tirto.id - Interception menjadi salah satu cara rudal dalam memburu jet tempur di udara. Rudal menggunakan mekanisme pencegatan melalui sistem pemandu proportional navigation (PN).
Rudal pencegat menghadapi masalah mendasar ketika memburu jet tempur di udara. Pesawat yang jadi target terus bergerak, mengubah arah, dan bermanuver demi menghindari serangan. Jika rudal langsung ditembakkan dan mengarah ke posisi pesawat, target bisa meleset akibat perubahan lintasan.
Rudal modern memakai sistem pemandu. Gunanya memperhitungkan gerakan target dan mengoreksi arah terbang selama proses pencegatan berlangsung. Salah satu prinsip yang dipakai adalah proportional navigation (PN).

Metode proportional navigation bertujuan membantu rudal dalam rangka memotong jalur (interception) penerbangan target alih-alih sekadar mengejar dari belakang. Kemampuan rudal mencegat jet tempur pun terbilang sistematis.
Sebelum bisa menentukan lintasan menuju sasaran, rudal harus menerima informasi awal tentang posisi target, memperbarui data selama penerbangan, lalu mengambil alih pelacakan ketika sasaran sudah masuk ke jangkauan sistem internal.
Sistem Peluncuran Rudal Sebelum Buru Target
Rudal yang dipakai untuk mencegat jet tempur terbagi menjadi dua kelompok utama. Kelompok pertama diluncurkan dari pesawat lain atau disebut air-to-air missile (AAM). Contohnya adalah rudal AIM-120 AMRAAM.
Adapun jenis rudal kedua diluncurkan dari darat atau kapal perang alias surface-to-air missile (SAM). Contoh rudal seperti ini adalah Patriot dan S-400.
Kedua jenis rudal pencegat jet tempur tersebut berbeda dengan rudal balistik yang terbang dengan lintasan melengkung, rudal jelajah yang lintasannya mendatar, maupun rudal hipersonik dan Intercontinental Ballistic Missile (ICBM) atau rudal balistik antarbenua yang dirancang untuk menyerang target di darat dari jarak jauh.
Adapun dari sisi fase, perjalanan rudal lazimnya dibagi menjadi tiga tahap, yakni peluncuran (boost), tahap tengah (midcourse), dan tahap akhir (terminal).

Pada tahap awal, rudal pencegat jet tempur memakai data radar pesawat atau sistem yang meluncurkannya di darat. Untuk sasaran jarak jauh, menurut penjelasan resmi Angkatan Laut AS tentang program AMRAAM, rudal terbang dengan panduan inersia sambil menerima pembaruan data target lewat datalink.
Pada fase awal ini, rudal belum "melihat" target dengan matanya sendiri, melainkan masih dibimbing dari luar. Setelah itu, ketika rudal mendekati sasaran dan mengaktifkan pencari (seeker) mandiri, terjadi fase transisi handover.
Sebagaimana dijelaskan Neil F. Palumbo dan kolega dalam Basic Principles of Homing Guidance, muncul ketidakpastian posisi target akibat akumulasi eror navigasi maupun manuver evasif pesawat selama momen handover. Maka dari itu, tugas utama sistem pemandu di fase terminal alias tahap akhir adalah mengeliminasi komponen eror tersebut.

Di lain sisi, rudal balistik memiliki lintasan melengkung sebelum menuju target. Gambaran lintasannya seperti peluru artileri. Rudal balistik bakal menuju ketinggian tertentu guna menyasar titik target. Dengan memanfaatkan tenaga pendorong roket, ketinggian lebih besar diperlukan untuk sasaran yang semakin jauh.
Seperti dituliskan Indonesia Defense, rudal jelajah mempunyai lintasan mendatar selayaknya pesawat terbang. Rudal perlu meluncur ke ketinggian tertentu sebelum terbang mendatar.
Ketika tenaga pendorong roket sudah mencapai kecepatan yang diinginkan, tenaga pendorong lalu memakai sistem jet. Rudal jelajah baru bisa terdeteksi saat mendekati target.
Interception & Cara Rudal Memotong Jalur Jet Tempur
Interception termasuk istilah yang dipakai ketika rudal memotong jalur jet tempur sebelum menemukan sasaran tembak. Dengan menggunakan metode proportional navigation (PN), rudal mengarah ke titik potong (interception point) dan mendekati target dengan radius jarak pendek.
Sistem rudal pencegat jet terletak pada satu konsep sederhana bernama line of sight (LOS) atau garis pandang. LOS semacam garis lurus imajiner yang menghubungkan rudal dengan jet tempur.
Jika garis terus berputar, berarti rudal sedang "ketinggalan". Jika garis itu stabil (tidak berputar), berarti rudal sudah berada di jalur tabrakan. John P. Janus dari Aerospace Corporation, dalam laporan tutorial Homing Guidance tahun 1962, menjelaskan dua cara dasar.
Cara pertama disebut pure pursuit. Rudal selalu diarahkan langsung ke posisi pesawat saat itu. Hasilnya, biasanya bakal berakhir kejar-kejaran dari belakang untuk peluncuran yang hampir berhadap-hadapan.
Cara kedua ialah constant-bearing collision. Rudal diarahkan ke titik di depan pesawat. Jika laju perubahan garis pandang ditekan mendekati nol, rudal berada di jalur tabrakan.

Dari situlah lahir proportional navigation. Rudal mengukur seberapa cepat garis pandang berputar, lalu memberi koreksi arah yang sebanding dengan putaran. Kian cepat garis pandang berputar, maka kian tajam rudal berbelok.
Ide ini bukan barang baru. Pada Juli 1946, Charles E. Watkins dari National Advisory Committee for Aeronautics alias NACA (kini NASA) sudah membandingkan empat metode pemakaian target seeker.
Dalam laporan NACA ACR L6B06, ia menyimpulkan bahwa navigasi proporsional jadi metode terbaik untuk memandu rudal dalam mengejar dan mencegat target.
Watkins menemukan bahwa metode pengejaran langsung hampir selalu membuat rudal berakhir di belakang sasaran. Kondisi tersebut mudah dihindari oleh jet tempur. Adapun jika memakai navigasi proporsional, mayoritas rudal bakal terhindar dari jebakan kejar-kejaran dari belakang.

Nantinya, saat jarak sudah dekat dengan target, radar aktif di dalam rudal mengambil alih. Mengacu sistem yang dipakai AIM-120 AMRAAM, pemicu jarak dekat (proximity fuze) bakal meledakkan hulu ledak tanpa harus menabrak badan pesawat secara langsung. Pecahan dan gelombang kejut yang dihasilkan sudah cukup untuk merusak atau menghancurkan target.
Singkatnya, rudal tidak mengejar di mana jet tempur berada. Ia terus-menerus menghitung di mana jet tempur akan berada, lalu terbang ke sana untuk memotong jalur, kemudian meledak. Prinsip yang sudah dikaji sejak 1940-an ini masih dipakai di rudal-rudal pencegat paling canggih saat ini.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































