tirto.id - PT Kimia Farma (Persero) Tbk mencatatkan penyusutan kerugian bersih sebesar 94,49 persen menjadi Rp13 miliar hingga kuartal III 2026, turun drastis dari angka rugi Rp234 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, menyatakan perbaikan tajam tersebut didorong oleh efisiensi operasional serta proses transformasi bisnis yang tengah dijalankan perusahaan.
"Dari rugi bersih Rp234 miliar pada Triwulan III 2025, angka tersebut turun menjadi Rp13 miliar pada periode yang sama tahun 2026, atau membaik sekitar 94,49 persen. Penurunan rugi bersih tersebut merupakan perkembangan penting dalam perjalanan transformasi Kimia Farma," kata Djagad dalam keterangannya di Jakarta dilansir Antara, Senin (2/11/2026).
Selain menekan kerugian, perseroan membukukan total penjualan sebesar Rp7 triliun. Laba usaha tercatat melonjak 129,31 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp227 miliar dari sebelumnya Rp99 miliar pada kuartal III 2025.
Kinerja operasional turut diperkuat oleh kenaikan perolehan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 32,04 persen yoy menjadi Rp503 miliar.
Menurut Djagad, capaian positif tersebut menunjukkan bahwa pemulihan kinerja perusahaan berada pada jalur yang tepat melalui perbaikan fundamental operasional dan pengendalian biaya.
“Kinerja Perseroan sampai dengan Triwulan III 2026 menunjukkan bahwa proses menuju turnaround terus berjalan dengan arah yang positif,” ujarnya.
Ke depan, manajemen melanjutkan restrukturisasi melalui enam pilar utama, meliputi ketahanan modal kerja, penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM), digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG), serta sinergi internal di dalam grup.
Memasuki kuartal IV 2026, perseroan memprioritaskan pengetatan pengendalian risiko, pengelolaan likuiditas, dan produktivitas aset.
Sebagai bagian dari ekosistem Bio Farma Group dan Danantara Indonesia, Kimia Farma berkomitmen memperkuat rantai pasok demi mendukung kemandirian industri farmasi nasional.
"Transformasi tersebut diarahkan untuk membangun bisnis yang lebih tangguh dan memperkuat kontribusi Perseroan bagi kemandirian industri farmasi Indonesia dan mendukung ketahanan kesehatan nasional," katanya.
Editor: Mochammad Fajar Nur
Masuk tirto.id





































