Serial Klub Bola Legendaris

Arsenal 2003-2004: Sekali Sudah, Habis Itu Mati

Oleh: Faisal Irfani - 8 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Arsenal melakukan apa yang sangat sulit dilakukan oleh banyak klub Inggris lainnya: Menjuarai liga tanpa sekalipun tersentuh kekalahan.
tirto.id - Ada satu masa di mana Arsenal, tim yang sering dirisak di jagat media sosial hanya karena selalu nangkring di posisi empat atau tak pernah juara Liga Inggris itu, tampil begitu digdaya di hadapan kesebelasan lainnya. Kedigdayaan Arsenal bahkan tak main-main: Berhasil menjalani satu musim penuh tanpa tersentuh kekalahan.

Cerita tentang kehebatan Arsenal tentu bukan sebatas mitos. Prestasi mereka nyata dan terjadi pada periode Mei 2003 hingga Oktober 2004. Dalam rentang tersebut, Arsenal total melewati 49 laga tanpa sekalipun kalah. Mereka sukses memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Nottingham Forest, dengan 42 laga nir-kekalahan (November 1977 sampai November 1978).

Setelah hampir setahun lebih berkuasa, pencapaian Arsenal nyatanya harus terhenti menjelang akhir 2004 manakala mereka dikalahkan Manchester United dengan skor dua gol tanpa balas di Old Trafford. Kekalahan tersebut, selain mengakhiri 49 laga tanpa dipecundangi, juga menandakan selesainya sebuah era emas: Arsenal tak pernah lagi sama selepasnya.


Cerdas dan Kolektivitas


Rekor tanpa kekalahan ini membuat Arsenal menjuarai Liga Inggris musim 2003/2004. Di Liga, Arsenal berhasil mengumpulkan 26 kemenangan serta 12 kali imbang. Apa yang dicapai Arsenal seperti mengulang prestasi Preston North End yang juga tanpa kekalahan pada musim 1889 (22 pertandingan).

Prestasi Arsenal ini bisa dibilang cukup istimewa mengingat klub-klub (papan atas) Liga Inggris pada saat itu banyak yang berbenah sehingga tingkat persaingan menjadi cukup sengit. Chelsea, misalnya, kian berambisi untuk menguasai liga dan Eropa semenjak kedatangan miliarder asal Rusia, Roman Abramovich. Manchester United tak ketinggalan menginjak pedal gas dengan sederet amunisi macam Cristiano Ronaldo hingga Ruud van Nistelrooy.

Kendati terlihat sengit, Arsenal tetap tak gentar. Skuad mereka memang tak segemerlap Chelsea atau United. Namun, hal itu bukan jadi persoalan karena kekuatan Arsenal terletak pada sisi kolektivitas yang begitu solid.

Di bawah komando Arsene Wenger, kolektivitas Arsenal dibangun lewat para pemain macam Sol Campbell, Kolo Toure, Ashley Cole, Lauren, Robert Pires, Jens Lehmann, Gilberto Silva, Freddie Ljungberg, Patrick Vieira, Dennis Bergkamp, dan tentu saja sang legenda, Thierry Henry.

Jens Lehmann, dengan tubuhnya yang tinggi menjulang, adalah jaminan keamanan gawang dari gol yang banyak. Meski sempat diragukan akibat dianggap tidak cakap ━ dan pantas ━ menggantikan posisi David Seaman, Lehmann nyatanya mampu mengusir keraguan tersebut lewat sederet aksi-aksi yang prima.

Di depan Lehmann, berdiri kuartet Campbell-Toure-Lauren-Cole. Keempat pemain ini saling melengkapi satu sama lain. Untuk urusan bertahan, Campbell-Toure adalah garansinya. Determinasi keduanya yang cukup tinggi dapat membuat para pemain lawan kalang kabut. Sedangkan Lauren-Cole konsisten menyisir sayap dan menciptakan banyak peluang di area pertahanan lawan.


Lini tengah Arsenal nampak lebih solid. Gilberto menjalankan perannya sebagai pemutus bola. Di saat bersamaan, Vieira berupaya keras untuk memastikan alur bola dari belakang, tengah, hingga ke depan berjalan dengan lancar. Dalam skema Wenger, Vieira merupakan otak dan titik penting agar transisi dari bertahan ke menyerang bisa berlangsung mulus.

Tidak dapat dilupakan pula sisi sayap Arsenal yang memiliki duet maut dalam wujud Pires serta Ljungberg. Kecepatan dan kecerdikan keduanya dalam memanipulasi kemampuan bertahan pemain lawan adalah senjata rahasia tersendiri.

Keganasan Arsenal terlihat juga di lini depan dengan hadirnya sosok Thierry Henry dan Dennis Bergkamp. Henry, saat kampanye Arsenal berlangsung, tengah berada pada fase prima. Kecepatannya, visinya, maupun tekniknya menjadi peluru yang tak berhenti menerjang. Sebanyak 30 gol berhasil ia cetak selama satu musim. Ia juga dinominasikan sebagai Pemain Terbaik Dunia (Ballon d’Or) sebanyak dua kali.

Kemitraan dengan Bergkamp pun adalah nilai lebih. Keduanya membentuk paduan sempurna antara kecepatan, keterampilan, serta kecerdasan. Bergkamp memainkan perannya sebagai pembuka ruang dan Henry melengkapinya dengan eksekusi yang sangat matang.

Infografik Arsenal Yang Perkasa
Infografik Arsenal Yang Perkasa


Transfer Jitu


Kunci kesuksesan Arsenal tak hanya terletak pada sumber daya yang mumpuni, melainkan juga karena pendekatan Wenger dalam membangun tim. Bagi Wenger, syarat agar tim bisa berhasil adalah totalitas tanpa batas yang kemudian diartikan dengan pelatihan secara terus-menerus hingga meningkatkan profesionalisme para pemain.

Selain itu, kepiawaian Wenger dalam membangun tim juga dapat disimak kala ia mengurusi semua perkara transfer pemain. Prinsip kebijakan transfer pemain, menurut Wenger, adalah harga serendah mungkin namun punya potensi besar untuk sukses.

Sentuhan midas Wenger dapat disimak kala Arsenal memberi Kolo Toure dengan harga £150 ribu, Ljungberg ditebus dengan biaya £3 juta dari Halmstads, Swedia, hingga Henry yang cuma diboyong ke Highbury dengan mahar £11 juta dari Juventus.

Harga boleh murah, namun kontribusi pemain-pemain ini, untuk Arsenal, sangatlah signifikan.

"[...] Anda memiliki pemain dengan talenta bernas setiap tahun. Tetapi, untuk mencapai sesuatu yang istimewa, Anda perlu pemain yang dapat merespons [keadaan] dengan kecerdasan untuk melewati kesulitan-kesulitan ini. Anda melihat ke belakang dan satu-satunya hal yang mengejutkan adalah fakta bahwa ada Henry, Bergkamp, ​​Vieira, Lauren, Kolo, hingga Cole dalam tim," kata Wenger kepada The Guardian.

Pada musim berikutnya, hegemoni tetap berada di London tapi bukan dari Arsenal, melainkan Chelsea. Terlepas dari hal tersebut, sebanyak 49 pertandingan rasanya cukup untuk memperlihatkan bahwa pada suatu masa, Arsenal sempat berjaya dan, yang lebih penting, bukan hal yang muskil untuk mengulang prestasi yang sama.

Baca juga artikel terkait LIGA INGGRIS atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Mild Report)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara