tirto.id - Korban dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon terus bertambah. Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan Kota Cirebon, tercatat 270 orang mengalami keracunan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria, mengatakan 270 korban tersebut kini dirawat di 8 rumah sakit yang ada di Kota Cirebon.
“270 orang tersebut, terdiri dari 231 orang anak, dan juga 39 orang dewasa. Awalnya, kami mendapatkan laporan dugaan keracunan makanan akibat konsumsi MBG sekitar jam 16.00 sore dan saat itu jumlah pasien hanya 42 orang yang dirawat di RS Siloam,” kata Siti, Rabu (21/10/2026).
Siti menjelaskan Dinkes Kota Cirebon kemudian merealokasi pasien ke rumah sakit terdekat, yakni RS Ciremai dan RSD Gunung Jati, saat jumlah pasien terus bertambah. Tujuannya agar para pasien baru bisa segera mendapat penanganan medis.
Dinkes Kota Cirebon juga mendatangkan tim bantuan dari puskesmas dan unsur kedaruratan lain untuk melakukan penanganan.
“Kami itu menyediakan kurang lebih 14 ambulance karena memang pasien tidak serempak datangnya. Jadi, langsung kami mobilisasi yang tujuannya jangan sampai pasien tersebut tidak tertangani,” papar Siti.
Siti mengungkapkan, setelah mewawancarai sejumlah korban, rata-rata mengeluhkan sup telur puyuh yang kuahnya sudah terasa asam.
Dugaan tersebut diperkuat dengan adanya seorang guru yang mencoba mencicipi kuah sup telur puyuh dan langsung mengalami keracunan.
“Dia hanya mencicipi kuahnya saja, tidak memakan telurnya. Nah, itu sama keracunan. Jadi, kebetulan guru itu guru kelas 6 sebelum makanan itu sampai ke muridnya dia mencicipi dulu. Setelah itu, melarang anak muridnya untuk memakan MBG tersebut. Beliau patut diapresiasi,” ungkapnya.
Siti pun menduga SPPG Kalijaga Harjamukti—penyedia menu MBG tersebut—melakukan kesalahan SOP dalam pengolahan makanan.
Menurutnya, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan makanan dalam program MBG, yakni jam memasak, jam makanan matang, hingga cara pengolahan telur tersebut sampai dengan dimasukkan ke dalam kuah.
“Atau, bisa juga karena setelah matang dan masih panas wadahnya langsung ditutup dan masih banyak lagi. Kami belum bisa menyimpulkan dan masih terus berproses,” tuturnya.
Dinkes Kota Cirebon juga sudah mengambil sampel makanan dari SPPG Kalijaga Harjamukti untuk dicek ke laboratorium.
Selain sampel makanan, Dinkes Kota Cirebon juga mengambil sampel muntahan pasien yang ada di RS Siloam. Karena terdapat gejala diare pada pasien, Dinkes Kota Cirebon juga mengambil sampel feses pasien. Semua sampel itu sudah diberangkatkan ke Labkesda Provinsi Jawa Barat.
“Sebenarnya ini bukan pertama kali karena kami juga ada yang mengalami keracunan jumlahnya sampai 200. Tapi, memang kondisinya sampai sebanyak ini tuh baru tadi malam dan saat ini masih konsultasi untuk KLB,” papar Siti.
Hasil Uji Laboratorium Pasien
Siti mengungkapkan hasil uji laboratorium sebagian pasien sudah keluar. Ia menunjukkan adanya gejala peningkatan leukosit atau sel darah putih yang mengindikasikan terjadinya infeksi yang disebabkan oleh bakteri.
“Kemarin, juga sempat ada pasien balita umur 4 tahun yang mengalami penurunan kesadaran dan dimasukkan ke ruangan PICU. Alhamdulilah kondisinya sampai saat ini sudah membaik,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, terdapat beberapa siswa yang membawa menu MBG pulang ke rumah, lalu dimakan oleh keluarganya.
“Ada adiknya yang dapat MBG lalu kakaknya yang makan. Ada juga cucunya yang dapat MBG, neneknya yang makan. Ada juga petugas SPPG-nya sendiri yang keracunan,” jelasnya.
Siti menyebut Kepala SPPG Kalijaga Harjamukti turut andil dalam penanganan kasus keracunan ini karena terdapat dugaan SOP yang tidak dipatuhi.
“Ketika makanan matang itu, maksimal 4 jam sudah harus dimakan. Nah, matangnya jam berapa, lalu dikirim ke sekolah jam berapa, dimakan disekolah jam berapa,” paparnya.
Mengenai standar yang harus dipenuhi SPPG, Siti menjelaskan SPPG Kalijaga Harjamukti tercatat memiliki indeks kesehatan lingkungan (IKL) di atas 80 persen saat pemeriksaan di awal ia berdiri. Oleh karena itu, SPPG tersebut memenuhi syarat mendapatkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Untuk sertifikasi halal sendiri bukan ranah kami, namun pelatihan yang sudah dilakukan sendiri seharusnya menjadi pedoman saat bekerja. Setiap SOP benar-benar dikerjakan seharusnya,” tutupnya.
Kepala SPPG Kalijaga Harjamukti Minta Maaf
Sementara itu, Kepala SPPG Kalijaga, Andi Rahmat Gea, meminta maaf atas kejadian keracunan yang melibatkan ratusan anak dan orang dewasa tersebut.
“Saya merasakan kesedihan, amarah, saya minta maaf sebesar-besarnya. Segala bentuk biaya dan dampak dari MBG yang disalurkan kemarin, akan kami bertanggung jawab sampai dengan anak-anak sembuh,” kata Andi.
Andi juga mengatakan siap menerima sanksi penutupan dapur sampai dengan waktu yang tidak ditentukan.
Andi juga membenarkan bahwa Dinkes Kota CIrebon sudah diambil 2 sampel menu MBG dari SPPG-nya.
“Untuk masakannya sendiri, memang dari luar. Bahannya dari luar. Untuk telur sendiri, sebelumnya memang sudah dimasak dahulu dari luar, di sini hanya dihangatkan saja dan dimasak di sini,” jelasnya.
=============
Cirebon Banget adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Cirebon Banget
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































