Menuju konten utama

Benarkah Olahraga Lari Tidak Baik untuk Sendi dan Lutut?

Narasi olahraga lari tidak baik untuk kesehatan sendi dan otot muncul di media sosial, lantas benarkah klaim tersebut sepenuhnya benar.

Benarkah Olahraga Lari Tidak Baik untuk Sendi dan Lutut?
Outfit Jogging Pria. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lari menjadi salah satu olahraga yang digemari masyarakat belakangan ini. Berbagai event lari yang diselenggarakan pun belakangan mampu menarik puluhan ribu peserta, baik orang yang sudah terbiasa mengikuti lari, maupun sekelompok peserta yang menggandrunginya sekadar lalu atau ikut-ikutan saja.

Terlepas dari beragam alasan yang membuat orang ikut event lari, muncul anggapan bahwa olahraga ini tidak baik untuk sendi dan lutut. Hal ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa diamini begitu saja.

Ada sebab akibat dari olahraga lari seperti half marathon, full marathon, atau lari dengan jarak tertentu baik untuk kesehatan sendi dan lutut atau tidak. Mulai dari kebiasaan, intensitas maupun persiapan yang dilakukan dalam mengikuti sebuah event.

Olahraga lari, jika dilakukan dengan cara yang benar dapat memperkuat sendi dan melindungi diri dari osteoarthritis atau pengapuran sendi. Namun, jika dilakukan asal-asalan, akibatnya bisa buruk untuk kesehatan.

Lari Ternyata Baik untuk Kesehatan Sendi dan Lutut

Dalam artikel "Does running cause arthritis" yang terbit di laman Harvard Health, olahraga lari disebut sangat bagus bagi kesehatan tubuh. Semakin menua umur seseorang, tubuhnya butuh beraktivitas secara rutin agar tidak kaku, salah satunya dengan berlari secara teratur.

Bukan menunggu saat sudah tua, kemudian mulai berolahraga, aktivitas yang dilakukan pada usia muda juga dapat menjadi investasi kesehatan. Salah satunya dengan melakukan olahraga lari.

Dalam penelitian yang dilakukan Alentorn-Geli dkk. "The Association of Recreational and Competitive Running With Hip and Knee Osteoarthritis: A Systematic Review and Meta-analysis" (2017),orang yang melakukan lari santai memiliki tingkat prevalensi osteoarthritis yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak berlari, atau dibandingkan orang yang menghabiskan masa muda terlalu bersantai tanpa olahraga.

Seorang wanita muda sakit Lutut

Ilustrasi Seorang wanita muda sakit Lutut. FOTO/iStockphoto

Sendi lutut manusia dirancang untuk bisa menahan beban. Ketika seseorang berlari, tulang rawan di lutut mengalami kompresi ringan yang merangsang sel-sel di dalamnya untuk memperbarui diri dan menjadi lebih kuat. Singkatnya, hal itu mirip dengan bagaimana otot tumbuh lebih kuat setelah dilatih.

Tidak hanya itu, olahraga lari merupakan cara terbaik untuk membakar kalori. Menjaga berat badan ideal dapat mengurangi beban mekanis yang harus ditanggung oleh sendi lutut setiap kali seseorang melangkah.

Hal itu sekaligus membantah mitos bahwa lari tidak baik untuk kesehatan lutut dan sendi. Corey Rozvar, peneliti pascadoktoral di Stanford Prevention Research Center pun memperkuat fakta bahwa lari tidak menjadi ancaman bagi pengapuran sendi.

"Bertentangan dengan keyakinan yang beredar secara umum, bukti terkini menunjukkan bahwa lari santai tidak menjadi faktor ancaman bagi pengapuran sendi. Faktanya justru sebaliknya, lari bisa bermanfaat bagi lutut Anda."

Mengapa Orang Menganggap Lari Berbahaya untuk Sendi?

Narasi mengenai olahraga lari bisa berdampak buruk bagi sendi dan lutut belakangan beredar di masyarakat luas. Namun, hal itu tidak berasal dari penelitian yang komperhensif, melainkan potongan video di media sosial, terutama TikTok.

Narasi yang menyebut olahraga tidak baik untuk sendi dan lutut muncul dari anggapan sendi sama seperti bantalan mekanis pada sebuah mesin. Semakin sering digunakan, semakin cepat barang tersebut menjadi aus atau rusak. Hal itu yang menimbulkan anggapan bahwa lari tidak bagus bagi kesehatan sendi dan lutut.

Selain itu saat berlari, kaki menapak tanah atau tercipta benturan dengan tanah yang setara dua hingga tiga kali berat badan pelari. Hal itulah yang menjadi dasar argumen lari dapat merusak kinerja lutut dalam jangka panjang.

Faktor trauma juga menjadi pandangan lain kenapa lari tidak bagus bagi sendi dan lutut. Bisa jadi, mereka mengenal seseorang yang sebelumnya mengalami cedera lutut dan membuat kesimpulan mandiri bahwa lari tidak bagus bagi kesehatan sendi dan lutut.

Hanya saja, cartilage atau jaringan tulang rawan pada sendi justru membutuhkan beban dan pergerakan untuk mendapatkan nutrisi. Kembali pada pembahasan di atas, orang yang gemar berlari memiliki tingkat risiko osteoartritis yang lebih rendah.

Kemudian soal benturan antara kaki dengan tanah, faktanya adalah tubuh mampu meredam benturan tersebut melalui otot, tendon, dan ligamen. Bagian tubuh lain seperti tulang rawan juga memberiman respon tekanan berulang dengan menjadi lebih padat dan kuat dengan catatan peningkatan intensitas lari dilakukan secara bertahap.

Kapan Olahraga Lari Bisa Berisiko untuk Kesehatan?

Lari memang terhitung aman bagi kebanyakan orang. Tapi tidak menutup kemungkinan ada risiko yang ditakutkan terjadi pada pelari, misalnya saja mengalami cedera.

Terdapat beberapa kondisi yang menjadikan lari menjadi lebih berisiko bagi sang pelari. Salah satunya adalah faktor kelebihan berat badan atau obesitas.

Beban ekstra pada sendi penumpu berat badan (terutama lutut dan pergelangan kaki) dapat melampaui kapasitas adaptasi jaringan jika langsung memulai lari intensitas tinggi. Oleh sebab itu, jika memiliki berat badan yang tinggi, lebih dianjurkan melakukan jalan santai alih-alih lari.

Jakarta Running Festival 2026

Peserta mengikuti Jakarta Running Festival 2026 di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Perhelatan olahraga lari yang berlangsung pada 24-25 Oktober 2026 dengan kategori 5K, 10K, Half Marathon, dan Full Marathon tersebut diikuti lebih dari 37 ribu pelari dari 48 negara termasuk sekitar 1.000 pelari internasional dan 500 dari komunitas lari. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/nym.

Selain itu, seorang pelari juga tidak boleh tutup mata akan kondisi kesehatannya. Misalnya saja pelari yang memiliki riwayat cedera lutut atau ACL (Anterior Cruciate Ligament), perlu berdiskusi dengan pihak medis sebelum menjadikan lari sebagai olahraga utamanya.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan pemanasan sebelum berlari. Dalam olahraga apa pun, pemanasan adalah hal terpenting sebelum melakukan kegiatan olahraga untuk meminimalisir risiko cedera.

Dengan melakukan pemanasan sebelum berlari, seorang pelari bisa mendapatkan manfaat maksimal dari berlari itu sendiri. Jangan sampai

tujuan lari adalah untuk memperkuat sendi dan lutut sebagai bekal di masa tua, bukan untuk mendapatkan cedera karena malas melakukan pemanasan.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah memilih equipment atau peralatan lari yang tepat. Terutama memilih sepatu lari yang tepat sesuai bentuk kaki agar tidak mengalami cedera ketika berlari.

Baca juga artikel terkait LARI atau tulisan lainnya dari Wan Faizal

tirto.id - GWS
Kontributor: Wan Faizal
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama