Menuju konten utama

Stok BBM Bali Sempat di Bawah Batas Minimum, Kini Sudah Normal

Bahlil mengungkap stok BBM di Bali sempat jatu ke posisi 3-4 hari, di bawah batas minimum 7 hari. Kini stok sudah kembali normal.

Stok BBM Bali Sempat di Bawah Batas Minimum, Kini Sudah Normal
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan keterangan kepada media di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/10/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Bali sempat turun menjadi sekitar tiga hingga empat hari.

Penurunan cadangan itu jauh di bawah batas minimum cadangan operasional BBM selama tujuh hari ketahanan stok (coverage days) pada terminal BBM dan stasiun pengisian bahan bakar di suatu wilayah distribusi niaga, yang tercantum dalamPeraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tata Cara Penetapan dan Penanggulangan Krisis Energi dan/atau Darurat Energi.

Menurut Bahlil, keterlambatan kapal yang membawa BBM dari Jawa menjadi penyebab utama cadangan di Bali mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia memastikan kondisi pasokan mulai pulih setelah Pertamina mempercepat distribusi.

“Untuk Provinsi Bali, di beberapa hari kemarin, karena ada keterlambatan dari kapal yang membawa BBM dari Jawa ke Bali, itu terjadi penurunan kurang lebih sekitar 3-4 hari,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Bali, Senin (19/10/2026).

Bahlil juga memastikan bahwa cadangan BBM di Bali saat ini rata-rata telah kembali mencapai 11-12 hari. Meski begitu, pemerintah meminta Pertamina meningkatkan ketahanan stok menjadi 15 hari untuk memperkuat pasokan di wilayah tersebut.

Bahlil memerinci, Bali memiliki dua fasilitas penyimpanan BBM, yakni di Sanggaran dan Manggis. Cadangan di terminal Sanggaran saat ini berkisar empat hingga lima hari, sedangkan cadangan di Manggis telah mencapai lebih dari 11 hari.

Dengan demikian, cadangan di Sanggaran masih berada di bawah batas minimum operasional tujuh hari yang diatur dalam Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2022. Sementara itu, angka rata-rata cadangan di seluruh wilayah Bali yang disebut Bahlil telah mencapai 11-12 hari perlu dibedakan dari kondisi stok pada masing-masing terminal.

“Dalam rangka untuk mempercepat proses ini, sekarang saya meminta untuk Pertamina, untuk menaikkan status yang tadi di 11 hari menjadi 15 hari,” ujarnya.

Untuk mempercepat pasokan BBM ke Bali, pemerintah juga meminta penambahan kapal pengangkut dari Jawa. Menurut Bahlil, jumlah kapal yang melayani distribusi BBM ke Bali telah meningkat dari tiga menjadi tujuh kapal.

“Di awal kemarin, waktu saya rapat koordinasi di Jakarta hari kami sore, saya juga sudah meminta untuk percepatan distribusi dari Jawa ke Bali, yang tadinya kapal cuma 3. Sekarang kapal yang sudah melayani 7 kapal,” katanya.

Penambahan armada tersebut diharapkan mempercepat pemulihan cadangan sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat keterlambatan pengiriman.

Meski cadangan pada terminal tertentu berada di bawah ambang minimum, kondisi itu tidak serta-merta berarti pemerintah telah menetapkan krisis energi. Berdasarkan Pasal 11 dan Pasal 12 Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2022, penetapan krisis BBM berdasarkan kondisi teknis operasional mempertimbangkan tidak terpenuhinya cadangan minimum yang tidak dapat ditanggulangi badan usaha. Untuk krisis BBM, kondisi tersebut diperkirakan tidak terpenuhi dan tidak tertanggulangi selama lebih dari 30 hari ke depan.

Bahlil menyebut gangguan pasokan di Bali merupakan persoalan teknis pada pengelolaan logistik internal Pertamina. Dia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat atas koordinasi selama penanganan gangguan tersebut.

Di sisi lain, Bahlil menyatakan cadangan BBM nasional masih berada di atas batas yang disebut pemerintah sebagai standar operasional. Cadangan bensin RON 90 atau Pertalite berada pada kisaran 16-18 hari, sedangkan jenis BBM lainnya berada di atas 20 hari.

“Jadi, alhamdulillah, puji Tuhan, untuk di sini sudah bisa teratasi,” kata Bahlil.

Dalam kesempatan sama, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Bali atas gangguan penyaluran BBM yang memicu antrean di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

“Atas nama Pertamina Group sebagai Direktur Utama, dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya,” kata Simon. “Dan kami berjanji dan berkomitmen bahwa kejadian ini tidak akan terulang di kemudian hari,” sambungnya.

Simon juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Bali, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), TNI, kepolisian, dan masyarakat yang membantu proses pemulihan distribusi BBM.

Menurut dia, dukungan aparat keamanan tidak hanya membantu pengamanan dan penguraian antrean, tetapi juga mencakup bantuan tenaga untuk mengoperasikan SPBU dan mengemudikan mobil tangki Pertamina.

Simon menegaskan, Pertamina berkomitmen memastikan penyaluran energi berjalan baik di seluruh wilayah, termasuk Bali yang perekonomiannya bergantung pada sektor pariwisata dan aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Energi adalah denyut nadi dari perekonomian, khususnya di Pulau Bali, untuk membantu sektor pariwisata, untuk membantu UMKM, termasuk aktivitas ekonomi lainnya,” kata Simon.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana