tirto.id - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya, menyoroti kinerja lima gubernur di Kalimantan terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bima meminta para kepala daerah tersebut untuk berhenti mengeluarkan pernyataan kontroversial yang impulsif dan mulai fokus bekerja memberikan solusi nyata.
"Ya, sebaiknya kepala daerah itu fokus pada koordinasi lapangan, mengurangi pernyataan-pernyataan yang bisa menimbulkan kontroversi atau polemik," tuturnya di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2026).
Bima turut meminta kelima gubernur di Kalimantan memperbaiki komunikasi dengan instansi/lembaga yang bertugas menangani karhutla. Masyarakat disebut membutuhkan pimpinan yang tak cuma impulsif, melainkan juga solutif.
"Pahami bahwa warga membutuhkan langkah cepat. Ya, jadi jangan sampai menimbulkan polemik, menguras energi, apa lagi menyakiti hati warga. Jangan sampai seperti itu, ya," sebut Bima.
Sebagai informasi, lima gubernur Kalimantan kompak menyampaikan pernyataan atau bersikap tidak serius di tengah karhutla yang masih berlangsung.
Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menjadi sorotan setelah mengaitkan karhutla dengan takdir. Ia juga menyebutkan, kebakaran banyak disebabkan oleh ulah manusia.
Agustiar turut melontarkan candaan dengan memelesetkan peribahasa soal persatuan menjadi ungkapan mengenai perceraian dan menikah kembali, yakni "bercerai kawin lagi."
Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, menuai kritik setelah menilai kondisi karhutla tidak lagi parah ketika meninjau lokasi kebakaran di Banjarbaru pada Agustus 2026.
Muhidin kemudian menyampaikan permohonan maaf karena pemerintah daerah belum mampu membantu penanganan karhutla di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Masud, menjadi perhatian setelah foto dirinya tengah makan di sebuah hotel di Singapura beredar baru-baru ini. Di sosial media, Rudy diisukan ke Singapura untuk menonton F1.
Lalu, Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menuai kritik ketika beradu argumen dengan mahasiswa yang memprotes penanganan karhutla di Bundaran Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya pada 3 September 2026 silam.
Dalam audiensi tersebut, Ria mempertanyakan keterlibatan mahasiswa dalam pemadaman kebakaran. Ia membandingkan dengan aktivitasnya sendiri yang mengaku telah turun ke lapangan selama beberapa hari.
Di satu sisi, Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang, mendapat sorotan setelah menghadiri turnamen sepak bola pada awal September 2026. Ia membantah penyelenggaraan turnamen tersebut menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































