Menuju konten utama

Serangan Siber Ancam Indonesia, Pakar Minta Publik Tak Panik

Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya meminta publik tak panik melihat angka serangan siber tanpa konteks tren, pembanding, dan tingkat risikonya.

Serangan Siber Ancam Indonesia, Pakar Minta Publik Tak Panik
Ilustrasi ancaman siber. (FOTO/iStockphoto)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menyimpulkan tingkat ancaman siber di Indonesia hanya berdasarkan angka aktivitas serangan yang tercatat dalam satu hari.

Hal ini disampaikan Alfons menanggapi data dashboard FortiGuard Labs yang mencatat sekitar 350.600 aktivitas serangan siber menyasar Indonesia dalam kurun waktu 24 jam pada Sabtu (7/11/2026). Dari jumlah tersebut, sekitar 214 ribu aktivitas tercatat menyasar sektor perbankan, keuangan, dan asuransi.

Menurut Alfons, angka tersebut perlu dilihat dengan membandingkannya terhadap data pada periode yang sama tahun sebelumnya maupun rata-rata aktivitas serangan harian. Dengan begitu, publik dapat mengetahui apakah jumlah tersebut memang menunjukkan peningkatan ancaman atau masih berada dalam pola aktivitas yang biasa terjadi.

"Jadi, kita enggak bisa lihat cuma dari angka segitu saja, kayaknya gede banget. Itu kan usaha serangan. Terus dibandingkan periode yang sama tahun lalu bagaimana? Terus periode yang sama setiap hari berapa? Dari situ baru ambil kesimpulan," kata Alfons kepada Tirto, Minggu (8/11/2026).

Ia menilai, penyajian angka aktivitas serangan dalam rentang satu hari tanpa konteks pembanding berpotensi menimbulkan persepsi berlebihan di tengah masyarakat. Alfons juga menyinggung pentingnya melihat data tahunan yang dirilis Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sebagai pembanding.

“Lihat aja BSSN datanya. Itu 2025 berapa miliar serangan. Lalu, sehari 315.000 [serangan] itu gede atau kecil? Malah terlalu kecil gitu,” ujarnya.

Menurutnya, jumlah serangan yang tercatat dalam satu hari perlu ditempatkan dalam konteks keseluruhan aktivitas ancaman siber selama setahun.

"Jadi maksudnya kasih data yang benar. Jangan data sehari, data seminggu lu suruh orang panik. Data setahun, nah ini November naik tinggi. Kenapa? Karena AI? Kenapa? Data gitu, jangan cuma nakut-nakutin orang," ujarnya.

Alfons turut mengkritik penyajian data ancaman siber yang menurutnya tidak disertai penjelasan memadai mengenai konteks dan tingkat risikonya. Ia mengingatkan agar perusahaan penyedia layanan keamanan siber menyampaikan data secara transparan dan proporsional.

Ia bahkan menyinggung kemungkinan adanya kepentingan komersial di balik penyajian data ancaman siber yang terkesan menakutkan. Menurutnya, publik perlu mendapatkan informasi yang akurat agar tidak terjebak dalam kepanikan yang tidak didukung penjelasan teknis.

Alfons menjelaskan, angka 350.600 aktivitas dalam dashboard FortiGuard memang tercatat, tetapi tidak berarti terdapat 350.600 sistem yang berhasil dibobol. Angka tersebut merupakan jumlah upaya serangan yang terdeteksi dan diblokir oleh sensor Fortinet.

Ia mengibaratkan aktivitas tersebut seperti kamera pengawas (CCTV) di sebuah kompleks perumahan yang mencatat setiap orang yang mencoba membuka pagar. Meski tercatat ratusan ribu percobaan, bukan berarti ratusan ribu rumah telah kemalingan.

Sebagian besar aktivitas semacam itu, menurutnya, merupakan pemindaian otomatis yang dilakukan botnet maupun perangkat lain yang terus mencari celah keamanan sistem. Sektor keuangan menjadi salah satu sasaran menarik karena menyimpan informasi dan aset bernilai bagi pelaku kejahatan siber.

"Angka sekitar 350 ribu per hari juga bukan lonjakan luar biasa. Data lain bahkan mencatat rata-rata harian di Indonesia lebih tinggi dari itu. Di dashboard yang sama, Malaysia, Australia, dan Selandia Baru pada saat yang sama tercatat lebih banyak dari Indonesia," tuturnya.

Menurutnya, hal yang lebih perlu diperhatikan adalah tren serangan dalam jangka panjang yang terus meningkat serta insiden nyata di negara lain, seperti kebocoran data SMBC Consumer Finance di Jepang dan perubahan tampilan situs Bank Rakyat di Malaysia akibat peretasan (web defacement).

"Bagi nasabah, langkahnya tetap sama: aktifkan autentikasi dua faktor, jangan pernah memberikan OTP, akses bank hanya lewat aplikasi resmi atau dengan mengetik alamat situs langsung, dan periksa mutasi rekening secara berkala," tuturnya.

Selain persoalan angka, Alfons juga menyinggung sejumlah pemberitaan mengenai insiden keamanan siber di berbagai negara. Ia menilai setiap insiden perlu dijelaskan berdasarkan karakteristik dan penyebabnya, bukan sekadar disamaratakan sebagai gambaran meningkatnya ancaman siber.

Ia mencontohkan sejumlah kasus yang disebutnya terjadi di Jepang, Malaysia, dan Prancis. Menurut Alfons, insiden pada perangkat Internet of Things (IoT), misalnya, dapat berkaitan dengan perangkat yang tidak diperbarui atau tidak mendapatkan pembaruan keamanan.

“Jadi yang jeleknya apa? Orang tuh jadi panik. Ini semua pada ribut gitu loh. Ada kekacauan di sana, kekacauan di sini. Di Jepang dijebol, di Malaysia dijebol, di Prancis. Freezer-nya dijebol, padahal itu kan bukan sesuatu yang relatif banget gitu loh. Yang Jepang itu soal PHP,” ujarnya.

“Yang di Prancis itu freezer dijebol. Itu karena IoT, enggak di-update. Di Malaysia, dari otoritasnya sendiri bilang itu Bank Rakyat, bank yang enggak pernah kedengeran gitu loh,” tambahnya.

Bagi Alfons, penyajian informasi mengenai ancaman siber seharusnya tidak berhenti pada jumlah aktivitas yang terdeteksi. Informasi tersebut perlu disertai penjelasan mengenai jenis serangan, tren peningkatan, dampak terhadap korban, serta faktor yang menyebabkan terjadinya insiden.

Ia meminta perusahaan penyedia layanan keamanan siber maupun pihak terkait menyampaikan data secara lebih akurat sehingga masyarakat dapat memahami tingkat ancaman yang sebenarnya.

"Kalau memang butuh panik, lu kasih data yang akurat. Ambil kesimpulan ini. Bukannya asal kasih data sehari dua hari langsung sodor suruh orang panik," kata Alfons.

Sebelumnya, dashboard FortiGuard Labs mencatat sekitar 350.600 aktivitas serangan siber yang menyasar Indonesia pada Sabtu (7/11/2026). Sektor perbankan, keuangan, dan asuransi tercatat sebagai salah satu target terbesar dengan sekitar 214 ribu aktivitas, disusul sektor pemerintahan dengan sekitar 79 ribu aktivitas.

Namun, berdasarkan pemantauan Tirto pada Minggu (8/11/2026) pagi, angka dan distribusi sektor sasaran dalam dashboard tersebut berubah dalam hitungan menit. Sektor perbankan, keuangan, dan asuransi menempati posisi teratas dengan sekitar 255 ribu aktivitas serangan. Disusul sektor kesehatan sebanyak 184 ribu, pemerintahan 112 ribu, manufaktur 75 ribu, dan teknologi 45 ribu aktivitas.

Di tingkat Asia Pasifik, Indonesia juga tercatat masuk dalam empat negara dengan aktivitas serangan siber terbanyak dalam periode 24 jam terakhir berdasarkan dashboard tersebut. Indonesia mencatat sekitar 189 ribu aktivitas, berada di bawah Selandia Baru dengan 993 ribu aktivitas, Australia sebanyak 558 ribu, dan Malaysia sekitar 496 ribu aktivitas

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Hendra Friana