Dia de Los Muertos: Perayaan Kematian di Meksiko

Oleh: Eddward S Kennedy - 5 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Inilah Halloween ala orang-orang Meksiko.
tirto.id - Bagaimana cara Anda mengenang kerabat yang sudah tiada? Di Meksiko, orang-orang membuat festival untuk itu. Namanya: Dia de Los Muertos atau “Hari Kematian”.

Festival Dia de Los Muertos dirayakan sebagai libur nasional di Meksiko setiap tanggal 1 dan 2 November. Bertepatan dengan perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus (All Saints Day) dan Hari Arwah (All Souls Day) bagi umat Katolik. Tanggal 1 November perayaannya dinamakan Dia de Los Angelitos dan didedikasikan untuk mengenang arwah anak-anak. Sementara pada 2 November disebut Dia de Los Difuntos untuk arwah orang dewasa.

Selama perayaan Dia de Los Muertos berlangsung, tiap keluarga akan menghias rumah mereka dengan membuat altar (ofrendas) yang terdiri dari foto, Aztec Marigold (bunga kematian Mexcio), calacas dan calaveras (kerangka dan tengkorak), gula-gula berbentuk tengkorak, papel picado (semacam ornamen khas Meksiko), lalu makanan, minuman, dan barang-barang kesukaan almarhum semasa hidup.

Ketika mengunjungi makam, mereka akan membawa persembahan untuk kerabat yang telah meninggal, seperti bunga, lilin, juga beberapa jenis makanan dan minuman. Antara lain pan de muerto (roti kematian) yaitu roti telur manis, permen labu, atole (bubur dari tepung jagung yang biasa disajikan saat musim dingin), kacang vanila, kayu manis, piloncillo (gula khas Kolombia), kudapan dari beberapa buah tertentu, serta pulque, minuman fermentasi yang terbuat dari getah agave.

Para sanak famili tersebut nantinya juga akan membersihkan makam lalu menghiasinya dengan berbagai ornamen, Aztec marigold, beberapa perhiasan dan barang milik almarhum, mainan (khusus di makam anak-anak), bahkan juga botol-botol minuman beralkohol untuk makam orang dewasa.

Mereka yang merayakan Dia de Los Muertos percaya para kerabat yang telah tiada bukan hanya akan “bangun” dan ikut merayakan festival itu bersama keluarga masing-masing, tapi juga ikut “menyantap” makanan dan minuman yang telah disajikan, lalu “bermain” dengan barang-barang kesukaannya.

Kendati tradisi “Dia de Los Muertos” paling marak diselenggarakan dari Meksiko (terutama bagian selatan dan tengah), tapi sebagian daerah di Amerika Serikat, Spanyol, serta beberapa negara Amerika Selatan juga ada yang ikut merayakannya. Pada 2008, UNESCO memasukkan tradisi ini ke dalam “Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity”.

Asal-usul

Perayaan “Dia de Los Muertos” diperkirakan merupakan tradisi masyarakat Aztec Kuno yang sudah ada sejak zaman pra-Hispanik atau sekitar 2.500-3000 tahun silam. Dalam kalender masyarakat Aztec, perayaan ini jatuh pada bulan kesembilan atau sekitar awal Agustus, dan dirayakan selama satu bulan penuh.

Awalnya ritual ini tidak dirayakan di Meksiko hingga abad ke-20 karena penduduk asli di sana, yang didominasi orang-orang Mesoamerika, juga memiliki tradisi yang sama. Selain itu, pihak gereja juga menolak perayaan “Dia de Los Muertos” karena dianggap telah mensinkronisasi elemen-elemen pagan dengan Kekristenan Katolik. Sebagai “tandingannya”, pihak gereja kemudian menciptakan Hari Raya Semua Orang Kudus (“All Saints Day”).

Pada 1910, seorang kartunis dan litografer politik Meksiko, José Guadalupe Posada, pernah membuat sebuah sketsa tengkorak perempuan yang memakai pakaian mewah Perancis dan menamakannya Calavera Catrina.

Sosok ini mulanya dianggap sebagai tafsiran Posada dari Mictēcacihuātl, dewi kematian dalam mitologi Aztec. Namun, ia sebetulnya merupakan pesan satir dari Posada kepada masyarakat asli Meksiko yang ia anggap telah mengadopsi budaya Eropa pada masa pra-revolusi.

Calavera Catrina kini telah menjadi ikon dalam perayaan Dia de Los Muertos di Meksiko dan kostum dengan gambar sosoknya selalu dipakai orang ketika festival ini berlangsung, yang dipadupadankan bersama coretan atau ornamen berwarna warni.

Khusus warna-warna tersebut, ada lima jenis warna yang kerap digunakan sebagai penghias saat Dia de Los Muertos, yakni kuning, putih, merah, ungu, merah jambu/pink. Semua warna ini tentunya juga memiliki maknanya masing-masing.

Warna kuning merupakan simbol dari matahari. Hal ini menandakan bahwa di bawah matahari, semua orang adalah sama. Lalu putih bermakna kemurnian atau kesucian. Merah menandakan kehidupan, yang secara spesifik ditafsirkan melalui (warna) darah. Ungu melambangkan rasa kehilangan. Terakhir merah jambu memberi arti kebahagiaan.

Sementara itu, ada tiga kota di Meksiko yang merayakan Dia de Los Muertos dengan kekhasan masing-masing: Pátzcuaro, Mixquic, dan Aguascalientes.

Di Pátzcuaro, sebuah kotamadya di negara bagian Michoacán, sekitar 225 mil sebelah barat Mexico City, Dia de Los Muertos dirayakan dengan begitu epik. Orang-orang, terutama masyarakat pribumi dari pedesaan, akan berkumpul di tepi Danau Pátzcuaro, lalu menaiki kano yang dipenuhi lilin menyala, kemudian mendayung ke sebuah pulau kecil bernama Janitzio untuk berjaga sepanjang malam di sebuah pemakaman pribumi.

Festival Dia de Los Muertos paling meriah terdapat di Aguascalientes. Kota yang terletak di sebelah utara dan berjarak sekitar 140 mil dari Guadalajara ini merupakan tempat kelahiran Posada. Di sini, Dia de Los Muertos dirayakan sepanjang satu minggu penuh. Pada hari puncak akan dilangsungkan pawai tengkorak besar-besaran di sepanjang Avenida Madero.

Jika di kota-kota lain festival Dia de Los Muertos cenderung dirayakan dengan suka cita, hal berbeda dapat ditemukan di Mixquic. Penduduk di kota yang terletak di pinggiran Meksiko ini mengkhidmati “Hari Raya Kematian” dengan mengunjungi San Andres Apostol, bekas biara yang kini menjadi lokasi kuburan keluarga.

Sambil membawa lilin, bunga, serta berbagai sesajian lain yang biasa digunakan saat Dia de Los Muertos, mereka akan membersihkan dan menghias makam para kerabat yang telah tiada. Ketika malam tiba, mereka akan menyalakan lilin, membakar dupa, lalu tetua setempat akan memandu bacaan zikir/doa.

Prosesi ini berlangsung amat menyedihkan, terutama karena masyarakat Mixquic tidak terbiasa menunjukkan kesedihan di muka publik. Dia de Los Muertos, dapat dikatakan, adalah hari bagi mereka untuk mengeluarkan segala rindu dan tangis berlarat yang dipendam selama setahun untuk orang-orang terkasih yang telah tiada.

Infografik Dia de los muertos


Festival Perayaan Kematian di Negara Lain

Samhain merupakan budaya pagan Gaelic yang dibuat untuk menandakan berakhirnya masa panen dan mulai datangnya musim dingin. Umumnya dirayakan mulai tanggal 31 Oktober hingga 1 November. Inilah budaya yang menjadi akar dari tradisi Halloween.

Samhain sudah ada sejak mulai terbentuknya masyarakat komunal Celtic seperti Skotlandia, Irlandia, dan daerah lain seperti Galicia. Menurut mitologi Irlandia kuno, Samhain adalah waktu ketika 'pintu masuk' dari Dunia Lain terbuka hingga memungkinkan makhluk gaib dan jiwa orang mati untuk datang ke dunia manusia.

Dalam budaya Cina, ada satu bulan penuh yang disebut "bulan hantu," di mana hantu dan roh almarhum diyakini keluar dari alam lain. Di dalam "bulan hantu” tersebut, ada juga "festival hantu lapar" yang jatuh pada hari yang sama ketika bulan purnama, dan menandakan panen musim gugur. Mereka menamakannya: “Festival Zhongyuan”.

Bagi umat Buddha dan Tao, selama “bulan hantu” gerbang neraka akan dibuka dan para hantu bebas berkeliaran di bumi untuk mencari makanan dan hiburan. Untuk itulah mereka akan mendedikasikan bulan ini khusus untuk menghormati para leluhur. Praktik semacam ini dilakukan di China, Taiwan, Singapura, dan bagian lain di Asia.

Adapun beberapa tempat lain yang merayakan festival serupa antara lain adalah Jepang, dikenal dengan sebutan "Festival Bon” dan dirayakan selama tiga hari. Lalu di Kamboja juga ada “Pchum Ben”. Di Korea Selatan dan Utara ada “Chuseok”—tradisi ini sejatinya lebih mirip dengan “Thanksgiving”, tapi dirayakan dengan mengunjungi makam para leluhur. Lalu di Nepal ada Gai Jatra, tradisi umat Hindu yang kurang lebih berarti “Festival Sapi”.

Baca juga artikel terkait HALLOWEEN atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Eddward S Kennedy