Influencer Cilik: Sekadar Hobi atau Eksploitasi Anak?

Ilustrasi influencer anak. FOTO/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 10 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Influencer anak bisa mendapat penghasilan jutaan dolar. Para orangtua pun semangat mendorong anak mereka jadi bintang YouTube.
tirto.id - YouTuber berpenghasilan tertinggi pada 2018 adalah Ryan, bocah usia tujuh tahun yang rutin tampil dalam akun Ryan Toys Review. Sampai artikel ini ditulis, Ryan punya 18,9 juta pelanggan dan tayangan video di akunnya bisa ditonton hampir satu miliar orang. Forbes melaporkan bahwa dalam kurun waktu satu tahun, total pendapatan Ryan mencapai $22 juta.

Sebagian besar pemasukannya didapat dari iklan pendek yang tayang beberapa detik sebelum video resmi dimulai. Sebagian lainnya didapat kala Ryan mensponsori produk mainan anak.

Empat tahun lalu, Ryan adalah penggemar tayangan mainan anak yang ditayangkan di YouTube. Waktu itu ia melihat anak seusianya tampil dalam sejumlah tayangan tersebut. Usai menonton, Ryan bilang ke ibunya ia ingin momen bermainnya direkam dalam bentuk video.

Sang ibu menuruti permintaan Ryan. Video pertama Ryan Toys Review menampilkan bocah tiga tahun memilih mainan di toko mainan, membukanya, lalu merangkai mainan di dalam rumah.

“Anak-anak suka menonton adegan membuka boks mainan [unboxing] karena membuat mereka semangat. Aksi unboxing membawa kesenangan tersendiri karena memberikan kesan bahwa mereka telah menerima hal yang mereka diinginkan. Meski sebenarnya mereka hanya menyaksikannya secara virtual,” kata Chas Lacaillade, pendiri dan CEO of Bottle Rocket Management, agen influencer digital.


Saat ini Ryan dikontrak oleh sebuah perusahaan retail yang akan memproduksi mainan, busana, dan aksesori yang menampilkan sosoknya. Barang-barang tersebut turut dijual di Amazon.

Kekayaan influencer cilik telah jadi topik hangat di Amerika Serikat selama tiga tahun terakhir. Berbagai perusahaan yang memiliki target pasar balita dan anak lebih suka membayar influencer ketimbang memasang iklan di televisi yang ratingnya makin buruk. Di samping itu, memberikan imbalan produk kepada influencer yang juga merupakan pengguna produk dipandang lebih efektif.

“Mereka punya banyak pengikut. Proses pengunggahan produk jauh lebih cepat ketimbang proses pembuatan iklan, dan cara influencer mengulas produk lebih mirip rekomendasi yang disampaikan oleh seorang teman,” tulis jurnalis Sapna Maheshwari dalam laporannya di New York Times.

Tren ini membuat banyak orangtua, terutama ibu rumah tangga, telaten dalam menjalani peran sebagai ibu influencer anak. Michelle Foley, ibu influencer anak Ava, bintang akun YouTube Besties berkata bahwa dalam sehari ia biasa mendapat sekitar 10 email dari berbagai perusahaan yang berniat mensponsori tayangan video anaknya.



Kyler Fisher, orangtua influencer kembar Taytum dan Oakley yang memiliki jutaan pengikut di Instagram mengaku mendapat uang sekitar $10.000-$20.000 untuk satu unggahan di Instagram. Bila perusahaan ingin produknya tampil di akun YouTube, maka honor akan meningkat jadi $25.000-$50.000 per tayangan.

Dalam wawancara dengan Fast Company, Fisher menyatakan bahwa kini ia keluarganya belum mendapat jumlah uang yang spektakuler karena kedua anak mereka belum bisa bicara. Tapi, Fisher yakin bila kelak anak kembarnya sudah bicara lancar, ia akan mendapat penghasilan berkali lipat lebih besar.

“Kami tidak akan hidup seperti sekarang tanpa anak-anak. Keluargaku seperti sebuah paket komplit,” kata Fisher, blogger yang kini sedang mengandung anak ketiga--ia telah membuat akun Instagram untuk anak yang belum lahir dan telah meraih 40.000an pengikut.


Di sisi lain, popularitas influencer membuat para orangtua cemas akan keamanan anak mereka. Nguyen Miyoshi mengatakan kepada Fast Company bahwa setiap hari ia mengecek tiap pengikut akun media sosial anaknya, memblokir akun yang tidak kredibel, dan menghapus komentar negatif. Ia takut anaknya didekati pedofil.

Ketakutan tersebut membuat Miyoshi selalu memakaikan kacamata hitam ke sang anak bila sedang keluar rumah. “Yang aku dengar, pedofil memikat anak-anak dari sorot mata. Itu sebabnya aku memakaikan kacamata agar anakku terhindar dari pria-pria mencurigakan.”

Sementara Fisher menyatakan akan memberi izin kepada anaknya untuk mengoperasikan media sosial ketika sudah remaja. “Aku enggak mau mereka depresi dan berpikir mereka tidak lebih baik dari yang lain.”

Fisher nampak cukup memahami hasil penelitian yang menyebutkan bahwa melihat unggahan foto Instagram berpotensi membuat seseorang merasa tidak sanggup menikmati hidup dan tidak punya kehidupan yang nyaman. Dampaknya adalah rasa tidak percaya diri, kesepian, dan akhirnya kegelisahan serta depresi.


Di sisi lain, Jaqi Clements, orangtua influencer Ava dan Leah mengambil langkah yang sedikit lebih berani. Ia memperlihatkan beberapa komentar buruk di media sosial ke anaknya yang berusia delapan tahun. Clements menjadikan komentar negatif sebagai medium untuk mengajarkan anak mereka agar bersikap baik dan tidak mencontoh perilaku buruk.

Komentar-komentar negatif itu sebenarnya lebih sering dilayangkan untuk para orangtua. Publik menganggap orangtua tidak seharusnya mengeksploitasi anak dengan menjadikan mereka ‘selebritas’ di media sosial.

Para haters datang dari berbagai kalangan mulai dari siswa remaja hingga perempuan dewasa. Mereka menganggap orangtua yang membiarkan anaknya jadi kidfluencer sebagai adalah sosok yang membiarkan publik semakin terjerat dalam kultur konsumerisme dan melupakan prinsip "kerja keras demi penghasilan yang cukup".


Sampai saat ini belum ada aturan yang melarang anak bertindak sebagai influencer. Sejauh ini di AS hanya ada Undang-Undang Aktor Anak California yang lazim disebut UU Coogan. Berlaku bagi aktor, penari, musisi, atau penampil anak, UU Coogan menyatakan orang yang bertanggungjawab atas jasa si anak wajib menyisihkan 15% dari total penghasilan untuk disimpan hingga anak beranjak dewasa dan berhak menikmati tabungan tersebut.

Amanda Schreyer, pengacara yang terbiasa menangani ranah pemasaran, menyatakan kepada Fast Company bahwa aturan tersebut tidak bisa diberlakukan karena aktivitas influencer tidak seperti aktivitas syuting film/iklan/teater yang menyita waktu belajar sang anak.

“Ini area abu-abu,” katanya.

Sampai saat ini, baru orangtua Ryan yang tercatat menerapkan sistem yang dianjurkan UU Coogan. Orangtua lainnya masih mengelola pendapatan sesuai keinginan sambil merancang konsep video sambil bersyukur atas popularitas anak yang bikin mereka kaya.

Baca juga artikel terkait YOUTUBER atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight