Bagaimana Kuba Berhasil Produksi Vaksin Covid Buatan Dalam Negeri?

Penulis: Maysa Ameera Andarini, tirto.id - 7 Sep 2022 09:06 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Kuba berhasil menciptakan vaksin secara mandiri. Negara sosialis ini mengurangi banyak ketergantungan dari negara lain.
tirto.id - Di saat berbagai negara berlomba untuk mendapatkan ketersediaan vaksin yang masih sangat terbatas, negara Caribbean ini justru memilih jalur independen. Dengan pengembangan vaksin yang memukau, Kuba berhasil untuk memproduksi vaksin mandiri demi mencapai herd immunity.

Sejak awal, Kuba dapat tergolong menjadi salah satu negara yang cukup cepat dan responsif dalam mengatasi pandemi dengan strategi Tetris. Program Tetris yang terdiri dari testing, tracing dan isolating dilakukan cukup ketat oleh negara berpopulasi 11,3 juta penduduk tersebut. Strategi ini membawa Kuba untuk menekan angka kematian Covid-19 terendah sejak bulan Juni 2020 dengan rata-rata kematian 1 orang per hari.

Dilansir theBMJ, sistem kesehatan masyarakat di Kuba dapat terbilang memiliki rekam jejak yang baik, yang mana Kuba memiliki tenaga medis lebih banyak di dunia. Hal ini akhirnya juga membuat Kuba untuk mengirim 2000 dokter ke luar negeri untuk membantu krisis rumah sakit.

Kondisi Kuba dapat tergolong stabil terutama di awal tahun 2020. Namun tahun 2021 berkata lain, yang mana angka kematian justru meningkat sejak bulan Februari dengan rata-rata 8 kematian per hari. Walaupun peningkatan tersebut tidak terbilang signifikan, namun Kuba harus menerima pahitnya krisis ekonomi serta kekurangan makanan dan obat-obatan.

Dari Protes Publik yang Berujung Dengan Pembuatan Vaksin


Akibat sektor pariwisata yang tidak dapat beroperasi dan juga blokade ekonomi dari Amerika Serikat, Kuba harus menerima nasib terjebak dalam krisis ekonomi. Selain itu, sektor agrikultur negara Caribbean tersebut juga sedang mengalami kemunduran berat yang menjadikan kekurangan pangan menjadi permasalahan yang serius.

Kuba sudah cukup 'tahan banting' dengan kesulitan keuangan dan kelangkaan, namun efek pandemi menciptakan tingkat inflasi yang sangat tinggi. Alhasil, banyaknya rak toko di supermarket yang kosong melompong selama satu tahun ke belakang. Ditambah dengan varian delta yang sudah mendarat di daratan Kuba, kasus Covid-19 juga semakin meningkat.

Protes dari masyarakat pun mulai berdatangan dan demonstrasi yang terjadi dapat dikatakan sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah negara Kuba. Di tanggal 12 Juli 2021, publik menuntut pertanggungjawaban atas pemerintah Kuba mengenai krisis yang mereka alami. Ratusan pengunjuk rasa ditangkap oleh aparat setempat karena dianggap kerumunan orang tersebut justru dapat meningkatkan persebaran virus Covid-19.

Pemerintah Kuba tergugah setelah peristiwa demonstrasi tersebut yang membuat mereka akhirnya memutuskan untuk memproduksi vaksin secara mandiri. Vaksin dapat menjadi suatu simbol jalan keluar untuk permasalahan krisis kesehatan nasional saja. Namun, hal tersebut juga sekaligus dapat menjadi langkah pemerintah dalam menyelesaikan krisis ekonomi dan politik.

Campur Tangan Fidel Castro Terhadap Pengembangan Vaksin

Selain sistem kesehatan masyarakat yang cukup kuat, Kuba juga memiliki sektor biotech yang terbilang populer dalam menciptakan vaksin. Faktanya, sejak lama Kuba berhasil membuat sekitar 80% vaksin yang juga di ekspor ke luar negeri.

Terbentuknya sistem kesehatan yang stabil dan kuat beranjak dari misi Fidel Castro pada tahun 1980 an. Ia mencoba untuk menjadikan agenda kesehatan sebagai dasar dari proyek sosialisnya. Masyarakat Kuba secara tidak langsung ‘berhutang budi’ akan Fidel Castro yang membawa banyak perubahan termasuk sektor kesehatan di negara tersebut.


Maka itu, tak heran jika negara Kuba dapat memproduksi vaksinnya secara mandiri dikarenakan sistem kuat yang sudah terbentuk sejak lama.

Profil Vaksin Produksi Kuba

Vaksin produksi Kuba yang bernama Abdala ini sudah mencapai tingkat efikasi hingga 92.28% dalam tahap uji klinis. Hal ini pun membuat Abdala menempati posisi yang sama dengan vaksin paling efektif di dunia saat ini, yaitu BioNTech-Pfizer and Moderna.

Saat ini, Kuba sudah memiliki dua vaksin yang sedang melalui lolos uji klinis yaitu Abdala dan juga Mambisa. Selain itu, ada tiga vaksin lagi yang masih dikembangkan di Finlay Institute of Vaccines yaitu Soberana 01, 02 dan Soberana Plus.

Vaksin Abdala dan juga Soberana 02 dibuat menggunakan pendekatan tradisional dengan menyebarkan bagian protein lonjakan virus. Bagian tersebut kemudian mampu membantu virus masuk dan menginfeksi sel, untuk membangun sistem kekebalan.

Selain itu, vaksin Abdala dan Soberana 02 juga tidak perlu ditempatkan di kondisi suhu ekstrim rendah. Dengan menggunakan metode tradisional, kedua vaksin buatan Kuba tersebut tidak membutuhkan banyak anggaran untuk di kembangkan.

Fakta unik, nama-nama vaksin produksi Kuba yang diberikan sebenarnya memiliki makna yang cukup mengesankan. Nama Abdala dipilih oleh BioCubaFarma berlandasan makna filosofis yang berarti pahlawan muda. Istilah Abdala diambil dari salah satu syair terkenal oleh Josi Marti, seorang pahlawan kemerdekaan dan ikon nasional.

Tak hanya itu, nama vaksin Soberana juga dapat diartikan sebagai merdeka yang mana hal ini sekaligus menjadi harapan bagi Kuba. Dimana sejatinya, Kuba berharap untuk mendapatkan 'kemerdekannya' dari perhelatan melawan COVID-19.

Pemerintah negara Kuba berusaha untuk mempercepat proses imunisasi vaksin kepada seluruh masyarakat terutama pada anak. Kini, 50% dari total 11.3 juta penduduk Kuba setidaknya sudah mendapatkan satu dosis vaksin. Sementara, 3,5 juta penduduk tercatat vaksin lengkap.

Baca juga artikel terkait COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Maysa Ameera Andarini
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Maysa Ameera Andarini
Editor: Addi M Idhom

DarkLight