Investor Facebook Kembali Minta Zuckerberg Mundur sebagai Chairman

Oleh: Yulaika Ramadhani - 18 November 2018
Dibaca Normal 1 menit
Jonas Kron, Wakil Presiden Senior di Trillium Asset Management yang memiliki saham besar di Facebook telah meminta Zuckerberg untuk mundur sebagai chairman.
tirto.id - Para investor Facebook kembali meminta chairman dan CEO Mark Zuckerberg mengundurkan diri, menyusul laporan investigasi New York Times yang menyatakan pihaknya diduga telah menyewa perusahaan PR untuk mendiskreditkan para kritikus perusahaan seperti miliader George Soros dan Tim Cook.

Dilansir Hindustan Times, Jonas Kron, Wakil Presiden Senior di Trillium Asset Management yang memiliki saham besar di Facebook telah meminta Zuckerberg untuk mundur sebagai chairman.

Berdasarkan laporan dari New York Times, Facebook menyewa perusahaan PR yang berusaha untuk mendiskreditkan para kritikus perusahaan dengan mengklaim diri mereka sebagai agen dari miliader George Soros.

Dampak dari laporan tersebut adalah saham Facebook turun 3 persen pada hari Jumat menjadi 139,53 dolar, terendah sejak April 2017.

George Soros merupakan seorang filantropis Yahudi yang mengecam perusahaan-perusahaan teknologi yang melakukan monopoli seperti Facebook dan Google. Ia menyebut perusahaan 'monopoli' sebagai ancaman bagi demokrasi.

Tak hanya soal 'monopoli', Facebook juga mendapat tekanan dan kritik dari anggota parlemen atas perannya dalam campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden 2016.

Banyaknya tekanan dan kritik terhadap perusahaan yang bermarkas di California itu, membuat Facebook beralih ke Definers Public Affairs, sebuah konsultasi politik yang berbasis di Washington DC yang didirikan oleh koperasi Republik dan mengkhususkan diri dalam penelitian oposisi, menurut laporan New York Times.

Salah satu taktik Definers adalah mempublikasikan lusinan artikel negatif tentang perusahaan teknologi lainnya, termasuk Google dan Apple, untuk mencoba mengalihkan perhatian dan kritik masyarakat terhadap Facebook.

Definiter mempublikasikan konten di NTKNetwork.com, situs web yang terlihat seperti situs berita tetapi sebenarnya dijalankan oleh perusahaan PR. Narasi yang didorong di Jaringan NTK sering diambil oleh situs-situs konservatif seperti Breitbart.

Taktik lain untuk membungkam Soros yaitu mengedarkan dokumen penelitian yang menghubungkan Soros dengan "gerakan anti-Facebook yang luas" dan menggiring opini publik dan wartawan untuk melihat hubungan keuangan antara Soros dan kelompok-kelompok seperti Freedom from Facebook dan Color of Change.

Pihak Facebook tak hanya menyewa perusahaan PR dalam membungkam pengkritik. Para eksekutif di perusahaan itu pun turut serta membungkam pengkritik. Misalnya yang dilakukan Mark Zuckerberg, Chief Executive Officer Facebook.

Mark Zuckerberg meminta pegawainya berhenti menggunakan produk buatan Apple. Ia meminta mengganti perangkat iPhone dengan Android.

Sebagaimana dilansir Mashable, permintaan Mark kepada pegawainya itu dibuat setelah Tim Cook, Chief Executive Officer Apple, menyerang Facebook dengan mengatakan perusahaan itu tak becus menjaga privasi penggunanya.

Terkait pemberitaan The New York Times itu, Facebook menyampaikan tanggapannya "The New York Times salah, telah menyatakan kami pernah meminta Definers untuk membayar atau menulis artikel atas nama Facebook - atau menyebarkan informasi yang salah," Tulis Facebook di newsroom.fb.com.

"Hubungan kami dengan Definers sangat dikenal oleh media - paling tidak karena mereka telah beberapa kali mengirim undangan ke ratusan wartawan tentang pers penting untuk kami. Definers memang mendorong anggota pers untuk melihat ke dalam pendanaan "Freedom from Facebook," sebuah organisasi anti-Facebook. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa itu bukan hanya kampanye akar rumput spontan, seperti yang diklaim, tetapi didukung oleh seorang kritikus terkenal."

Sedangkan terkait imbauan Mark untuk menggunakan Android, Facebook mengatakan "kami telah lama mendorong karyawan dan eksekutif kami untuk menggunakan Android karena ini adalah sistem operasi paling populer di dunia."

Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani