Benarkah MacBook M1 Sehebat yang Dibicarakan Orang-orang?

Oleh: Ahmad Zaenudin - 14 Februari 2021
Dibaca Normal 5 menit
Banyak orang bilang MacBook M1 adalah kesuksesan Apple tahun ini. Saya tidak percaya begitu saja dan mencobanya sendiri.
tirto.id - Pada Juni 2005, dalam acara Apple Worldwide Developers Conference (WWDC), Steve Jobs mengungkapkan bahwa Apple telah melakukan dua kali transisi besar. Transisi pertama, yang ia sebut "dilakukan Apple di luar kendali saya", terjadi pada pertengahan 1990-an, yakni perpindahan penggunaan prosesor dari chip buatan MOS Technology (68K) menuju PowerPC untuk komputer Mac. Transisi kedua, yang dilakukan usai Apple membeli NeXT, ialah mengganti kode inti Macintosh dengan NeXSTEP. Beralih dari Macintosh OS 9 menuju OS X. Peralihan ini, sebut Jobs, "lebih besar" karena "OS X merupakan sistem operasi terhebat di planet Bumi."

Di acara yang sebetulnya ditujukan untuk mempertemukan para pengembang aplikasi Macintosh (dan iOS) itu, Jobs lantas mengumumkan transisi lanjutan, transisi ketiga, yakni peralihan penggunaan chip PowerPC menjadi Intel. Bagi Jobs, mengganti chip di komputer Mac dengan Intel dilakukan karena "Apple ingin membuat komputer terbaik yang dicari-cari masyarakat." Dan dengan tegas, klaim Jobs setahun kemudian, prosesor buatan Intel adalah "yang terkini dan terbaik" di dunia.

Waktu berlalu. Empat belas tahun setelah Steve Jobs meninggal dan tampuk pimpinan Apple jatuh ke tangan Tim Cook, CEO baru itu merevisi klaim mantan bosnya. Dalam acara WWDC pada pertengahan 2020, Cook menganggap Intel tak lagi menjadi "yang terkini dan terbaik" dan Apple akhirnya mengganti chip Intel dengan Apple Silicon, prosesor rancangan Apple sendiri dengan arsitektur ARM.

"Apple Silicon akan membuat Mac jauh lebih bertenaga dan mampu melakukan tugas apapun daripada sebelumnya," klaim Cook.

Tepat pada November 2020, Apple benar-benar mengganti chip Intel pada komputer Mac dengan Apple Silicon, yang namanya berubah menjadi 'M1'. Prosesor ini tersemat dalam Mac Mini, MacBook Air, dan MacBook Pro "Late 2020."

Akhirnya, usai dijual secara resmi di Indonesia sejak pertengahan Januari 2021 melalui jalur distribusi milik PT Teletama Artha Mandiri (sesungguhnya MacBook M1 dapat dibeli sejak Desember 2020 melalui Tokopedia dengan catatan keras: "garansi internasional"), saya dapat menyebut bahwa klaim Cook soal Apple Silicon tidak berlebihan.

iPhone Berwujud MacBook

Selama dua pekan menggunakan MacBook Air M1, cuma satu yang saya rasakan: fantastis—tentu dengan "syarat dan ketentuan berlaku".

Pilihan saya jatuh kepada MacBook Air, bukan MacBook Pro atau Mac Mini, karena MacBook Air M1 secara teknis tidak berbeda dengan MacBook Pro M1. Ketiga lini Mac ini sama-sama menggunakan chip M1 dengan jumlah core prosesor yang sama, yakni 8 core. Perbedaan hanya terletak pada core GPU (untuk memproses grafis).

Pada seri terendah Air, core GPU hanya berjumlah 7, sementara Pro memiliki 8 core GPU. Di seri Air yang lebih tinggi, jumlah core GPU sama, 8 core. Selebihnya, Air, Pro, dan Mini hanya dibedakan dengan kapasitas penyimpanan plus beberapa gimik ala Apple: tingkat kecerahan layar, kipas, jumlah port thunderbolt/USB type C, kapasitas baterai, dan Touch Bar—perintilan-perintilan yang sangat sukar membenarkan perbedaan harga hingga Rp4 juta antara Air dan Pro.

Bagi saya, sebagai jurnalis penuh waktu dan programer paruh waktu, MacBook Air adalah pilihan paling tepat untuk bekerja sekaligus merasakan ARM sebagai otak inti komputer.

Selama puluhan tahun, dengan dukungan kongsi Microsoft dan Intel alias "Wintel" (Windows dan Intel) serta keputusan Apple menggunakan chip Intel sejak pertengahan 2000-an, hampir semua aplikasi komputer diciptakan hanya untuk bekerja pada prosesor berarsitektur x86 atau Complex Instruction Set Computer (CISC). Surface RT (generasi pertama Surface dari Microsoft yang menggunakan ARM) dan Surface Pro X, misalnya, gagal di pasaran karena ketiadaan dukungan aplikasi untuk ARM. Bahkan, mendengar keputusan Apple pindah ke Apple Silicon meninggalkan Intel, Lisa Spelman, Wakil Presiden Intel, ragu-ragu dengan Apple.

"Intel telah membangun ekosistem x86 selama lebih dari 20 tahun karena para pengembang aplikasi merasa nyaman (dengan x86)," katanya.

Para pengembang aplikasi, klaim Spelman, tidak ingin kerepotan dengan menulis ulang kode mereka. Tak heran, dengan menggunakan chip berarsitektur ARM, MacBook M1 memiliki kendala yang krusial: aplikasi.

Kendala ini memang terbukti dalam beberapa segi. Chrome, misalnya. Di akhir 2020, tak lama usai M1 muncul, Google merilis versi beta Chrome untuk ARM. Sialnya, Chrome ARM mengalami kendala, crash ketika dibuka di MacBook M1, yang membuat Google menarik kembali produk tersebut di pasaran. Jika hendak menggunakan Chrome di MacBook M1, Google hanya memberikan versi x86 (Intel) dan ketika saya mencobanya Chrome sebetulnya lancar jaya digunakan.

Namun, dalam banyak kesempatan, khususnya ketika mengunjungi layanan-layanan Google (Gmail, YouTube, Google API Console), Chrome versi Intel yang dijalankan pada MacBook M1 mengalami kendala autentikasi akun Google. Ketika sign in, Google menganggap Chrome yang saya gunakan "tidak aman" dan meminta "menggunakan browser lain."

Kendala autentikasi akun Google pun saya alami ketika menggunakan Edge versi Intel yang kebetulan memiliki kode inti yang sama dengan Chrome, Chromium. Tapi kendala autentikasi ini tidak (atau belum) saya temukan ketika menggunakan Safari—yang telah dirancang untuk bekerja pada ARM.

Untuk mengatasi masalah Chrome, satu-satunya solusi terbaik adalah dengan menggunakan Chrome Developer alias Chrome versi pengembang website/web-apps yang telah mendukung arsitektur ARM. Menggunakan Chrome Developer, masalah autentikasi akun Google tidak ditemukan. Untuk Edge, problem autentikasi akun Google dapat diatasi dengan me-restart MacBook.

Dan jika Anda adalah pengguna Edge seperti saya, pesan saya satu: sebisa mungkin jangan pernah menekan "Quit Microsoft Edge" pada menu bar atau double-tap ikon Edge pada Dock (bukan tombol close). Karena ketika "Quit Microsoft Edge" ditekan, Edge me-log-out semua website/web-apps yang saya gunakan dengan fitur "Sign in with Google." Ini merepotkan.

Selain Chrome dan Edge, tidak ada masalah yang saya alami ketika menggunakan MacBook M1, bahkan jika aplikasi yang saya gunakan hanya mendukung arsitektur x86. Lightroom (sudah versi ARM) dan Photoshop (masih versi Intel) bekerja dengan baik di MacBook M1. Untuk aplikasi Adobe, satu-satunya kendala minor yang saya alami adalah kotak pilihan ukuran dokumen di Illustrator terkadang tidak muncul. Selebihnya, aplikasi Adobe lain lancar jaya.

Tak ketinggalan, Atom (code editor dan masih versi Intel), Microsoft Word (versi Intel), Visual Studio Code (versi Intel), Android Studio (versi Intel), VLC (versi Intel), dan berbagai aplikasi buatan Apple (yang tentu saja sudah versi ARM) bekerja dengan baik pada MacBook M1. Aplikasi buatan saya sendiri bernama Kwaya, aplikasi word processing seperti Microsoft Word atau Google Docs, juga lancar-lancar saja.

Kesuksesan M1 menjalankan aplikasi x86 terjadi berkat Rosetta 2, seperti Wine (untuk Linux), yang sukses "menipu" aplikasi x86 bahwa M1 adalah Intel. Rosetta terinstal secara default pada MacBook M1.

Soal aplikasi, satu-satunya kekecewaan saya kepada MacBook M1 adalah ingkar janji Craig Federighi, Wakil Presiden Senior Apple. Ketika M1 diluncurkan, Federighi mengklaim versi terbaru Mac ini "dapat menjalankan 90 persen aplikasi iOS." Nyatanya, Apple lalu memberikan pilihan kepada pengembang apakah mereka mengizinkan aplikasi buatannya dapat dijalankan pada MacBook atau tidak. Plus, Apple mematikan kemampuan sideloading—semacam menginstal aplikasi di Android melalui file apk—pada M1.

Akhirnya, hanya aplikasi iOS recehan yang dapat saya gunakan pada MacBook M1. Tidak ada aplikasi Gojek, Grab, atau bermacam game iOS pada MacBook M1. Untuk masalah ini, MacBook M1 kalah telak jika dibandingkan dengan Chromebook yang sanggup menjalankan semua aplikasi Android serta laptop-laptop Windows yang dapat mengemulasi aplikasi Android dengan baik (dengan catatan: jika menggabungkannya dengan ponsel premium dari Samsung).



Terkait hardware, seperti seri Spectre dari HP, Surface dari Microsoft, ataupun ThinkPad seri X sekian Carbon sekian dari Lenovo, tak perlu meragukan kualitas MacBook. Beruntung pula, Apple akhirnya sadar bahwa keyboard rancangan mereka bernama Butterfly memang layak disebut sampah alih-alih teknologi unggul dan memilih menggunakan keyboard konvensional pada MacBook M1.

Yang paling menggembirakan soal hardware, baterai MacBook Air M1 (lithium-polymer 49,9 watt-jam) yang saya gunakan sangat tangguh. Beberapa kali saya gunakan MacBook M1 untuk bekerja dari kumandang azan asar hingga azan subuh hanya menggunakan baterai, tidak dicolok ke listrik. Dalam uji iseng-iseng yang saya lakukan, MacBook M1 sanggup hidup selama 13 jam non-stop hanya dengan menggunakan baterai (plus masih tersisa kapasitas baterai sebesar 20 persen) meskipun saya terus-terusan menjelajah internet melalui Edge, mendengarkan musik dari YouTube Music, memeriksa pesan di WhatsApp Desktop, menulis melalui Kwaya, plus sesekali menggunakan Lightroom, Atom, Illustrator, dan menonton serial di Apple TV+.

Bagaimana soal panas yang ditimbulkan ketika MacBook M1 dipakai? Tidak ada! Paling tidak, yang tangan saya rasakan, bukan melalui termometer atau aplikasi.

Hal mengejutkan lainnya, MacBook M1 seperti iPhone, hidup seketika saat dibuka. Ditambah dengan Touch ID, password tak dibutuhkan (meskipun saya lebih suka dengan Windows Hello).

Berstatus sebagai komputer premium, bukan berarti tak memiliki masalah. Kendala yang dimiliki MacBook M1 (dan berbagai MacBook yang dirilis sejak 2018) ialah port yang terbatas. Hampir semua perangkat elektronik milik saya, entah kamera mirrorless, Kindle, ponsel, buds, Wacom Intous, dan bahkan iPhone dan iPad (versi lawas) hanya mendukung USB 2x atau 3x. Dengan hanya mendukung Type C dan Thunderbolt, converter atau dongle menjadi kebutuhan yang tak terelakkan.

Lalu, ketika mendengarkan musik melalui headphone/earphone nirkabel, yakni AKG Y500 dan Samsung Galaxy Buds+, saya sering mengalami loss-signal dari MacBook M1. Padahal, Nokia 1 seharga Rp700 ribuan milik saya baik-baik saja menerima/mengirim signal ke Y500 ataupun Buds+.

Pesan saya, jika Anda hendak memahami MacBook M1 lebih lanjut dan bukan sekadar angka-angka benchmark, silakan kunjungi forum r/MacBook di Reddit.

Secara keseluruhan, saya merasa MacBook M1 berperilaku seperti iPhone. Sangat memesona. Ia menyala seketika kala dibutuhkan dan daya tahan baterainya sangat tangguh. MacOS Big Sur pada MacBook Air M1 juga bekerja sangat mulus, responsif, dan memliki user interface yang mudah digunakan—persis seperti iOS.

Mengelaborasi perkataan Federighi yang menyebut "Mac adalah jiwa kami," MacBook Air M1 yang saya miliki merasuk pula menjadi bagian jiwa saya. Paling tidak dalam beberapa tahun mendatang atau ketika rekening saya cukup untuk membeli Surface Book 3 versi terbaik.

Baca juga artikel terkait MACBOOK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight