tirto.id - Manchester City menang besar 0-3 atas Liverpool di Stadion Anfield, Liverpool, dalam laga lanjutan pekan 6 Liga Inggris 2026/27 pada Minggu (11/10/2026). Tambahan 3 poin ini membuat The Citizens ada di puncak klasemen EPL dengan raihan sempurna 18 poin berkat 6 kemenangan dari 6 partai awal kompetisi.
Laga tandang ke markas Liverpool adalah partai pertama Manchester City sejak vonis bersalah atas 114 dari 115 tuntutan finansial mereka diumumkan ke publik. Sepanjang laga, The Citizens harus merasakan atmosfer Anfield yang panas. Berbagai banner penuh tulisan ditebarkan fans tuan rumah, mulai dari "Ch£ats" hingga pelesetan lirik lagu "Wonderwall" yang diubah menjadi "& after all you really robbed us all". Belum lagi, yel-yel yang membakar telinga seperti "114 and counting!".
Kemenangan Manchester City atas Liverpool jadi sesuatu yang unik. Di tengah 114 dakwaan yang menimpa The Citizens, mereka punya peluang untuk mengumpulkan total 114 poin musim ini, jika mampu menyapu bersih total 38 laga EPL 2026/27. City baru menyelesaikan 6 laga, dan masih tersisa 32 partai lagi untuk mewujudkannya.
City yang Sempurna di Awal Era Maresca & Rekor Poin Guardiola
Musim 2026/27 ini, Manchester City memulai era baru usai zaman keemasan Pep Guardiola. Sebelumnya, dalam 10 tahun bersama Guardiola, The Citizens mendapatkan total 20 trofi. City tercatat menang 416 kali dalam 593 laga di bawah Pep, dengan persentase kemenangan mencapai 70,2 persen.
Khusus di Liga Inggris, Pep Guardiola membuat Manchester City juara 6 kali dalam 10 musim. Yang paling mencolok adalah pada musim 2017/18, kala The Citizens menyabet gelar EPL dengan julukan Centurions. Mereka menjadi tim pertama di Liga Inggris yang bisa meraih 100 poin dalam semusim penuh.

Dalam 2 musim terakhir di bawah Guardiola, Manchester City tersendat. Mereka finis peringkat 3 pada musim 2024/25, lalu runner-up musim lalu di belakang Arsenal. Oleh karenanya, ketika Enzo Maresca mengambil alih kemudi taktis di Etihad, ekspektasi publik diwarnai keraguan.
Bukan cuma karena Pep menciptakan standar tinggi yang sulit dikejar oleh dirinya sendiri dalam 2 musim terakhir. Enzo Maresca datang ke Manchester City setelah menjalani era yang tidak terlalu istimewa di Chelsea. Persentase kemenangannya di The Blues hanya 59,78 persen saja.
Maresca memang membuat Chelsea juara Conference League dan Piala Dunia antarKlub. Namun, di EPL, posisi The Blues saat menjalani musim penuh di tangan Maresca hanyalah posisi empat. Ini ditambah dengan kekalahan 3-0 atas Arsenal di Community Shield 2026 pada debut Maresca sebagai juru taktik Man City.
Namun, sejauh ini hingga laga kontra Liverpool pada Minggu (11/10), Enzo Maresca menghasilkan 8 kemenangan dan hanya satu kalah dari 9 partai awal untuk Manchester City.

Khusus di EPL, Manchester City bukan cuma di puncak klasemen urusan poin dengan 18 angka. The Citizens adalah tim dengan rapor terbaik di antara 20 peserta (6,99). Penguasaan bola mereka yang 64,0 persen juga yang terbanyak. Demikian pula urusan akurasi umpan yang 89,1 persen. Ini ditambah dengan catatan bahwa City sudah berhadapan dengan 2 raksasa, yaitu Manchester United dan Liverpool, yang semuanya ditundukkan di kandang lawan.
Jika tren kemenangan 100% di EPL 2026/27 ini berlanjut hingga pekan ke-38, City akan meraih 114 poin. Ini sebuah pencapaian utopia yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah liga top Eropa mana pun, mematahkan rekor 100 poin milik Guardiola. Andaipun targetnya "hanya melampaui" Pep, saat ini City tinggal butuh 83 angka lagi, setara dengan 27 menang dan 1 seri dari 32 partai sisa.
Namun, proyeksi 114 poin Manchester City itu berbenturan dengan kenyataan lain di luar lapangan. Hukuman terhadap The Citizens, yang hingga kini belum diumumkan, sewaktu-waktu menghantui. Mungkinkah City akan mendapatkan pengurangan poin atau bahkan degradasi pada musim ini?
City yang Garang di Lapangan, City yang Terancam Hukuman
Dalam laga kontra Liverpool, Manchester City punya keuntungan ketika Ryan Gravenberch mendapatkan kartu merah pada menit 62. Gol-gol The Citizens pun lahir saat The Reds bermain 10 orang, mulai dari tendangan Erling Haaland ('65) aksi Jeremy Doku ('68), dan puncaknya gol cantik Rayan Cherki ('78).
Namun, secara statistik, City tetaplah yang layak memenangkan laga. Memang, ada perubahan drastis dari jumlah tembakan mereka, yang awalnya hanya 4 hingga menit 60, jadi 15 dalam 30 menit terakhir. Hanya, sejak awal, City tetaplah yang dominan dalam ball possession.
Sementara Manchester City merayakan kemenangan 3-0 di Anfield, situasi di luar lapangan lain ceritanya. Tekanan publik terhadap City mencapai titik didihnya. Para pandit di stasiun televisi terkemuka melihat 114 dakwaan yang menjerat Manchester Biru tidak bisa diabaikan begitu saja, meskipun tim tersebut memang tampil memukau.
Dalam kolomnya untuk Sky Sports pada 9 Oktober, sebelum laga Liverpool kontra City, Jamie Carragher menyebut, "Saya rasa gelar atau trofi yang dimenangkan Manchester City selama periode itu (periode yang membuat adanya 114 dakwaan) memang harus dicabut dari daftar pencapaian mereka."
"Mengenai apa yang kita ketahui sekarang, saya tidak tahu bagaimana para pemilik klub ini bisa terus bertahan di sepak bola Inggris. Sampai mereka pergi dari klub, saya tidak tahu bagaimana noda ini bisa dihilangkan dari Manchester City," tambah Carragher.
Dengan 114 dakwaan yang bergelayut, bagaimana sanksi dijatuhkan Manchester City berpotensi akan membuat riak besar, bukan cuma untuk EPL, tetapi juga untuk dunia sepak bola pada umumnya. Apalagi, kesalahan The Citizens mencakup kegagalan memberikan laporan keuangan yang akurat, manipulasi sponsor, pelanggaran regulasi Financial Fair Play (FFP), hingga ketidakpatuhan dalam penyelidikan.

Setidaknya, ada 3 hukuman potensial yang bisa diterima Manchester City terkait 114 dakwaan yang menjerat mereka itu.
Yang pertama, pengurangan poin masif. Skenario ini yang paling instan berpengaruh kepada The Citizens. Namun, pertanyaannya adalah sebesar apa poin yang dikurangi itu. Jika kasus Everton dan Nottingham Forest hanya berujung pada pengurangan 4 hingga 10 poin untuk satu pelanggaran regulasi, dakwaan bertubi-tubi yang menyeret City diperkirakan akan memicu pengurangan 30 hingga 80 poin.
Penerapannya pun mungkin bisa menciptakan keguncangan. Jika diterapkan langsung, ini sama saja menghapus peluang City untuk juara EPL, atau bahkan lebih jauh bisa menyeret mereka ke zona degradasi. Jika City akhirnya bisa meraih 114 angka, pengurangan 80 poin akan membawa mereka ke titik 34 angka saja.
Opsi kedua adalah degradasi paksa. Dengan cara ini, Manchester City bisa saja langsung turun ke Divisi Championship. Ada kemungkinan pula mereka merangkak dari divisi yang lebih bawah, jika regulasi memungkinkan.
Selain sanksi olahraga, terdapat opsi berupa pencabutan gelar juara Premier League yang diraih Manchester City pada rentang periode pelanggaran mereka, yaitu 2009–2018. Bersamaan dengan itu, klub-klub rival yang merasa dirugikan secara finansial dan kompetitif, karena kehilangan akses Liga Champions atau gagal menjuarai liga akibat manuver belanja City, dapat mengajukan tuntutan kompensasi finansial. Angkanya bakal signifikan hingga ratusan juta paun atau lebih.
Namun, hukuman untuk Manchester City ini bukanlah hukuman yang langsung terjadi. Sesuai dengan regulasi Premier League, Manchester City memiliki mekanisme dan ruang untuk mengajukan banding. Selama proses banding berjalan, tim hukum City dapat menguji aspek hukum, mempertanyakan keabsahan bukti, atau berargumen mengenai berat ringannya skala sanksi yang dijatuhkan. Proses ini berpotensi memakan waktu berbulan-bulan.
Bagi Manchester City, angka 114 kini dilihat dari dua sudut pandang berbeda. 114 poin atau 38 kemenangan di lapangan akan membuat mereka membuat rekor sempurna di EPL. Namun, di luar lapangan, angka yang sama, 114, dalam konteks 114 dakwaan, berpotensi menggoyang dinasti Etihad yang sudah dibangun lebih dari satu dekade.

Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id


































