Menuju konten utama

Kisah Rohani & Perahu Sekolah Jaga Asa Pendidikan di Gili Gede

Di tengah gulungan ombak Gili Gede, keteguhan Rohani tak pernah surut. Perahu Sekolah hadir mengantar nyala pendidikan menembus laut.

Kisah Rohani & Perahu Sekolah Jaga Asa Pendidikan di Gili Gede
Para guru dan siswa di Pulau Gili Gede, Sekotong, Lombok Barat, NTB. tirto.id/Indana Zulfa
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menempuh perjalanan jauh melintasi darat dan menyeberangi lautan sudah menjadi makanan harian bagi para guru dan siswa di Pulau Gili Gede, Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tantangan cuaca yang sering berubah, angin kencang, hingga ombak besar tak pernah menyurutkan langkah mereka untuk tetap menuntut dan membagikan ilmu.

Bagi Rohani, seorang guru PPPK di SMP Satu Atap 2 Sekotong, mengajar di wilayah kepulauan memberikan pengalaman berharga sekaligus ujian tersendiri. Dari penghasilan sekitar Rp3,1 juta per bulan yang diterimanya, biaya ongkos menyeberang laut harian jelas lumayan menguras kantong.

"Sukanya sih untuk mencari pengalaman dan berbagi ilmu kita. Dukanya lebih ke cuaca yang sering berubah-ubah dan kendala-kendala perjalanan yang jauh, belum lagi berat di bensin dan segala macamnya," ungkap Rohani.

Kondisi laut yang tak menentu menjadi cerita harian bagi Rohani dan rekan-rekannya. Meski begitu, ia menegaskan bahwa para guru bukan enggan menjalankan kewajiban.

"Kalau cuaca biasanya hujan, angin, dan ombak yang besar gitu yang membuat kita kadang teman-teman guru juga banyak mengeluh. Bukannya kita berat untuk menjalankan tugas, nggak, cuma kami minta untuk perhatian terutama pemerintah kita di sini karena sangat kekurangan guru," tuturnya.

Beratnya medan perjalanan bahkan membuat sebagian tenaga pengajar tak bertahan lama dan mengajukan pindah tugas.

"Kalau sampai berhenti, nggak. Tetapi banyak yang mengajukan mutasi. Terutama waktu kami datang bertiga, itu baru kurang lebih satu tahun dia sudah mengajukan. Padahal itu satu-satunya guru cowok yang menyeberang," kata Rohani.

Namun, Rohani memilih bertahan demi anak-anak di pulau yang masih sangat membutuhkan pendampingan pendidikan. Di tengah perjuangan itu, hadirnya program Perahu Sekolah dari Samudera Indonesia Peduli lewat armada speed boat Sinar Waecicu menjadi penyelamat. Perahu gratis ini meringankan beban finansial sekaligus memberikan jaminan keselamatan.

"Kita tidak bisa berenang. Nah, syukurnya itu kami mendapatkan bantuan dari Kapal Samudera Peduli yang sungguh sangat membantu kami untuk mengurangi biaya setiap hari. Kalau awalnya kita membayar angkutan per bulan itu sampai Rp400 lebih. Nah, sekarang kita bisa memangkas sampai Rp500 ribu lebih untuk biaya ongkos," ujarnya.

Saat Laut Tak Lagi Menakutkan Bagi Seragam Sekolah

Guru di Pulau Gili Gede

Kapal Samudra yang dinaiki Para guru dan siswa di Pulau Gili Gede, Sekotong, Lombok Barat, NTB. tirto.id/Indana Zulfa

Dampak kehadiran perahu ini tak hanya dirasakan para pengajar, tetapi juga dirasakan langsung oleh anak-anak sekolah. Zainul, salah seorang siswa SMKN 2 Sekotong, mengaku sangat senang berangkat sekolah menggunakan Sinar Waecicu. Bagi Zainul dan teman-temannya, perjalanan menyeberang kini terasa jauh lebih nyaman dan aman.

Rasa bahagia senada, pun diungkap Faqih Aldian Safari, siswa MI Miftahul Ulum Pelangan, Sekotong. Sebelum ada Perahu Sekolah, Faqih kerap dihinggapi rasa takut saat harus menembus ombak besar tanpa pelampung. Bahkan, baju seragamnya sering basah terkena cipratan air laut.

Ia pun sempat mengaku pernah bolos sekolah akibat takut trauma cuaca buruk.

"Dulu sebelum ada Perahu Sekolah, saya takut naik perahu karena ombaknya besar dan tidak disediakan pelampung. Sekarang setelah ada perahu sekolah, saya tidak takut lagi dengan cuaca buruk," cerita Faqih polos.

Selain tak perlu membayar ongkos lagi, rasa aman karena memakai jaket pelampung membuatnya makin bersemangat pergi menuntut ilmu.

Dayung Harapan Bersama Sang Peselancar Dunia

Tirto.id berkesempatan menjajal Perahu Sekolah Sinar Waecicu di Pulau Gili Gede, Lombok Barat, Selasa (13/10/2026). Pelayaran program CSR Samudera Indonesia Peduli kali ini terasa spesial berkat kehadiran Rio Waida. Peselancar Olimpiade Indonesia tersebut turut menjemput langsung guru dan anak-anak untuk pergi sekolah.

"Seru banget lihat anak-anak berangkat ke sekolah naik perahu. Saya pertama kali melihat anak-anak sekolah naik perahu, jadi seru," ujar Rio saat mendampingi para siswa di dalam perahu.

Program Perahu Sekolah Samudera Indonesia Peduli menghadirkan solusi transportasi aman dan gratis bagi guru serta siswa di wilayah pesisir dan pulau terpencil sejak 2017. Berbekal keahlian di bidang pelayaran, perusahaan ini telah mendistribusikan armada speed boat ke berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, hingga NTB, termasuk armada Sinar Waecicu di Pulau Gili Gede.

“Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Samudera kan memang perusahaan perkapalan. Jadi kita ingin berbuat sesuatu yang masih sesuai dengan keahlian kita. Dan apa yang bisa Samudera support. Ya salah satunya keahlian kita di bidang shipping, kita support dalam bentuk perahu sekolah ini” ungkap Rismeita selaku CSR Manager Samudera Peduli.

Tak sekadar menyediakan kapal, program CSR ini juga memberdayakan warga lokal dengan memberikan pelatihan keselamatan dasar (basic safety training) untuk bertugas sebagai kru kapal.

Hadirnya Perahu Sekolah Sinar Waecicu di Pulau Gili Gede membawa angin segar bagi dunia pendidikan setempat. Bantuan armada ini tak sekadar memangkas ongkos dan mempermudah akses penyeberangan, tetapi juga menjaga api semangat para guru dan siswa agar terus menyala di tengah keterbatasan geografis.

Baca juga artikel terkait HAK PENDIDIKAN atau tulisan lainnya dari Indana Zulfa

tirto.id - News Plus
Reporter: Indana Zulfa
Penulis: Indana Zulfa
Editor: Siti Fatimah