tirto.id - Barcelona baru saja menorehkan 8 kemenangan beruntun pada awal musim LaLiga 2026/2027, selepas pekan lalu menundukkan Getafe 3-0 di Stadion Camp Nou. Hasil tersebut sekaligus menyamai rekor kemenangan terpanjang pada awal musim 2013/2014 silam.
Namun demikian rekor yang dibukukan oleh Barca asuhan pelatih Hansi Flick dari sisi produktivitas lebih baik ketimbang era pelatih Tata Martino musim 2013/2014. Tim asuhan Flick sudah membukukan total 34 gol dan kebobolan 7 kali, lebih baik ketimbang skuad Martino yang mencatat 28 gol dan kebobolan 6 kali pada pekan ke-8.
Ironisnya rekor kemenangan panjang pada awal musim ternyata tidak serta merta menjamin trofi. Pasalnya Barcelona era Martino pada 2013/2014 justru hanya bisa mengunci 1 trofi, Piala Super Spanyol saja. Ketika itu Barca gagal juara di LaLiga, Copa del Rey, dan terhenti di babak 8 besar Liga Champions.
Barcelona Tancap Gas di Awal Musim 2026/2027
Barcelona tampil konsisten sejak kompetisi LaLiga 2026/2027 dimulai, di antaranya menang kontra Elche, Athletic Club, Rayo Vallecano, Valencia, Levante, Racing Santander, Sevilla, dan Getafe.
Klub asal Catalan ini juga menang atas Feyenoord di Liga Champions, sehingga Barcelona sudah memenangi 9 pertandingan pertamanya di seluruh kompetisi.
Hasil melawan Getafe memperlihatkan kemampuan Barcelona mempertahankan performa setelah jeda internasional selama 3 pekan. Namun, rekor kemenangan beruntun hanya modal awal. Persaingan rebutan gelar menuntut performa yang konsisten.
Kunci Cemerlangnya Hansi Flick dan Barcelona
Kedalaman skuad menjadi salah satu aspek menonjol dari Barcelona musim ini. Dalam laporan El País mengenai kemenangan atas Getafe, Ramon Besa menyoroti kontribusi pemain baru terutama Gordon dan Gabriel Jesus, yang membantu Barcelona tetap produktif ketika Raphinha absen.
Raphinha, pencetak gol terbanyak Barcelona musim ini, tidak bermain karena mengalami masalah ringan pada paha. Absennya pemain Brasil tersebut memberi kesempatan kepada Gordon dan Gabriel Jesus untuk mengisi lini depan. Keduanya mencetak gol dalam kemenangan atas Getafe.
Gabriel Jesus mencetak gol dalam penampilan pertamanya sebagai starter. Eks Arsenal itu juga sudah mengonversi 3 tembakan tepat sasaran menjadi 3 gol sejak bergabung dengan klub. Statistik ini memperlihatkan efektivitasnya pada awal masa bersama Barcelona.
Flick juga memanfaatkan pergerakan kedua penyerang untuk menghadapi pertahanan Getafe yang memakai 5 pemain di lini belakang. El Periodico menyebut Gabriel Jesus dan Gordon bergerak aktif mengganggu pertahanan lawan. Keduanya turut berkontribusi saat Barcelona kehilangan bola.
Pendekatan tersebut membuat tekanan Barcelona tidak berhenti ketika mereka menguasai bola saja. Aktivitas para penyerang membantu tim membatasi kesempatan Getafe membangun serangan dari wilayah pertahanan sendiri.

Flick turut menunjukkan fleksibilitas dalam menyusun lini belakang. Ia memainkan 3 dari 4 bek kanan yang tersedia di skuad ketika menghadapi Getafe. Kounde, Eric Garcia, dan Xavi Espart menempati posisi berbeda sesuai kebutuhan tim dan kemampuan bermain di sejumlah peran.
Kounde bermain melebar, sedangkan Xavi Espart menempati sisi kiri. Eric Garcia mempertahankan perannya di lini belakang, sementara Gerard Martin mencatat penampilan ke-100 dengan Barcelona.
Susunan tersebut memperlihatkan cara Flick memanfaatkan karakteristik pemain yang tersedia. Rotasi dan fleksibilitas posisi jadi penting ketika Barcelona harus membagi perhatian antara LaLiga dan Liga Champions.
Adapun ujian berikutnya bakal datang dari jadwal yang makin padat. Barcelona dituntut menjaga kebugaran pemain dan efektivitas permainan ketika menghadapi lawan dengan karakter berbeda di liga domestik maupun kompetisi Eropa.
Sampai akhir Oktober 2026, dua ujian besar bakal menanti anak asuh Hansi Flick. Barcelona dijadwalkan bentrok dengan PSG di Liga Champions pada 20 Oktober 2026, kemudian disusul El Classico kontra Real Madrid pada 25 Oktober 2026.
Uji Konsistensi Flick dan Anomali Tata Martino
Rekor 8 kemenangan beruntun Barcelona di LaLiga musim ini, mengingatkan kembali pada pencapaian pelatih Tata Martino musim 2013/2014. Namun sayang sekali perjalanan pelatih asal Argentina tersebut menunjukkan bahwa start impresif tidak selalu berujung pada keberhasilan meraih banyak trofi.
Barcelona mengawali musim 2013/2014 dengan 8 kemenangan beruntun di LaLiga. Tapi skuad Martino justru gagal mempertahankan posisi puncak hingga akhir kompetisi, dan mesti puas finis sebagai runner-up.
Dalam laporan retrospektifnya mengenai laga pemungkas musim tersebut, hasil imbang 1-1 melawan Atletico Madrid di Camp Nou membuat mereka gagal mempertahankan gelar.
Alexis Sanchez membawa Barcelona unggul, sebelum Diego Godin menyamakan kedudukan pada babak kedua. Hasil itu memastikan Atletico juara LaLiga musim 2013/2014.

Di Copa del Rey 2013/2014, Barcelona juga gagal meraih trofi. Dalam pertandingan final pada 16 April 2014, Real Madrid menang 2-1 di Stadion Mestalla. Angel Di Maria membuka keunggulan El Real, Marc Bartra menyamakan skor, lalu Gareth Bale mencetak gol penentu kemenangan pada menit 85.
Adapun perjalanan Barcelona di Liga Champions musim itu terhenti di babak perempat final. Barcelona bermain imbang 1-1 melawan Atletico Madrid pada leg pertama, kemudian kalah 0-1 pada leg kedua. Atletico lolos dengan agregat 2-1.
Pengalaman tersebut membuat konsistensi jadi aspek penting bagi Flick untuk melakoni musim 2026/2027. Barcelona memang lebih produktif daripada skuad asuhan Martino setelah 8 pertandingan liga, tetapi catatan itu belum menjawab bagaimana mereka bakal bertahan ketika memasuki fase penentuan gelar.
"Saya tidak ingin memecahkan rekor, saya ingin memenangkan pertandingan," kata Hansi Flick via laman resmi klub sebelum membabat Racing Santander 7-2, pada pekan ke-6 La Liga 2026/2027.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id


































