diajarkan sejak sekolah dasar.

Setiap bulan mereka dilatih peka terhadap alarm peringatan bencana dan bersembunyi di bawah meja hingga gempa berakhir untuk dalam ruangan. Saat berada di luar ruangan, mereka akn berlari ke ruang terbuka yang tidak memiliki atap atau benda apapun yang dapat menimpa.

Pemerintah memfasilitasi sekolah-sekolah dengan alat simulasi gempa dan setiap sekolah memiliki ruang penyimpanan yang dapat digunakan siswa untuk mengamankan diri.

Mereka diajarkan untuk tetap diam di tempat dengan tenang hingga ada orang dewasa yang menghampiri mereka.

Selain pendidikan, sistem bangunan juga dibuat tahan gempa, yaitu dengan penanaman fondasi yang dalam dan teknologi peredam getar untuk keamanan bangunan.

Teknologi bangunan lainnya adalah dengan membuat fondasi sedikit fleksibel sehingga dapat bergerak mengikuti goncangan, sehingga meminimalisir kerusakan gedung.

Di bawah fondasi bangunan Jepang, biasanya tanah terlebih dahulu diencerkan sehingga meredam getaran dan sebagai penghalus gerakan agar tidak bertubruk.

Warga Jepang, kantor, dan sekolah-sekolah juga pada umumnya memiliki persediaan untuk keadaan darurat seperti air minum dalam botol, obat-obatan, makanan kering, perlengkapan tidur protabel untuk situasi genting yang mengharuskan mereka mengungsi.

Kembali melansir USGS, selain Jepang, Indonesia sebenarnya memiliki aktivitas gempa terbanyak di dunia, tetapi sering terjadi di laut sehingga penduduk tidak merasakan, dan atau terjadi dalam intensitas kecil sehingga tidak berdampak pada populasi manusia.


Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Anggit Setiani Dayana
Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight