tirto.id - Tren olahraga hibrida HYROX yang kian populer di Indonesia ternyata menyimpan sisi kelam yang jarang disadari para pegiat kebugaran. Olahraga hibrida yang memadukan lari dan latihan beban ini menyimpan risiko kesehatan, mulai dari fenomena kolaps akibat heat stroke di ruangan ber-AC hingga risiko henti jantung mendadak.
Secara umum, HYROX terbagi dalam tiga kategori, yakni single, double, dan pro. Di dalamnya ada komponen lari, endurance, aerobik, dan kekuatan. Jadi, lari dikombinasikan dengan beberapa station yang berisi olahraga kekuatan.
Dalam kategori pro, beban saat olahraga akan lebih berat. Untuk mencapai finis dalam kategori ini, biasanya atlet membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Hanya peserta dengan kecepatan sangat tinggi yang dapat menyelesaikan olahraga ini dalam kurun waktu kurang dari satu jam.
Beban tinggi dalam olahraga ini membuatnya tidak terlepas dari ancaman darurat medis. Dokter spesialis kedokteran olahraga Antonius Andi Kurniawan, yang menjadi koordinator medis HYROX Indonesia, mengatakan timnya pernah menangani peserta yang mengalami heat stroke di ruangan ber-AC dan peserta lain yang mengalami henti jantung. Dalam dua kasus yang ditanganinya itu, kedua pasien tertolong.
Andi menekankan, ancaman darurat medis dalam berolahraga tidak dapat disepelekan. Bahkan dalam catatannya, ada peserta HYROX yang meninggal akibat heat stroke di Prancis dan peserta lain yang meninggal di Bangkok.
Andi berpraktik di Klinik Utama Eminence, RS Siloam Mampang, dan RS Carolus Salemba. Ia juga dokter Tim Nasional Angkat Besi Indonesia serta direktur medis sejumlah event lari, seperti Jakarta Running Festival dan Borobudur Marathon.
Dalam podcast Kueri yang tayang di kanal YouTube TirtoID pada 25 September 2026, Andi menjelaskan risiko medis HYROX dan cara mengantisipasinya. Berikut wawancara lengkapnya.
Apa manfaat HYROX bagi kesehatan?
Memang benar belum banyak riset. Waktu saya lolos seleksi menjadi koordinator medis HYROX Indonesia, saya mencari riset soal cedera dan masalah kesehatan yang paling sering terjadi, tapi tidak ada. Yang ada hanya satu atau dua riset tentang karakteristik fisik yang dibutuhkan untuk menyelesaikan HYROX. Pesertanya harus punya endurance yang bagus, artinya fungsi jantung terlatih, dan juga kekuatan otot yang bagus.Kalau bicara gaya hidup sehat, kita memang harus latihan kardio dan kekuatan otot. Kardio membuat jantung lebih sehat, sehingga risiko penyakit jantung di kemudian hari kecil. Latihan kekuatan membuat kita tidak mudah cedera dan mencegah sarkopenia, osteoartritis, serta osteoporosis. HYROX mewakili dua-duanya, asal dilakukan dengan baik.

Bagaimana heat stroke bisa terjadi di ruangan ber-AC?
Panitia punya standar suhu ruangan. Kalau suhunya di atas 22 derajat Celsius, mereka minta ruangan didinginkan lagi. Tapi panas yang dihasilkan tubuh sendiri bisa meningkat sampai lebih dari 40 derajat, sehingga terjadi heat stroke.Kalau suhu inti tubuh lebih dari 40 derajat, itu bisa terjadi heat stroke, dan itu bisa menjadi kelainan otak. Di maraton ada faktor eksternal dan internal. Di HYROX, faktor eksternalnya hampir tidak ada karena suhunya dingin.
Jadi, menurut saya, yang berperan faktor internal, misalnya dehidrasi, kurang minum, atau kondisi tubuh yang kurang fit. Intensitas tinggi yang dikombinasikan dengan gerakan kekuatan juga memicu panas tubuh.
Bagaimana penanganan awal heat stroke?
Cooling, cooling, cooling. Bagaimana caranya menurunkan suhu tubuh secepat mungkin. Di Jakarta Running Festival biasanya kami guyur es atau pakai handuk es. Di HYROX, atlet dicelupkan ke kolam es di sebelah tempat tidur. Sebelumnya kami pasang pemantau suhu rektal, dan suhunya harus turun sampai di bawah 38 derajat.Awalnya saya pakai suhu telinga, tapi mereka bilang itu tidak valid. Suhu 37 bisa saja sebenarnya 38 atau 39. Waktu kami pakai suhu rektal, suhu atlet itu 42 derajat. Begitu dicelupkan, suhunya turun terus, 41,8, 41,6, lalu akhirnya dia sadar.
Saya sempat berpikir di Indonesia ini kurang etis. Tapi menurut saya keselamatan lebih penting daripada budaya.
Apa pemicu henti jantung pada atlet?
Ada dua mekanisme. Pertama, penyakit jantung koroner atau penyempitan pembuluh darah. Biasanya terjadi pada usia di atas 40 atau 45 tahun. Intensitas dan bebannya terlalu tinggi untuk jantungnya. Orang dengan penyakit jantung, hipertensi, atau kolesterol memang harus berolahraga, tapi bukan maraton atau olahraga berintensitas tinggi.Kedua, penebalan otot jantung atau hipertrofi kardiomiopati, yang bisa mengganggu kelistrikan jantung sehingga terjadi sudden cardiac arrest.
Dari HYROX saya belajar, kalau ada peserta kolaps, kami langsung memasang pad AED, bukan EKG dulu. Peserta yang kami tangani awalnya hanya muntah-muntah dan pusing. Di tenda medis dia mulai hilang kesadaran, alatnya merekomendasikan kejut listrik, lalu langsung kami tekan. Setelah itu dia pulih.
Berapa batas denyut jantung yang aman saat HYROX?
Ada penelitiannya, peserta HYROX bisa mencapai 90 sampai 100 persen dari denyut jantung maksimal. Rumus denyut jantung maksimal adalah 220 dikurangi umur. Kalau umurnya 40, berarti 180.Tapi itu sebenarnya batas untuk atlet. Untuk orang biasa, 50 sampai 70 persen sudah cukup. Kalau sudah terlatih, bisa 80 sampai 90 persen.
Mengapa peserta bisa diare saat berolahraga?
Istilahnya exercise-induced gastrointestinal syndrome. Ada tiga mekanisme.Pertama, aliran darah. Saat berolahraga, darah mengalir ke otot, sementara aliran ke pencernaan berkurang sehingga stabilitas pencernaan menurun. Kedua, mekanik, yaitu goncangan yang membuat usus lebih aktif. Di HYROX ada gerakan squat dan lompat, jadi rangsangannya lebih besar. Ketiga, hormon. Stres membuat pencernaan ikut terganggu.
Soal makanan, sangat berpengaruh. Setiap orang punya kebiasaan pencernaan berbeda, jadi pencernaan juga perlu dilatih. Aturannya, jangan mencoba makanan baru menjelang race, apalagi yang pedas. Kalau biasa makan roti, ya makan roti.
Apakah ada pemeriksaan kesehatan sebelum race?
Di event olahraga, medical check-up untuk semua peserta itu sulit. Kalau pesertanya 12.000, tidak mungkin masing-masing diminta. Tapi saat mendaftar pasti ada pertanyaan apakah peserta sehat, pernah dilarang dokter berolahraga, atau punya masalah jantung, sendi, dan otot. Itu berdasarkan kejujuran peserta.Kalaupun ada event yang mewajibkan surat dokter, orang akan cari dokter mana saja untuk meminta surat sehat. Surat sehat untuk bisa melakukan HYROX itu sebenarnya tidak ada. Menurut saya, hampir mustahil mensyaratkan itu di event massal di Indonesia. Tapi kampanye bahwa medical check-up penting setahun sekali, atau sebelum race, harus dilakukan.
Apa syarat minimal bagi pemula yang ingin ikut HYROX?
Pertama, harus latihan. Kedua, tahu kapasitas tubuh sendiri. Minimal peserta bisa lari 8 kilometer nonsetop, atau mungkin 10 kilometer, karena ini tidak hanya lari.Tantangannya, pada saat otot lelah kita masih harus bisa lari dan mengangkat beban. Kalau tidak terlatih dan memaksakan diri, sendi bisa cedera, otot bisa cedera, bahkan bisa kram, heat stroke, dehidrasi, dan beban jantung makin tinggi.
Di event kemarin, dari sekitar 12.000 atau 13.000 peserta, lebih dari 100 orang harus ke tenda medis. Yang kami rujuk ke rumah sakit, kalau tidak salah, ada empat orang. Rata-rata mereka kurang fit di hari itu.
Setelah sadar, saya tanya kenapa, dan ada yang bilang sudah demam dua hari atau kurang tidur. Alasannya, ‘Sudah bayar pendaftaran, rugi.’ Kalau memang tidak fit, sebenarnya tetap bisa ikut, tapi larinya pelan saja yang penting finis. Jangan memaksakan harus personal best.
Penulis: Muhammad Rayfahd Haykal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































