tirto.id - Tangis Yovan Satriyo Woko Pranoto pecah di rumah duka. Ayah Ayudiah Rivana Tridiandinita atau Ivana itu berulang kali menyeka air matanya. Pelukan dan ucapan belasungkawa dari para pelayat, tak mampu meredakan kesedihan atas kepergian putri bungsunya.
Ivana baru berusia 19 tahun. Ia meninggal dunia pada Rabu (28/10/2026), setelah mengalami cedera saat bertanding dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026. Kepergiannya menyisakan duka, terutama bagi keluarga yang masih berharap ia pulang membawa cerita tentang pertandingan.
Di rumah duka di Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, kesedihan terasa di setiap sudut. Teman-teman sekolah dan rekan seperguruan silatnya datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Sebagian menangis sesenggukan, sebagian lain saling berpelukan.
Namun, kehilangan tak selalu bisa diringankan oleh pelukan. Di antara orang-orang yang datang, ada air mata yang terus jatuh dan ada kata-kata yang tak sanggup terucap. Ivana pergi begitu cepat, meninggalkan ruang kosong dalam kehidupan orang-orang yang menyayanginya.
Nurina Maulida Ulya, teman sekaligus rekan Ivana di dunia pencak silat, mengaku masih syok mendengar kabar tersebut. Ia sulit menerima kenyataan bahwa sosok yang selama ini dikenalnya kini telah tiada.
“Sedih banget, syok, rasanya gemeter,” kata Nurina.

Di tengah duka itu, capaian prestasi Ivana sebelumnya kembali dikenang. Ia bukan sekadar atlet muda yang datang untuk bertanding. Selama ini, ia telah mengukir sejumlah pencapaian di arena pencak silat.
Ivana pernah meraih juara pertama International Championship di Bandung pada 2023, juara pertama Tugu Muda Championship berturut-turut pada 2022–2024, serta juara pertama Semarang Open pada 2023–2024.
Ia juga menjadi juara pertama Piala Sultan Cirebonan pada 2021, juara pertama Pekalongan Championship, dan juara pertama Bengawan Solo Championship. Pada 2024, ia meraih juara kedua POPDA Kota Semarang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, turut datang menyampaikan belasungkawa kepada keluarga. Ia menilai Ivana sebagai atlet muda yang memiliki banyak prestasi.
"Mbak Ivana ini masih sangat muda, lahir tahun 2007, namun memiliki prestasi yang luar biasa. Kita bangga memiliki Ivana,” katanya.
Menjelang pukul 14.00 WIB, jenazah Ivana diangkat untuk dibawa ke Tempat Pemakaman Umum Gedawang. Keranda jenazah berbalut kain hijau bertuliskan kalimat tauhid itu perlahan meninggalkan rumah yang sejak pagi dipenuhi pelayat.
Tangis kembali mengiringi kepergiannya. Di rumah itu, keluarga harus melepas seorang anak, sementara teman-temannya kehilangan sahabat dan rekan seperjuangan. Tak ada lagi Ivana yang bisa mereka temui untuk berbagi cerita atau berlatih bersama.
Ivana berangkat ke Porprov untuk bertanding dan mengejar prestasi. Namun, ia tak pernah kembali dengan cerita tentang kemenangan. Yang tertinggal justru kenangan, deretan medali, dan duka yang datang terlalu cepat.
Cedera di Babak Pertama
Dua hari sebelum rumahnya dipenuhi pelayat, Ivana masih berada di arena pencak silat. Pada Senin (26/10/2026), ia bertanding di kategori tanding kelas A putri dalam Porprov XVII Jawa Tengah 2026 di Gedung Serba Guna Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).
Namun, pertandingan yang Ivana ikuti tak berjalan hingga selesai. Pada babak pertama, perempuan yang bersekolah di SMK Negeri 11 Semarang itu mengalami cedera setelah tangan kirinya terkena tendangan lawan.
Muhammad Zainudin, Wakil Ketua Panitia Cabang Olahraga Pencak Silat Porprov XVII Jawa Tengah, mengatakan benturan itu melukai jari tengah tangan kiri Ivana. Jarinya mengalami sobekan hingga mengeluarkan darah, meski jumlahnya tidak banyak.
"Yang cedera jari tengah pada tangan kirinya. Keluar darah, enggak banyak darahnya. Ini kan karena tulangnya keluar, kemudian sampai sobek,” kata Zainudin, Rabu (28/10/2026).
Ivana kemudian mendapat penanganan awal sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Primaya Semarang yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari lokasi pertandingan. Zainudin ikut mendampinginya di dalam ambulans.
Sepanjang perjalanan, Ivana masih sadar dan bisa diajak berbicara. Ia menangis karena kesakitan, tetapi tidak mengeluhkan rasa sakit di bagian tubuh lain, menurut Zainudin.
"Masih sadar. Ketika cedera itu masih sadar. Ya wajar nangis, gitu kan. Kebetulan saya yang di ambulans, saya menenangkan itu,” ujarnya.
Seingat Zainudin, perjalanan menuju rumah sakit berlangsung singkat, kurang dari dua menit. Setibanya di instalasi gawat darurat (IGD), Ivana mulai tenang setelah beberapa waktu.
Zainudin menilai cedera tersebut saat itu tidak tampak terlalu parah. Menurutnya, cedera merupakan risiko yang bisa terjadi dalam pertandingan olahraga. Tak ada yang menyangka cedera itu berujung pada kabar duka.

Penyebab Kematian Belum Terungkap
Direktur RS Primaya Semarang, dr. Aditya Nugraha, mengatakan Ivana masuk melalui instalasi gawat darurat (IGD) pada Senin (26/10/2026). Setelah diperiksa, ia mendapat penanganan dokter spesialis ortopedi untuk cedera pada jari tengah tangan kirinya.
Sebelum operasi, tim medis melakukan pemeriksaan kelayakan tindakan, termasuk pemeriksaan laboratorium dan pemberian obat-obatan. Operasi berlangsung pada Selasa (27/10/2026) malam dan selesai sekitar pukul 20.00 WIB.
Menurut Aditya, tindakan tersebut bukan operasi besar. Setelah operasi, Ivana sadar penuh, bisa berkomunikasi, lalu dipindahkan ke kamar perawatan untuk menjalani pemantauan.
“Operasinya pun juga sebetulnya operasi yang bukan operasi mayor,” kata Aditya.
Petugas rumah sakit masih memberikan obat-obatan sekitar pukul 23.00 WIB. Saat pemeriksaan sekitar pukul 03.00 WIB, Ivana juga dilaporkan masih bernapas dan bergerak ketika tidur.
Namun, beberapa jam kemudian, kondisinya berubah drastis. Sekitar pukul 05.30 WIB, petugas mendapati Ivana tidak sadarkan diri, tidak bernapas, dan tidak memiliki denyut jantung saat hendak membangunkannya.
"Saat akan dibangunkan, pasien dalam kondisi tidak sadar, tidak bernapas, tidak ada denyut jantung,” ujar Aditya.
Kondisi itu mengejutkan pihak rumah sakit. Sebab, beberapa jam sebelumnya, Ivana masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan sempat berkomunikasi dengan petugas. Keluarga juga berada di rumah sakit, tetapi menurut Aditya, mereka sama-sama sedang tertidur ketika kondisi Ivana diketahui memburuk.
Aditya menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Ivana. Namun, ia menegaskan rumah sakit belum bisa memastikan penyebab kematian atlet tersebut. Penelusuran lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Kami belum bisa memastikan apa sebabnya. Kami akan dalami,” katanya.
Pihak rumah sakit mengklaim pemeriksaan sebelum operasi, pelaksanaan tindakan, hingga perawatan setelah operasi Ivana telah dilakukan sesuai protokol.
"Secara medis pun kami pastinya terkejut dengan kondisi seperti ini,” ujarnya.

Polisi Telusuri Penyebab Kematian Ivana
Penyebab kematian Ivana masih menjadi tanda tanya. Polrestabes Semarang akan meminta keterangan dokter RS Primaya Semarang untuk mengetahui apa yang terjadi setelah ia menjalani operasi cedera jari tangan kiri.
Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Erlin Tang Jaya, mengatakan polisi belum bisa menyimpulkan penyebab kematian Ivana. Keterangan dokter diperlukan untuk menjelaskan kondisi medis Ivana sejak menjalani operasi hingga ditemukan tidak bernyawa.
"Kami minta keterangan atau penjelasan lengkap dari dokter dulu, ya,” kata Erlin, Rabu (28/10/2026).
Erlin menyebut ada dugaan awal Ivana mengalami penggumpalan darah. Namun, informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada dokter yang menangani korban.
“Perkiraan dokter apakah ini mengalami penggumpalan darah. Mungkin itu darahnya anak ini kental atau apa, kita enggak tahu, tapi diperkirakan seperti itu,” ujarnya.
Meski begitu, polisi belum memastikan apakah dugaan tersebut berkaitan dengan tindakan operasi atau kondisi medis lain. Karena itu, keterangan dokter menjadi penting untuk memperjelas penyebab kematian Ivana.
Erlin juga mengatakan keluarga menolak jenazah Ivana menjalani autopsi.
Evaluasi Keselamatan Atlet Setelah Kepergian Ivana
Ketua Umum KONI Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, menyatakan penanganan Ivana sejak mengalami cedera di arena pertandingan hingga dirujuk ke rumah sakit telah berjalan sesuai prosedur.
Menurutnya, wasit langsung menghentikan pertandingan ketika Ivana mengeluhkan rasa sakit setelah terkena tendangan lawan.
Tim medis kemudian memeriksa kondisi Ivana dan menemukan pendarahan pada jari tangannya. Atlet tersebut selanjutnya dibawa ke RS Primaya Semarang untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Sujarwanto menilai proses penanganan darurat berlangsung cepat. Jarak antara lokasi pertandingan dan rumah sakit yang relatif dekat turut mempercepat proses rujukan.
“Secara SOP sudah berjalan baik,” kata Sujarwanto.
Meski demikian, ia mengatakan evaluasi penyelenggaraan olahraga tetap dilakukan secara berkala. Menurutnya, keselamatan atlet perlu terus menjadi perhatian dalam setiap pertandingan, meskipun prosedur penanganan telah dijalankan.
“Evaluasi dilakukan setiap saat. Kita tidak ingin kejadian ini terjadi,” ujarnya.
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































