Riset Lenovo

Generasi Gamer Berikutnya Bukan Sekadar Stereotip

Oleh: Ibnu Azis - 11 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Melalui riset pasar mendalam, Lenovo mengungkap lima segmen gamer berdasarkan seberapa sering mereka bermain.
tirto.id - Riset Lenovo mengungkap bahwa generasi gamer berikutnya bukan sekadar stereotip gamer jaman dulu: anak laki-laki yang betah di dalam kamar dan asyik dengan perangkat gaming-nya.

Laporan yang dipublikasikan pada Senin (10/6/2019) tersebut dilakukan melalui riset pasar mendalam untuk melihat siapakah gamer masa kini, khususnya pemain PC gaming, dan menemukan lima segmen gamer.

Mengenai lima segmen gamer tersebut, antara lain Hardcore, Avid, Moderate, Casual, dan Casual Costumizers.

Hardcore merupakan gamer yang sudah bermain game lebih dari 10 tahun. Ia bermain game demi passion-nya. Biasanya usianya lebih muda dan fokus untuk memainkan game dengan multiplayers. Bermain game adalah prioritas utama mereka dalam mencari hiburan.

Avid merupakan gamer yang bermain game selama lebih dari 9 tahun. Mirip dengan Hardcore, tapi Avid Gamer lebih sering bermain sendiri dan menikmati menonton streaming game. Mereka tidak begitu memperhatikan kualitas grafis sebagai prioritas.

Moderate merupakan gamer yang sudah bermain game selama rata-rata 15 tahun. Mereka biasanya agak lebih tua dibanding dua grup sebelumnya. Mereka suka bermain game tapi tidak senang menonton online streaming.

Casual merupakan gamer yang sudah bermain game selama rata-rata 16 tahun. Mereka suka memainkan single player game dan bermain saat ada waktu luang saja.

Terakhir, Casual Costumizers merupakan gamer yang sudah bermain game selama rata-rata 24 tahun. Grup ini sudah tidak begitu sering bermain game dibanding grup lainnya, biasanya memiliki PC gaming dan masih mengerti komponen terbaru dan cara membangun atau meng-upgrade PC-nya.


Usia Memainkan Peran Penting

Sandhya Nagaraj, Costumer Insights Manager, Intelligent Devices Group, Lenovo mengatakan, karena ada perkembangan jenis gamer, perusahaan atau pihak-pihak yang bergerak di industri gaming perlu melihat dan memahami siapakah gamer saat ini.

Dengan memahami siapa target pasarnya, dan keberagamannya, kata dia, perusahaan akan lebih bisa memahami cara terhubung dengan kebutuhan mereka dan mereka bisa terus meng-upgrade sistemnya di masa depan.

"Bab kehidupan seorang gamer itu penting dan saat mereka semakin dewasa dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar, cara mereka bermain game pun berubah," jelas Nagaraj, melalui rilis tertulis yang diterima Tirto, Selasa (11/6/2019).

Nagaraj melanjutkan, bahwa di antara lima segmen gamer, usia memainkan peran penting. Saat urusan kerja dan keluarga masuk ke aspek kehidupan, waktu tersedia untuk bermain game menjadi terbatas. Tapi hasrat untuk bermain dan keinginan untuk mendapatkan pengalaman gaming yang terbaik masih tetap ada.

"Mereka bisa berubah dari hardcore gamer menjadi moderate gamer, tergantung pekerjaan atau kehidupan. Karena itulah kebutuhan akan gaming PC yang stylish tapi powerful yang memuaskan semua jenis gamer semakin tinggi," katanya.


Gamer Generasi Berikutnya

Dari lima segmen gamer yang ada, menurut Nagaraj, bisa dilihat adanya perbedaan dari seberapa sering mereka bermain, tapi ada satu persamaan, yaitu mereka ingin mendapatkan pengalaman gaming terbaik.

Rata-rata gamer sudah bermain selama bertahun-tahun. Dengan rata-rata 14 tahun, jelas sebagian besar gamer saat ini adalah usia dewasa, yang bermain game sebagai bagian dari rutinitas kehidupan dewasanya.

"Mereka memiliki game sebagai salah satu pilihan untuk hiburannya," kata Nagaraj.

Secara rata-rata, gamer menghabiskan 7,5 jam per minggu untuk bermain video game, dengan 28% gamer bermain lebih dari 10 jam tiap minggu. Sehingga, gamer punya kehidupan di luar gaming.

Genre game yang paling terkenal adalah social atau casual game dan first-person shooters. Genre mungkin berbeda tergantung wilayah, misalnya di Cina, multiplayer online games dan multiplayer online battle arena games lebih tinggi peminatnya.

Untuk waktu bermain, sebagian besar gamer memilih untuk bermain di malam hari (69% dari total waktu seharian), sementara sisanya untuk melakukan kewajiban di pagi dan siang hari. Sebanyak 14% gamer mengatakan mereka bisa bermain kapan saja mereka mau.

"Tapi sebagian besar mengatakan bahwa pekerjaan (67%) dan keluarga (56%) kadang menjadi penghalang bagi mereka untuk bermain lebih sering," tutup Nagaraj.


Baca juga artikel terkait GAME atau tulisan menarik lainnya Ibnu Azis
(tirto.id - Teknologi)

Sumber: Siaran Pers
Penulis: Ibnu Azis
Editor: Agung DH
DarkLight