tirto.id - Radja Nainggolan eks pemain Timnas Belgia mengungkapkan penyesalannya karena tidak memilih Timnas Indonesia untuk karier internasionalnya. Mantan gelandang AS Roma dan Inter Milan itu menilai keputusannya dahulu bisa saja berbeda jika ia memahami besarnya dukungan suporter Tim Garuda, peluang komersial, serta prospek karier yang lebih panjang di Indonesia.
Dalam wawancara terbaru dengan Nieuwsblad yang dirilis pada 8 Oktober 2026, Nainggolan mengatakan jika bisa mengulang masa lalu, dirinya bakal mempertimbangkan opsi untuk memperkuat Timnas Indonesia. Pemain berusia 38 tahun tersebut juga membayangkan bisa menjalani karier internasional selama 15 tahun bersama Tim Garuda.
"Seandainya saya bisa mengulang semuanya, saya akan mempertimbangkan pilihan untuk tim nasional Indonesia," kata Nainggolan.
Pengakuan itu muncul selepas ia sempat mencicipi kompetisi sepak bola Indonesia bersama Bhayangkara FC pada musim 2023/2024 lalu. Pengalaman tersebut telah membuka mata dan membuatnya mengenal lebih dekat dengan negara asal sang ayah.
Mantap Pilih Belgia, Abaikan Garuda
Radja Nainggolan lahir di Antwerpen, Belgia, pada 4 Mei 1988. Ia memiliki ayah asal Indonesia serta ibu berdarah Flandria, Belgia. Tumbuh besar di Belgia, Nainggolan mengaku tidak banyak mengenal budaya Indonesia ketika masih muda.
Sang ayah bernama Marianus, pergi meninggalkan keluarga ketika Nainggolan berusia sekira 5 tahun. Sejak itu ia tidak pernah lagi bertemu dengan sang ayah. Ia mengatakan bahwa Indonesia masih terasa asing ketika menjalani debut bersama Timnas Belgia pada 2009.
"Saya (saat itu) tidak ragu memilih tim nasional karena saya tidak mengenal negara itu (Indonesia). Saya tumbuh di Linkeroever di antara orang Afrika dan Maghreb," ujar Nainggolan.
Nainggolan mulai membangun karier sepak bola profesional di Eropa. Ia memilih Timnas Belgia, lalu menjalani debut bersama tim senior pada 2009.
Nainggolan membukukan 30 penampilan dan 6 gol untuk The Red Devils, julukan Timnas Belgia. Data karier di Transfermarkt juga mencatat bahwa ia tampil di Piala Eropa 2016, lalu mencetak gol penting kontra Wales ketika perempat final turnamen itu.
Pilihan memperkuat Belgia terjadi ketika Nainggolan belum punya kedekatan personal dengan Indonesia. Ia juga sudah lebih dahulu membangun jalur karier di sepak bola Belgia dan Italia.
Sayang sekali karier internasional Radja Nainggolan bersama Belgia tidak sepanjang yang ia harapkan. Nainggolan sempat menjadi bagian skuad di bawah pelatih Marc Wilmots, tapi situasi berubah ketika pelatih Roberto Martinez mengambil alih tim pada 2016. Ia tidak masuk skuad Belgia untuk Piala Dunia 2018.
Pertandingan terakhir Radja Nainggolan bersama Timnas Belgia terjadi pada 27 Maret 2018. Itu merupakan laga persahabatan melawan Arab Saudi yang berlangsung di Stadion Raja Baudouin, Brussels. Saat itu Belgia menang telak 4-0.
Usai laga tersebut, Radja Nainggolan dicoret oleh pelatih Roberto Martinez dari skuad Piala Dunia 2018 dengan alasan taktis. Sebagaimana dilaporkan BBC, keputusan itu membuat Nainggolan kecewa berat sampai akhirnya memutuskan pensiun dari tim nasional pada 21 Mei 2018.
Pemain Top Eropa, Sempat Cicipi Liga Indonesia
Radja Nainggolan mencapai salah satu puncak karier ketika membela AS Roma. Ia bergabung dengan klub ibu kota Italia itu pada Januari 2014, selepas sempat bermain untuk Cagliari juga di Liga Italia. Selama empat setengah musim berseragam Giallorossi, Nainggolan membukukan 203 penampilan dengan 33 gol di seluruh kompetisi.
Pada Juni 2018, Roma melepas Nainggolan ke Inter Milan dengan nilai transfer awal 38 juta euro. Tapi masa bakti di Inter Milan tak berjalan sesuai harapan. Nainggolan kerap mengalami masalah kebugaran, termasuk cedera otot betis pada musim perdana, kemudian kembali ke Cagliari dengan status pinjaman.
Kariernya berlanjut bersama Royal Antwerp dan SPAL, sebelum ia menerima tawaran bermain di Liga Indonesia.
Usai hengkang dari SPAL pada 2023, Nainggolan sejatinya sempat berencana berhenti bermain. Ia lantas mendapat undangan menjadi duta Piala Dunia U17 2023 di Indonesia. Seusai menjalani peran tersebut, ia menerima tawaran untuk memperkuat Bhayangkara FC.
Nainggolan memilih Bhayangkara FC karena ingin tinggal di Jakarta atau Bali. Klub tersebut kemudian merekrutnya untuk memperkuat tim pada paruh kedua musim 2023/2024. Selama di Indonesia, ia mencatat 10 penampilan, 1 gol, dan 3 assist.

Pengalaman di Indonesia meninggalkan kesan kuat. Nainggolan mengaku menikmati makanan, iklim, kehidupan kota, dan keramahan warga. Ia juga melihat bagaimana orang dari latar belakang ekonomi berbeda bisa berinteraksi dalam ruang yang sama.
Dari sisi finansial, ia mengaku menerima bayaran sekitar 400.000 euro selama 6 bulan bersama Bhayangkara FC. Jumlah itu menurutnya sangat besar jika dibanding dengan biaya hidup setempat. Nainggolan juga mengatakan bahwa ia menikmati masa bermain di Indonesia, meski menilai kualitas permainan dan atmosfer laga Bhayangkara FC belum sesuai harapan.
Setelah kontraknya berakhir pada Juni 2024 dan Bhayangkara FC terdegradasi, Nainggolan balik ke Belgia. Ia lantas bermain untuk Lokeren, sebelum bergabung dengan Patro Eisden pada Januari 2026. Hingga Oktober 2026, ia masih tercatat sebagai pemain klub tersebut di kompetisi strata kedua Belgia.
Penyesalan di Pengujung Karier
Pengalaman di Indonesia membuat Radja Nainggolan menilai ulang pilihannya ketika masih muda. Kini pada usia 38 tahun, ia melihat peluang yang mungkin bisa diperoleh seandainya dulu memilih Timnas Indonesia. Ia melihat potensi yang terlewat dari sisi popularitas, dukungan publik, serta aktivitas setelah pensiun.
Nainggolan menyoroti fanatisme suporter sepak bola Indonesia yang menurutnya sangat besar. Ia menyebut pertandingan melawan Vietnam atau Irak bisa menarik sekitar 70.000 penonton. Jumlah tersebut, menurutnya menggambarkan besarnya perhatian publik terhadap Timnas Indonesia.
"Ada tujuh puluh ribu orang di sana untuk menonton laga melawan Vietnam atau Irak. Mereka begitu fanatik," ujarnya dalam wawancara dengan Nieuwsblad.
Ia juga menyinggung peluang komersial bagi pemain yang memperkuat Indonesia. Nainggolan mencontohkan pemain keturunan yang dapat dukungan sponsor dari merek mewah seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex. Ia membandingkan peluang tersebut dengan situasi pemain muda Indonesia di Eropa, termasuk Ivar Jenner yang ketika itu sebatas bermain untuk Jong Utrecht.
Menurut Nainggolan, popularitas di Indonesia bisa menjadi modal untuk membangun citra serta membuka peluang pekerjaan setelah pemain mengakhiri karier profesional. Ia mengaku tidak memikirkan aspek tersebut ketika masih muda, tetapi kini melihatnya secara berbeda.
"Dahulu saya tidak memikirkan hal itu. Namun, sekarang pada usia 38 tahun, saya melihatnya dengan cara berbeda," ujar Nainggolan.
"Terutama ketika melihat karier internasional saya di sini dan bagaimana semuanya berakhir di bawah Martinez. Saya bisa saja memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain Tim Nasional Indonesia," imbuhnya.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id

































