tirto.id - Malam baru saja turun di Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Selepas mengikuti doa bersama dalam rangka peringatan Bulan Maria bagi umat Katolik, Selasa (13/10/2026) malam, Maria Ayuningsih Larasati kembali ke rumahnya.
Bocah yang akrab disapa Laras itu bersiap membuka buku-buku pelajarannya untuk esok hari, pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika. Dua mata pelajaran yang menuntut konsentrasi, latihan, dan waktu belajar yang cukup.
Namun, di kampung tempat tinggal Laras, keinginan untuk belajar pada malam hari harus berhadapan dengan keterbatasan penerangan. Tak ada binar lampu pijar di rumah yang menyambut, melainkan hanya gulita.
Jauh dari kemewahan lampu belajar yang menerangi meja anak-anak di kota besar, Laras harus puas dengan realita yang ada. Jemari kecilnya malam itu hanya mampu mengandalkan lampu pelita sederhana, secercah cahaya yang menyala dari sebuah kaleng cat bekas.
Rumah Laras cuma tersedia tiga lampu pelita. Satu digunakan untuk belajar, sedangkan dua lainnya menerangi dapur dan kamar. Tidak ada pilihan penerangan lain yang bisa diandalkan ketika malam tiba.

Wawancara berlangsung di ruang belajar. Laras duduk belajar bersama dua temannya. Ayahnya, Yansenus Yansen, berada di dekat mereka. Adiknya yang masih duduk di bangku pendidikan anak usia dini (PAUD) juga turut berada di ruangan yang sama.
Menghadapi malam dengan lentera seadanya tentu bukan hal mudah. Ketika ditanya berapa lama ia bisa belajar pada malam hari dengan penerangan seadanya, Laras menjawab singkat.
“Tidak lama sekitar 30 menit,” katanya.
Laras bercerita bahwa dia merupakan siswi kelas IV SDN Hepang. Ada 13 siswa lain yang satu kelas dengannya. Dengan bangga dia mengungkap, pada pembagian rapor terakhir, ia berhasil meraih di peringkat kedua.
Dalam kesempatan ini, Laras menggantungkan harapan besarnya pada Presiden Prabowo Subianto. Ia bermimpi, kelak sang Presiden bisa menghadirkan keajaiban berupa binar listrik negara di kampung dan rumahnya.
"Bapak Presiden kami anak-anak di Kampung Hepang sudah lama belajar pakai lampu pelita, Bapak Presiden bantu kami listrik," ungkap Laras penuh harap.
Ayah dari Laras, Yansenus Yansen, menuturkan kondisi ketiadaan penerangan listrik sudah dirasakan warga Dusun Hepang selama bertahun-tahun.
Pada malam hari Kampung Hepang sangatlah gelap, ada beberapa rumah yang dapat penerangan lampu tenaga surya bantuan dari Pemdes Nenbura. Namun jumlahnya terbatas untuk beberapa warga dan hanya bisa dipakai untuk penerangan lampu sejumlah 3 buah.
"[Listrik] hanya untuk 3 bola lampu saja. Kalau mau cas HP, warga mesti turun 3 kilometer ke Kampung Doreng. [Listrik] untuk alat elektronik sama sekali tidak bisa," ujarnya.
Yansenus Yansen juga mengatakan, penerangan lampu pelita sangatlah terbatas. Penggunaannya butuh pula ketersediaan minyak tanah.
"Kalau tidak ada uang beli minyak tanah, kadang kami pakai lilin atau lepas gelap saja sampai pagi tiba. Sekarang sudah 81 tahun Indonesia merdeka, kampung kami belum juga menikmati listriknya," ungkap Yansenus Yansen.
Nestapa 600 Jiwa di Dusun Hepang: 81 Tahun Tanpa Cahaya dari Negara

Dusun Hepang berada di dataran tinggi Desa Nenbura. Kampung ini dihuni 159 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 600 jiwa yang tersebar di 102 rumah.
Warga menggantungkan kehidupan pada hasil bumi seperti kemiri, pala, jambu mete, dan kelapa. Namun, ketika malam datang, sebagian besar permukiman kembali gelap karena belum terjangkau jaringan listrik.
Dari tiga dusun di Desa Nenbura, Hepang menjadi satu-satunya dusun yang sebagian besar wilayahnya belum menikmati layanan listrik secara memadai. Dua dusun lainnya telah mendapatkan akses listrik.
Ambrosius Edison, perwakilan pemerintah Desa Nenbura yang ditemui di lokasi, mengatakan pemerintah desa telah beberapa kali mengusulkan perluasan jaringan listrik untuk warga Hepang.
Usulan itu, menurut dia, telah disampaikan sekitar empat kali. Bahkan, pemerintah desa sudah berkomunikasi langsung dengan pihak PLN dan mengirimkan usulan melalui sejumlah jalur pemerintahan maupun wakil rakyat.
Namun, hingga kini, sebagian besar warga masih harus bertahan dengan penerangan seadanya.
Ambros menjelaskan, dari 102 rumah yang ada di dusun tersebut, baru 12 rumah yang telah teraliri listrik. Sementara itu, bantuan lampu tenaga surya yang pernah diterima warga tidak lagi berfungsi di banyak rumah.
Bantuan penerangan tenaga surya, kata dia, pernah disalurkan sejak 2015 dan kembali diberikan pada tahun-tahun berikutnya. Akan tetapi, perangkat tersebut memiliki masa pakai terbatas.
“Lampu solar cell itu kan sudah rusak,” ujarnya, menjelaskan alasan warga kembali menggunakan pelita.
Menurut Ambros, sekitar 50 rumah pernah menerima bantuan penerangan tenaga surya, tetapi kini diperkirakan hanya sekitar 20 rumah yang perangkatnya masih dapat digunakan. Angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan kondisi yang mereka ketahui di lapangan.
Ia mengatakan pemerintah desa terakhir kali mengusulkan perluasan jaringan listrik sejak 2017. Dalam komunikasi dengan pihak PLN, pemerintah desa memperoleh penjelasan bahwa pembangunan jaringan dengan panjang kurang dari satu kilometer dapat ditangani lebih cepat.
Namun, berdasarkan survei yang dilakukan, kebutuhan jaringan di Hepang ternyata lebih dari satu kilometer. Kondisi ini, menurut penjelasan yang diterima pemerintah desa, membuat mereka harus menunggu dukungan anggaran APBN.
Papan Tulis Digital Sekolah yang Berakhir Jadi Pajangan Mati

Keterbatasan listrik bukan hanya menyulitkan anak-anak ketika belajar di rumah. Persoalan yang sama juga membatasi pemanfaatan fasilitas pendidikan di SDN Hepang.
Kepala SDN Hepang, Paulus Arabaha, mengatakan kegiatan belajar mengajar di sekolah masih berlangsung secara manual dengan menggunakan papan tulis putih atau white board.
Padahal, sekolah telah memiliki perangkat pembelajaran digital berupa papan interaktif yang merupakan bagian dari bantuan pemerintah. Perangkat tersebut diharapkan mendukung proses belajar yang lebih interaktif, tetapi penggunaannya belum optimal karena keterbatasan pasokan listrik.
Paulus menjelaskan, pihak sekolah sesekali menghidupkan perangkat menggunakan generator set (genset). Namun, pemakaiannya sangat terbatas.
“Sepanjang saat ini kami menggunakan genset, tapi sekali-sekali mungkin dalam satu bulan satu kali, untuk istilahnya pemanasan saja,” katanya, Rabu (14/10/2026) pagi.
Ketiadaan listrik membuat sekolah belum bisa memanfaatkan perangkat tersebut sebagaimana mestinya. Genset hanya menjadi solusi sementara, bukan sumber energi yang dapat diandalkan setiap hari.
Biaya operasionalnya pun tidak murah. Menurut Paulus, penggunaan genset selama beberapa jam, dari pagi hingga siang, dapat menghabiskan biaya hingga ratusan ribu rupiah. Bahan bakar yang dijual di kampung itu, kata dia, mencapai Rp 20.000 per botol air mineral.
Dalam kondisi demikian, sekolah harus mempertimbangkan biaya setiap kali hendak menggunakan perangkat elektronik untuk pembelajaran.
Paulus mengakui, guru dan siswa akhirnya tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan metode konvensional.
Paulus mengatakan, masyarakat Dusun Hepang telah lama menanti masuknya jaringan listrik. Ia berharap kondisi kampungnya mendapat perhatian lebih serius, terutama karena Hepang merupakan satu-satunya dusun di Desa Nenbura yang sebagian besar warganya masih belum terlayani listrik.
Dihubungi terpisah, Manajer PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Flores Bagian Timur, Eko Riduan, menyampaikan bahwa jaringan listrik ke Dusun Hepang, Desa.Nenbura akan dibangun pada tahun 2027.
"Wilayah Dusun Hepang, Desa Nenbura sudah masuk ke roadmap listrik desa tahun 2027," ungkapnya.
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































