tirto.id - Sebanyak 75 persen masyarakat mengaku mengalami stres akibat kebijakan pemerintah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Temuan tersebut tercantum dalam survei Center of Economic and Law Studies (Celios) dan Kabinet Bayangan mengenai rapor kinerja dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Berdasarkan survei terhadap 1.142 responden masyarakat umum, sebanyak 75 persen mengaku merasa stres dengan kebijakan pemerintah. Sementara itu, 17 persen responden menyatakan tidak mengalami stres dan 8 persen lainnya menjawab tidak tahu.
Tekanan psikologis yang dirasakan masyarakat juga tercermin dalam penilaian terhadap perilaku Presiden Prabowo. Sebanyak 67 persen responden mengaku mengalami stres akibat perilaku Prabowo, sedangkan 23 persen menyatakan tidak dan 9 persen menjawab tidak tahu.
"Dampak pemerintahan tidak hanya tercermin dari penilaian terhadap kebijakan, tetapi juga dari tekanan psikologis yang dirasakan responden," demikian tulis penjelasan dalam rapor tersebut, dikutip Selasa (13/10/2026).
Meski temuan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dan perilaku Presiden menjadi sumber tekanan bagi sebagian besar responden, hasil survei ini menggambarkan pengakuan responden dan tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat antara kebijakan pemerintah dan kondisi psikologis masyarakat secara klinis.
Di kalangan ahli, kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah bahkan lebih tinggi. Survei Celios terhadap 129 responden ahli menunjukkan 80 persen menyatakan sangat khawatir dan 12 persen menyatakan khawatir terhadap arah kebijakan pemerintah.
Dengan demikian, total 92 persen responden ahli mengungkapkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran. Hanya 6 persen yang menyatakan cukup khawatir dan 2 persen kurang khawatir.
"Angka ini menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah bukan sekadar pandangan sebagian kecil ahli, melainkan penilaian mayoritas. Sehingga memperkuat urgensi evaluasi dan koreksi kebijakan agar arah pemerintahan lebih selaras dengan kebutuhan masyarakat dan kepentingan jangka panjang," tulis Celios.
Secara umum, penilaian tersebut turut tercermin dalam rapor kinerja Presiden dan Wakil Presiden. Prabowo memperoleh nilai rata-rata 4,6 dari skala 10 berdasarkan penilaian masyarakat umum. Sementara itu, responden ahli memberikan nilai yang lebih rendah, yakni 2,8.
Dari kalangan masyarakat umum, sebanyak 48 persen memberikan nilai 1-4 kepada Prabowo. Kemudian, sebanyak 23 persen memberikan nilai 5-6, sedangkan 28 persen memberikan nilai 7-10.
Nilai 1 menjadi skor yang paling banyak dipilih masyarakat, yakni 23 persen responden. "Sementara itu, ahli menilai kinerja Prabowo Subianto jauh lebih buruk, dengan nilai rata-rata sebesar 2,8," tulis Celios.
Rapor Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak jauh berbeda. Masyarakat memberikan nilai rata-rata 4,9 dari skala 10, sedangkan ahli hanya memberikan nilai 2,2. Sebanyak 45 persen responden masyarakat memberikan nilai 1-4 kepada Gibran. Sebanyak 21 persen memberikan nilai 5-6 dan 34 persen memberikan nilai 7-10.
Meski nilai rata-rata Gibran dari masyarakat sedikit lebih tinggi dibandingkan Prabowo, penilaian kalangan ahli menunjukkan hasil sebaliknya. Sebanyak 52 persen ahli memberikan nilai 1 kepada Gibran, lebih tinggi dibandingkan proporsi ahli yang memberikan skor terendah kepada Prabowo.
"Ahli menilai kinerja Gibran Rakabuming Raka jauh lebih buruk, dengan nilai rata-rata sebesar 2,2," jelas Celios.
Metodologi survei
Sebagai informasi, dalam laporan rapor dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Celios dan Kabinet Bayangan menggunakan dua kelompok responden, yakni masyarakat umum dan ahli.
Survei masyarakat umum melibatkan 1.142 responden yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Sementara itu, survei ahli melibatkan 129 responden dengan latar belakang keahlian, wilayah domisili, dan pengalaman profesional yang beragam.
Pengumpulan data ahli menggunakan pendekatan snowball sampling. Melalui metode ini, responden awal yang memenuhi kriteria keahlian diminta merekomendasikan ahli lain yang relevan dengan topik penelitian.
Rapor juga melakukan pengujian validitas dan reliabilitas terhadap instrumen survei. Pada survei masyarakat umum, skala akhir yang terdiri atas 17 item memiliki nilai Cronbach's alpha terstandarisasi sebesar 0,950 dan McDonald's omega sebesar 0,952, yang menunjukkan konsistensi internal sangat tinggi.
Sementara itu, skala penilaian kinerja pemerintah dalam survei ahli memiliki nilai Cronbach's alpha sebesar 0,895. Adapun pertanyaan mengenai kekhawatiran terhadap arah kebijakan dan gaya kepemimpinan menunjukkan reliabilitas yang baik.
Respons Gibran
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dalam keterangan resminya, mengaku menghargai hasil survei Celios yang mengevaluasi kinerja dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Ia menyatakan hasil survei, kajian, dan kritik masyarakat merupakan bagian dari demokrasi sekaligus bahan evaluasi bagi pemerintah.
"Saya menghargai setiap hasil survei, kajian, maupun kritik yang disampaikan oleh masyarakat dan lembaga independen. Bagi saya, semua itu adalah bagian dari demokrasi sekaligus bahan evaluasi bagi pemerintah untuk terus memperbaiki diri," demikian pernyataan tertulis Gibran yang disampaikan melalui Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Wakil Presiden, Selasa (13/10/2026).
Gibran menyatakan kritik terhadap pemerintah, termasuk yang ditujukan kepadanya, harus dijawab melalui peningkatan kinerja. Menurut dia, pemerintah perlu melakukan evaluasi dan memperbaiki kebijakan maupun cara kerja agar kehadirannya semakin dirasakan masyarakat.
"Kritik yang disampaikan kepada pemerintah, termasuk kepada saya, harus dijawab dengan kerja yang lebih baik. Baik melalui evaluasi serta perbaikan kebijakan dan cara kerja untuk memastikan kehadiran pemerintah semakin dirasakan masyarakat dan menjawab permasalahan masyarakat di lapangan," ujarnya.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































