tirto.id - Hujan pertama selepas musim panas kerap disambut gembira oleh anak-anak. Mereka bermain di halaman, berlari di bawah guyuran air, atau bermain di genangan. Tapi orang tua perlu waspada ketika hujan turun di wilayah yang baru terdampak asap karhutla (kebakaran hutan dan lahan).
Pasalnya asap kebakaran bisa membawa campuran partikel halus serta senyawa kimia ke atmosfer. Sebagian polutan tersebut kemudian berinteraksi dengan awan, lalu terbawa turun bersama air hujan. Pada saat yang sama, asap yang masih berada di udara tetap berisiko terhirup ketika anak bermain di luar ruangan.
Risiko ini perlu mendapat perhatian, lantaran sistem kekebalan tubuh pada anak-anak kerap lebih lemah atau masih dalam tahap berkembang.
Kenapa Hujan di Wilayah Sekitar Karhutla Perlu Diwaspadai?
Karhutla menghasilkan campuran polutan berupa gas dan partikel yang berasal dari pembakaran vegetasi, kayu, serta gambut. Komposisinya tergantung bahan yang terbakar serta kondisi pembakaran. Salah satu polutan yang perlu diwaspadai yakni particulate matter (PM), terutama PM2.5 dan PM10.
PM2.5 merupakan partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Sementara PM10 berdiameter sampai 10 mikrometer. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel tersebut berisiko masuk dalam saluran pernapasan.
Dijelaskan WHO, sekitar 90 persen massa partikel yang dilepas oleh kebakaran hutan terdiri atas partikel berukuran PM2.5. Asap juga mengandung ozon, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, serta berbagai senyawa berbahaya lain.

Di atmosfer, partikel dan gas pencemar tersebut bisa berinteraksi dengan tetesan awan, lalu terbawa air hujan saat jatuh menuju permukaan bumi. Proses ini dikenal sebagai wet deposition atau deposisi basah.
Dokter anak subspesialis respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Khairiyadi, menjelaskan risiko paparan hujan tersebut. "Saya tidak menyarankan. Dari beberapa teori dan literatur yang ada tidak disarankan itu. Setelah beberapa kali hujan, ada yang mengatakan 3 kali hujan yang deras baru boleh dilakukan."
Apa yang disampaikan Khairiyadi senada dengan pendapat Gina Solomon, seorang dokter dan ahli kualitas udara di UC San Francisco, Amerika Serikat.
"Hujan pertama akan bereaksi dengan partikel asam dan menciptakan campuran asam dan sedikit berminyak di permukaan luar ruangan, yang agak korosif dan mengiritasi," kata Solomon.
"Saya tidak akan menyebut campuran itu sangat beracun bagi manusia, tetapi sebaiknya hindari menelannya atau terkena kulit," imbuhnya.
WHO juga menegaskan bahwa "anak-anak dianggap sensitif terhadap dampak kesehatan buruk dari polusi udara, termasuk asap kebakaran hutan, karena paru-paru, jantung, kognisi, perilaku, dan sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan."
Oleh karenanya orang tua sebaiknya menasehati anak agar tidak bermain hujan di wilayah yang masih terdampak asap karhutla, terutama ketika kualitas udara belum membaik.
Apa Risiko Penyakit dari Hujan yang Tercemar Asap Karhutla?
Risiko kesehatan paling tinggi berasal dari paparan asap melalui saluran pernapasan. Ketika anak bermain di luar rumah, termasuk saat hujan, mereka berpotensi menghirup partikel halus juga gas pencemar yang masih berada di udara.
Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat memicu gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.
Dampak kesehatan tergantung pada komposisi partikel, jenis vegetasi atau material yang terbakar, serta konsentrasi polutan di udara. Sementara dalam jangka pendek juga berisiko menyebabkan sakit kepala, iritasi mata, mengi, nyeri dada, hingga sesak napas.
Tinjauan sistematis Walters dan Ward dalam International Journal of Environmental Health Research (2026) menemukan hubungan konsisten antara paparan asap kebakaran dengan memburuknya kesehatan pernapasan anak.
"Semua studi (yang ditinjau) melaporkan peningkatan gejala pernapasan, kunjungan rumah sakit, dan penggunaan obat hari-hari, dengan paparan asap kebakaran hutan yang signifikan," tulis Walters dan Ward.

Selain menghirup asap, anak juga berpotensi bersentuhan dengan abu serta endapan pencemar yang terbawa air hujan. Kontak dengan abu atau material yang mengandung zat iritan dapat memicu gangguan kulit dan mata. Tapi sekali lagi tingkat risiko tergantung jenis dan konsentrasi bahan yang mengenai tubuh.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyebut bahwa "Asap dan abu kebakaran hutan sangat berbahaya bagi anak-anak penderita asma, alergi, atau penyakit kronis lainnya. Anak-anak lebih rentan mengalami stres dan dampak kesehatan mental akibat bencana, termasuk kebakaran hutan."
Cara Melindungi Anak dari Paparan Polutan Air Hujan
Untuk mengurangi risiko paparan asap dan material pencemar di lingkungan sekitar karhutla, orang tua bisa melakukan sejumlah langkah.
Pertama, hindari mengajak anak bermain hujan ketika kualitas udara masih buruk. Cek kualitas udara melalui pemantauan resmi atau mengikuti peringatan dari otoritas setempat. Tunda aktivitas luar ruangan sampai kondisi udara membaik.
Kedua, jauhkan anak dari genangan dan air hujan yang diduga tercampur abu atau material hasil pembakaran. Biasakan anak untuk cuci tangan pakai sabun setelah bermain di luar rumah, terutama sebelum makan.

Ketiga, kurangi masuknya asap ke dalam rumah. Tutup pintu dan jendela ketika asap berada di sekitar permukiman. Jika tersedia, gunakan penyaring udara dengan filter yang sesuai untuk membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.
Terakhir, kenali gejala gangguan kesehatan akibat paparan asap. Perhatikan jika anak mengalami batuk, mata perih, iritasi tenggorokan, mengi, atau kesulitan bernapas. Segera cari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gejala berat lain.
Hujan memang bisa membantu membersihkan sebagian polutan di atmosfer. Namun proses tersebut butuh waktu dan tidak serta-merta memulihkan kualitas udara setelah karhutla. Selama asap masih masih ada di lingkungan, orang tua sebaiknya membatasi aktivitas anak di luar rumah demi kesehatan dan keselamatan.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id































