Demonisasi Perempuan dan Judi Ceki di Koran Kolonial

Penulis: Randi Reimena, tirto.id - 9 Agu 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Perempuan di Nusantara digambarkan oleh koran-koran Belanda sebagai manusia jahat jika bermain ceki.
tirto.id - “Semoga Iblis segera mengambil lagi permainan jahat ini,” kata seorang penulis di tahun 1885.

Tulisan itu merupakan surat pembaca yang dimuat surat kabar Soerabaijasch Handelsblad, 27 November 1885. Si penulis tengah merespons berita soa dua orang ibu rumah tangga yang keranjingan main judi ceki. Ibu yang satu menelantarkan anaknya sampai mati. Sedangkan yang satunya lagi mengabaikan suaminya hingga si suami mati. Bukannya sedih, si ibu rumah tangga malah senang karena ia menang banyak ketika suaminya itu mati.

Begitulah jahatnya permainan ceki digambarkan dalam koran-koran berbahasa Belanda yang terbit pada akhir 1880-an sampai awal 1900-an. Namun, ceki seringkali dianggap demikian jahat ketika yang memainkannya perempuan. Keburukan permainan kartu yang juga disebut kwa atau koa itu, lebih sering dikaitkan dengan stereotype atas perempuan yang irasional, culas, tolol, dst.

Sangat banyak pemberitaan mengenai ceki yang berkaitan dengan perempuan ditulis dalam kerangka membenarkan anggapan patriarkis tersebut. Sedangkan yang berkaitan dengan laki-laki diberitakan secara datar saja. Laki-laki pejudi ceki yang ditangkap, tidak digambarkan memiliki sifat-sifat iblis seperti dua perempuan pada berita di atas; mereka umumnya digambarkan sebagai kriminal biasa belaka.

Anggapan bahwa perempuan tidak rasional, percaya pada hal-hal tahayul, misalnya, muncul dalam berita De Locomotief, edisi 5 Desember 1885. Kontributor surat kabar ini melaporkan bahwa seorang perempuan kehabisan harta benda karena ramalan kartu ceki. Awalnya si perempuan datang ke peramal untuk mencari tahu arti mimpinya yang aneh. Peramal yang menggunakan kartu ceki sebagai medium ramalan, mengatakan bahwa mimpi itu pertanda keberuntungan dan menyarankan si perempuan bermain ceki hari itu juga.

Perempuan-perempuan, terutama Tionghoa dan Jawa, digambarkan begitu mudah tergoda untuk terjun dalam perjudian. Pada Juli 1899, De Locomotief menerbitkan surat pembaca yang berisi keluhan mengenai maraknya judi ceki di kalangan perempuan. Ia menyebut bahwa di tiap acara perayaan, mulai dari ulang tahun dan pesta pernikahan, para perempuan bermain ceki sampai lupa diri. Pada 1987, para perempuan desa di Jawa Timur diberitakan tengah dilanda gila judi ceki, bermain siang dan malam (De locomotief, 10/11/1897).

Merebaknya judi ceki, juga dikait-kaitkan dengan peran para perempuan pengelola rumah-rumah judi; bahwa merekalah yang telah mendirikan sarang-sarang perjudian itu (De Locomotief, 27/06/1884 & Java-bode, 17/10/1884).

Sifat perempuan yang mereka sebut tidak bisa mengendalikan diri dari godaan ceki itu, mendorong mereka untuk mengingkari kodratnya serta menghalalkan segala cara demi bisa bermain ceki. Gara-gara kecanduan ceki, ibu-ibu mengabaikan pekerjaan utamanya sebagai ibu rumah tangga (Soerabaijasch Handelsblad 04-05-1882). Seorang perempuan diberitakan nekat mencuri dan menjual dasi dan celana suaminya untuk modal bermain ceki (Soerabaijasch Handelsblad, 02/11/1885).

Para perempuan yang tidak bisa menahan godaan untuk bermain ceki, dan karenanya terlilit hutang pada rentenir, dituduh sebagai sebabnya. (De Locomotief, 15/07/1899).

Kolonialisme dan Patriarki

Sebagian besar berita-berita itu, secara khusus, jelas mencerminkan kebencian orang Belanda totok terhadap perempuan pribumi yang menjadi gundik dan melahirkan anak setengah Belanda setengah pribumi itu. Ia juga cerminan kebencian terhadap pergundikan dimana perempuan dilihat sebagai sumber penyakit.

Namun idiologi patriarki yang beroperasi di balik pemberitaan-pemberitaan itu tidak bisa hanya dilihat sebagai sekadar ekspresi kebencian terhadap perempuan pribumi. Lebih jauh, ia bisa dilihat dalam kaitannya dengan tujuan-tujuan kolonialisme itu sendiri, yaitu eksploitasi sumber daya alam koloni sejadi-jadinya.

Berapa sarjana telah memperlihatkan bagaimana hubungan sokong-menyokong antar kolonialisme dan patriarki. Idiologi patriarki berperan besar dalam menopang kuasa kolonial, dan di saat yang sama patriarki terus diperteguh oleh kolonial.

Di Hindia Belanda, apa yang bisa disebut sebagai demonisasi terhadap perempuan ini, beriringan dengan dibukanya perkebunan-perkebunan swasta di Sumatera berkat kebijakan ekonomi liberal sejak 1870.

Perkebunan-perkebunan tembakau dibuka. Untuk memaksimalkan keuntungan para pemodal membutuhkan tenaga kerja murah, dan perempuan adalah jawabannya. Para perempuan dari desa-desa di Jawa, di mana bersarang para perempuan pribumi yang gila judi itu, diberangkatkan ke Sumatera Timur untuk bekerja di perkebunan tembakau.

Di tempat-tempat ini mereka diperlakukan seperti bukan manusia. Mereka digaji jauh lebih murah dibanding pekerja laki-laki. Pekerja perempuan ini juga dieksploitasi secara seksual. Mereka jadi saluran pelepasan libido seksual pekerja dan mandor yang dianggap bisa lebih mendorong lagi produktifitas. Peran mereka serupa dengan keberadaan Jugun Ianfu yang dianggap Militer Jepang mampu memacu semangat perjuangan para serdadu pria.

Membela Ceki

Partisipasi perempuan dalam perjudian bukan hal baru dalam sejarah. Di negeri-negeri Bawah Angin, di mana Nusantara adalah bagiannya, permainan kartu, termasuk ceki, merupakan “permainannya kaum perempuan” tulis Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680 Jilid 1 Tanah di Bawah Angin (2012: 229).

Pada abad-abad 15 dan 17 itu, “bertaruh pada umumnya lebih penting daripada perjudian itu sendiri, dan bermain kartu semata-mata untuk menghabiskan waktu tanpa berjudi merupakan suatu kejanggalan” lanjut Reid.

Namun ia menggarisbawahi, terlibatnya seseorang dalam permainan kartu yang populer itu “tidaklah terutama didorong oleh keinginan untuk menang besar melainkan didorong oleh keinginan untuk mengidentifikasi diri dengan kelompok keluarga serta golongan.”

Sebelum Reid menulis hubungan perempuan dan perjudian kartu tanpa tendensi melakukan demonisasi atas perempuan, beberapa orang di abad 19 juga mencoba menyampaikan pandangan serupa itu.

Seorang koresponden di Soerabaijasch Handelsblad (04/10/1886), membela perempuan-perempuan di Mojokerto yang dikecam penulis lain karena kegemaran bermain ceki. Menurutnya, para perempuan di Mojokerto, sama seperti di tempat lainnya, hanya bermain ceki saat merayakan ulang tahun. Lagipula, tambahnya, mereka bermain ceki untuk memeriahkan pesta. Permainan ceki adalah pengganti bagi piano atau tarian yang tidak dikuasai perempuan-perempuan tersebut.

Ada juga yang menganggap kegemaran perempuan bermain ceki sebagai sebentuk kebebasan. Pandangan ini muncul dari seorang penulis di De Locomotief (18/12/1882). Ia mengapresiasi seorang penulis Melayu yang menuliskan pantun tentang ceki di sebuah majalah berbahasa Melayu:

Djanda itoe jang tida poenja laki,
Masak sesuka hati tida jang maki,
kaloe dudoek bermain tjeki,
tida bertjampoer sama lelaki.

Seperti dalam pepatah lama, kata si penulis itu saat mengomentari pantun di atas, tidak ada hal yang demikian buruk sehingga masih ada sesuatu yang baik untuk dilihat di dalamnya.

Semua surat kabar yang dikutip dalam tulisan ini diakses di https://www.delpher.nl

Baca juga artikel terkait CEKI atau tulisan menarik lainnya Randi Reimena
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Randi Reimena
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight