Menuju konten utama

Gestur Tiga Jari Para Pendeta di Gereja, Ini Isi Khotbahnya

Para pendeta mengangkat gestur tiga jari saat berkhotbah tentang keadilan, kepedulian sosial, dan pentingnya mengingat sejarah.

Gestur Tiga Jari Para Pendeta di Gereja, Ini Isi Khotbahnya
Lambang 3 Jari oleh GKI Gejayan. threads/gkigejayan
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gestur tiga jari yang identik dengan sejumlah aksi demonstrasi mahasiswa terlihat dalam ibadah di sejumlah gereja pada Minggu (1/11/2026). Gestur tersebut muncul dalam khotbah pendeta di antaranya GPIB Marga Mulya, GKJ Condongcatur, dan GKI Gejayan.

Ketiga pendeta menyampaikan pesan yang berkaitan dengan keadilan, kepedulian sosial, dan pentingnya mengingat sejarah. Meski menggunakan gestur serupa, masing-masing gereja memberikan penekanan makna yang berbeda.

Di GPIB Marga Mulya, Pdt. Jimmy Marcos Immanuel Sormin mengajak jemaat menguji kepekaan dan empati terhadap berbagai persoalan, termasuk dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pdt. Risang Anggoro Elliarso dari GKJ Condongcatur mengaitkan tiga jari dengan ajakan mengingat sejarah gereja dan bangsa. Adapun di GKI Gejayan, Pdt. Rena Sesaria Yudhita menegaskan bahwa iman harus berpihak pada keadilan.

Gestur tiga jari atau three-finger salute bukan simbol yang baru muncul dalam aksi sosial dan politik. Simbol ini dikenal luas melalui serial novel dan film The Hunger Games, yang mengisahkan masyarakat di bawah pemerintahan otoriter Capitol.

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), melalui unggahan di akun Instagramnya menjelaskan bahwa simbol tersebut untuk menunjukkan dukungan terhadap suatu gerakan atau menyatakan solidaritas kepada kelompok yang memperjuangkan perubahan. Karena itu, simbol ini kerap terlihat dalam berbagai aksi demonstrasi mahasiswa.

Isi Khotbah Para Pendeta dengan Gestur Tiga Jari

Berikut isi khotbah para pendeta di gereja Jogja saat mengangkat tiga jarinya:

1. GPIB Marga Mulya

Gestur tiga jari itu muncul dalam rangkaian ibadah Minggu pada 1 November 2026. Salah satunya terlihat dalam ibadah Hari Minggu XXII Sesudah Pentakosta sekaligus perayaan HUT Syukur ke-78 Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) dan ulang tahun ke-169 Gedung Gereja Marga Mulya Yogyakarta, yang diunggah di YouTube.

Dalam ibadah yang mengusung tema “Evaluasi Diri: Kepekaan dan Empati” tersebut, Ketua Majelis Jemaat GPIB Marga Mulya, Pdt. Jimmy Marcos Immanuel Sormin, bertugas sebagai pelayan firman. Ia mengajak jemaat untuk melakukan refleksi dan mengevaluasi kepekaan serta empati dalam kehidupan sehari-hari.

Saat menyampaikan khotbah, Pdt. Jimmy meminta jemaat mengangkat tiga jari sebagai indikator kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi. Ia kemudian menyinggung dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap anak-anak Indonesia.

“Mari kita berefleksi. Mari kita melihat, evaluasi diri kita tentang kepekaan dan empati kehidupan kita. Ketika bacaan ini diajak dalam semangat reformasi, dalam semangat perubahan, dalam semangat keadilan, cek kepekaan di dalam diri kita. Saya mau cek indikator bagi kita yang peka, angkat tiga jarimu,” ucapnya.

Setelah mengangkat tiga jari, Pdt. Jimmy melanjutkan ajakannya dengan menyinggung persoalan yang menurutnya perlu mendapat perhatian jemaat.

“Ketika saya sebutkan, masih pekakah dan punya empatikah terhadap data yang ada saat ini. MBG meracuni hampir 50.000 anak-anak bangsa, angkat ketiga jarimu jika kau punya empati terhadap ini,” katanya.

Pdt. Jimmy kemudian menjelaskan kepada Pandangan Jogja bahwa simbol tiga jari dimaknai sebagai bentuk kepedulian gereja sekaligus penolakan terhadap tindakan yang menimbulkan ketidakadilan. Kepedulian itu, menurutnya, tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga terhadap alam yang mengalami penderitaan akibat kerakusan sekelompok orang.

Ia menegaskan bahwa iman harus diwujudkan melalui tindakan yang memanusiakan manusia, memperjuangkan keadilan dan perdamaian, serta menjadi sahabat bagi seluruh makhluk.

2. GKJ Condongcatur

Gestur tiga jari juga terlihat dalam ibadah Minggu ke-23 Setelah Pentakosta di GKJ Condongcatur pada 1 November 2026 pukul 18.00 WIB. Dalam ibadah yang diunggah ulang di YouTube tersebut, Pdt. Risang Anggoro Elliarso menyampaikan khotbah yang menekankan peran gereja untuk berdiri bersama kelompok miskin dan mereka yang menjadi korban ketidakadilan.

Ia mengingatkan jemaat bahwa gereja tidak semestinya merasa takut ketika menyuarakan kritik terhadap ketidakadilan atau kesewenang-wenangan penguasa. Menurutnya, sejarah gereja tidak dapat dipisahkan dari gerakan reformasi, protes, dan perlawanan terhadap tindakan yang merugikan masyarakat.

Pdt. Risang juga menyinggung prinsip ecclesia reformata semper reformanda, yang berarti gereja yang telah direformasi harus terus-menerus diperbarui. Ia menjelaskan bahwa semangat pembaruan tersebut berawal dari protes dan terus berlanjut melalui berbagai upaya melawan ketidakadilan.

Dalam khotbahnya, ia tidak secara langsung mengajak jemaat turun ke jalan atau melakukan aksi tertentu. Sebaliknya, ia meminta jemaat untuk tidak melupakan sejarah gereja maupun sejarah bangsa agar tidak mudah dibodohi.

Menjelang akhir khotbah, sebuah slide bergambar tiga jari ditampilkan. Pdt. Risang kemudian mengutip kalimat dari penulis Milan Kundera: “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.”

"Karena dengan tidak melupakan misalnya nih di tahun 2029 nanti kita setidaknya tahu pasti siapa yang tidak boleh dipilih lagi," tandasnya.

Gestur tiga jari tersebut merupakan ajakan agar jemaat tidak melupakan sejarah. Ia juga menghubungkannya dengan peringatan Hari Reformasi Gereja yang jatuh pada 31 Oktober. Gereja yang mengingat sejarah akan terus berupaya melawan ketidakadilan.

3. GKI Gejayan

Gestur serupa juga muncul dalam ibadah di GKI Gejayan pada Minggu (1/11). Pdt. Rena Sesaria Yudhita, M.Th., yang merupakan pelayan firman hari itu menyampaikan pesan bahwa iman tidak boleh diam ketika keadilan diabaikan dan kehidupan manusia dikorbankan demi kepentingan penguasa.

“Ketika keadilan diabaikan, ketika kehidupan diinjak-injak demi kepentingan penguasa, iman harus berpihak, iman harus bersuara, iman harus menuntut,” katanya sambil mengacungkan tiga jari.

Ia kemudian mengajukan pertanyaan kepada jemaat mengenai sikap orang Kristen ketika berhadapan dengan ketidakadilan.

"Nah jadi pertanyaannya adalah, apakah boleh orang Kristen nuntut? Atau kita hanya boleh nurut?” ucapnya.

Melalui pernyataan tertulis pada Senin (2/11), Majelis Jemaat GKI Gejayan menjelaskan bahwa tiga jari dimaknai sebagai ajakan untuk mencintai, bukan membenci; membangun, bukan merusak; serta menghadirkan damai sejahtera bagi semua.

Selain gereja-gereja tersebut, dalam posting Thread GKI Gejayan, masyarakat juga membalas ada gerakan serupa di gereja-gereja lain seperti di GKi Kayu Putih, GKI Bintaro Utama, GKI Kranggan, GKI Serpong, hingga GKJ Manahan Solo.

Pendeta-pendeta di gereja tersebut kompak menunjukkan gestur tiga jari diiringi dengan khotbah tentang kepemimpinan, kepedulian sosial, dan empati.

Baca juga artikel terkait GEREJA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra