Kantor Terbuka Tak Selamanya Baik

Konsep kantor terbuka di Jl. Kemang Timur, Jakarta. Tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Nuran Wibisono - 24 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Kantor bukan lagi harus berupa ruangan bersekat. Ia bisa berupa ruangan terbuka yang menyenangkan dan membuat pekerja lebih kreatif dan produktif. Tapi, bekerja di ruangan terbuka ternyata juga memiliki sejumlah sisi negatif. Muncullah alternatif lain untuk meningkatkan kinerja karyawan. Seperti apa?
Sebelum cerita ini dimulai, perlu saya gambarkan suasana kantor. Ia terletak di Kemang Timur Raya. Dulu kawasan ini dikenal sebagai Ubud Kecil di Selatan Jakarta. Sebab ada begitu banyak galeri seni, pun ia tak begitu ramai jika dibandingkan dengan kawasan Kemang lain. Tapi kemudian Gojek membuat kantor di sana. Membuat Kemang Timur jadi lebih semarak. Makin banyak warteg. Di pinggir jalan banyak orang berjualan perlengkapan untuk ojek daring. Mulai dari jaket, hingga GPS holder.

Kantor kami mengadopsi konsep kantor terbuka dan rumahan. Ia tak memiliki partisi di tiap meja. Membuat semua orang bisa menengok meja kerja yang lain. Di ruang tengah, ada televisi layar datar yang disertai Playstation 3. Juga ada fusbal. Di atas, tempat tim TI, riset, dan multimedia bermarkas, dulu pernah diletakkan meja ping pong. Tapi karena makan tempat, ia dipindahkan. Diganti televisi besar yang menampilkan update statistik situs kami. Kadang pula ada yang membawa aplikasi karaoke, dan mereka pun bernyanyi untuk hiburan.

Kantor kami tak punya jam kantor tetap. Tentu ada beberapa orang yang disiplin, masuk kerja pukul 9 pagi dan pulang pukul 6 sore. Tapi tim redaksi kebanyakan datang siang, bahkan sore. Kantor kami tak merasa perlu mewajibkan pegawainya memakai baju rapi. Kadang ada yang datang dengan celana pendek dan kaos oblong. Sering pula ada yang menginap di kantor, dan tentu saja tak mandi ketika bekerja. Ada yang baru bangun langsung minum kopi, tanpa cuci muka, dan langsung bekerja. Semua berjalan santai. Tapi kami sadar diri. Kalau harus menemui narasumber, kami pasti berpakaian rapi dan bersepatu.

Pola kantor seperti ini memang ramai dipakai sejak setidaknya 1 dekade belakangan. Di Amerika Serikat, pola seperti ini dipopulerkan oleh kantor-kantor perusahaan berbasis internet yang bermarkas di Silicon Valley, California. Di daerah itu bermarkas perusahaan seperti Google, Yahoo, juga eBay. Kalau kamu pernah melihat film The Internship, tentu tahu betapa menyenangkannya kantor Google. Tak ada aturan pakaian rapi, bebas masuk jam berapa saja, ada perosotan, disediakan tempat tidur siang, dan di kantin kamu bebas mengambil makanan apa saja tanpa perlu membayar.

Sedangkan Facebook lebih gila lagi. Markas besar mereka di Menlo Park, California, berdiri di lahan seluas 92 ribu meter persegi. Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, mengatakan kantor mereka adalah kantor terbuka terluas di dunia. Ia sanggup menampung hingga 3.000 insinyur. Kantor mereka juga mengadopsi konsep terbuka, nihil kubikel. Sistem seperti ini memang dianggap menguntungkan, pula menyenangkan. Cocok bagi para pekerja milenial yang dinamis. Bagi perusahaan, konsep seperti ini akan menguntungkan karena bisa memaksimalkan ruang dan meminimalisir biaya. Selain itu, pemimpin perusahaan pun bisa menengok pekerjaan anak buahnya.

Ada beberapa penelitian yang mengatakan bahwa kantor adalah sumber stres. Misalkan penelitian dari The American Institute of Stress yang mengatakan bahwa 46 persen penyebab stres itu terkait kerja dan tempat kerja. Nyaris serupa, survei dari lembaga Integra mengatakan bahwa 65 persen pekerja mengatakan bahwa stres di tempat kerja bikin hidup mereka tambah berat.

Maka kemudian kantor-kantor generasi baru ini merobohkan semua batasan itu. Nihil kubikel. Konsepnya terbuka. Semua bisa bersirobok dan ngobrol. Kantor terbuka seperti ini dianggap bisa menghilangkan stres dan meningkatkan produktivitas.

Tapi apakah akan selalu seperti itu?

Kalau kamu bertanya pada Jungsoo Kim dan Richard de Dear, jawabannya adalah: tidak selalu. Mereka berdua, pada 2013, menulis paper berjudul Workspace Satisfaction: The Privacy-Communication Trade-off in Open-plan Offices. Menurut mereka, konsep kantor terbuka ini malah bisa kontraproduktif. Alasan terbesarnya adalah distraksi yang terlalu banyak. Kita terlampau sering mengobrol dengan rekan kerja, alih-alih bekerja. Dari paper Kim dan Richard itu, diketahui bahwa 30 persen pekerja malah komplain karena kurangnya privasi visual.

Dr. Vinesh Oommen dari Queensland University of Technology juga mengatakan hal yang nyaris serupa, bahkan lebih mengejutkan. Menurut peneliti dari jurusan Health and Biomedical Innovation ini, konsep kantor terbuka malah akan menghasilkan dampak yang tidak bagus.

"Sekitar 90 persen riset mengatakan bahwa hasil dari kantor terbuka adalah negatif. Kantor terbuka menyebabkan tingginya tingkat stress, konflik, membuat darah tinggi, dan perputaran pegawai yang cepat," katanya.

Menurut Vinesh, kantor terbuka menyebabkan banyaknya kegaduhan yang kemudian menyebabkan hilangnya konsentrasi pekerja. Karena itu wajar kalau produktivitas pekerja akan menurun karena tak bisa berkonsentrasi. Risiko lain dari konsep kantor terbuka ini adalah: kecemasan. Mulai dari kecemasan orang lain melihat apa yang ada di layar laptop kita, atau cemas karena orang lain akan mendengar apa yang kamu bicarakan di telepon. Dampak lain adalah perihal kesehatan. Virus dari penyakit seperti influenza akan mudah menyebar di lingkungan kantor yang terbuka.

"Karena itu, aku rasa perusahaan harus mulai memikirkan ulang rencana menggunakan kantor terbuka," kata Vinesh.



Jika banyak perusahaan mulai meninggalkan konsep kantor terbuka dan mencari konsep baru untuk kantor mereka, ada ide lain yang menarik: membiarkan pegawai bekerja dari rumah.

Pada 2016 silam, situs Flexjobs mensurvei 3.100 pekerja berumur 20 hingga 60 tahun. Ternyata sekitar 65 persennya merasa bahwa pekerjaan mereka akan lebih baik jika dikerjakan di luar kantor Sekitar 51 responden mengatakan mereka bekerja lebih efektif dari rumah. Bahkan sekitar 29 persennya mau-mau saja gaji dipotong 10 hingga 20 persen asal mereka tak perlu masuk kantor. Sementara itu, hanya 7 persen yang merasa bekerja di kantor itu lebih efektif. Sebanyak 81 persen responden bilang, bisa bekerja dari rumah membuat mereka lebih loyal terhadap perusahaan.

Eksperimen seperti ini pernah dilakukan oleh Nicholas Bloom dan James Liang, yang merupakan salah sat upendiri situs perjalanan asal Tiongkok, Ctrip. Mereka memberikan kesempatan pada pegawai untuk bekerja dari rumah selama 9 bulan. Hasilnya memang, menurut Nicholas, "mengejutkan."

"Kami menemukan fakta bahwa pegawai yang bekerja di rumah menyelesaikan pekerjaannya 13,5 persen lebih banyak ketimbang pegawai yang ada di kantor," kata Nicholas. "Dan seperti yang sudah kami prediksi, para pegawai yang kerja di rumah menyatakan memiliki kepuasan kerja yang lebih besar."

Menurut Nicholas dan James, ada alasan kenapa bekerja dari rumah bisa lebih produktif. Suasana di rumah lebih tenang ketimbang kantor. Tak ada distraksi seperti menggosip dengan teman kantor. Selain itu, jam kerja juga akan lebih panjang. Karena mereka tak perlu menghabiskan waktu di jalan, pula bisa mengatur jam istirahat lebih fleksibel.

"Tapi tentu saja perhitungannya tak sesederhana itu. Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilan sistem ini. Antara lain perihal etos kerja," kata James. Selain itu, ujar James, perlu ada rapor yang mengukur produktivitas dan pencapaian kerja para pegawai. Jadi para pegawai tak kemudian terlena dan berleha-leha.

Bagaimanapun, konsep bekerja dari rumah ini menguntungkan dua belah pihak. Bagi perusahaan, mereka tak perlu membeli banyak furnitur. Selain itu, tak perlu menyewa kantor besar untuk banyak orang. Di sisi pegawai, mereka tak perlu mengeluarkan ongkos untuk transportasi. Tak heran kalau selama 9 bulan, perusahaan bisa menghemat pengeluaran sekitar 1.900 dolar per pegawai. Artinya, kalau ada 50 pegawai yang bekerja dari rumah, Ctrip bisa menghemat 95.000 dolar selama 9 bulan.

Jumlah yang lumayan bukan?

Baca juga artikel terkait MILENIAL atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight