Menuju konten utama

Serangan Siber Hantam Bank di Eropa-Asia, Dana Nasabah Terancam

Serangan siber melanda perbankan Prancis, Taiwan, Jepang, dan Malaysia, sementara India memperingatkan ancaman peretasan berbasis AI.

Serangan Siber Hantam Bank di Eropa-Asia, Dana Nasabah Terancam
Ilustrasi kejahatan siber. foto/shutterstock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Serangan siber kembali membayangi industri perbankan global. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah lembaga keuangan di Prancis, Jepang, Taiwan, hingga Malaysia dilaporkan menghadapi insiden keamanan digital, mulai dari pencurian dana bank, pembobolan rekening nasabah, hingga kebocoran informasi pribadi.

Salah satu kasus terbesar terjadi di Prancis. Bank Crédit Mutuel Arkéa mengungkap telah kehilangan dana sekitar 100 juta euro atau setara 112,61 juta dolar AS akibat serangan siber yang memungkinkan peretas melakukan transaksi ilegal menggunakan rekening milik bank.

Mengutip CNA, serangan tersebut terjadi pada Rabu (4/11/2026). Peretas menggunakan rekening milik Crédit Mutuel Arkéa untuk mengirimkan dana ke sejumlah bank lain. Dana tersebut diduga kemudian dikonversi menjadi mata uang kripto melalui platform khusus.

Pihak bank menyatakan serangan tidak melibatkan rekening nasabah. Namun, sebagai langkah pencegahan, bank sempat menghentikan sementara sejumlah transaksi sehingga menyebabkan keterlambatan transfer.

Bank juga menyampaikan telah melaporkan insiden tersebut kepada Bank Sentral Eropa (ECB), otoritas pengawas perbankan Prancis, serta kejaksaan. Kepolisian kejahatan siber Paris turut membuka penyelidikan atas dugaan serangan terorganisasi terhadap sistem pemrosesan data.

Sayangnya, bank belum dapat memastikan berapa banyak dana yang berhasil dipulihkan. Sebagian dana yang dicuri telah diblokir, sementara upaya penelusuran dan pemulihan sisanya masih berlangsung.

Rafay Baloch, CEO dari perusahaan keamanan siber dan teknik keamanan RedSecLabs, mengatakan bahwa serangan terhadap Credit Mutuel tersebut belum pernah terjadi sebelumnya di Eropa.

"Kami melihat banyak serangan canggih yang menargetkan lapisan aplikasi serta serangan rekayasa sosial yang canggih yang ditujukan pada lembaga perbankan," ujarnya.

Kasus serupa juga terjadi di Taiwan. Bank SinoPac mengonfirmasi adanya transaksi ilegal yang menyebabkan ratusan rekening nasabah mengalami pembobolan.

Berdasarkan laporan PTS News pada 5 November 2026, sebanyak 419 nasabah menjadi korban transfer dana tanpa persetujuan. Total dana yang dipindahkan secara ilegal mencapai lebih dari 40 juta dolar Taiwan baru (NT$40 juta).

Modus yang digunakan peretas diduga memanfaatkan kelemahan pengaturan keamanan pada sistem transaksi perbankan digital yang disediakan vendor pihak ketiga. Transaksi ilegal tersebut bahkan berhasil melewati proses verifikasi pemindaian wajah.

Sementara itu, Bank SinoPac menyatakan telah mengembalikan seluruh dana nasabah yang terdampak. Bank juga memperbaiki sistem keamanan dan melaporkan insiden tersebut kepada otoritas terkait.

Dalam keterangan resminya pada 4 November, SinoPac menyebut peretas memanfaatkan konfigurasi keamanan penyedia layanan sistem perbankan digital untuk melakukan transfer dana tanpa izin. Bank juga memastikan telah memblokir metode serangan tersebut dan memperkuat mekanisme verifikasi transaksi.

Sementara itu, ancaman kebocoran data juga menimpa industri keuangan Jepang. SMBC Consumer Finance mengumumkan pada 5 November bahwa sistem yang digunakan untuk menjalankan layanan penjaminan kredit mengalami akses tidak sah.

INTERNET Watch melaporkan, insiden tersebut berpotensi mengekspos informasi pribadi hingga 320.118 orang.

Data yang berpotensi bocor mencakup nama, tanggal lahir, alamat, nomor telepon, alamat surat elektronik, nomor surat izin mengemudi, informasi tempat kerja, hingga informasi kontrak penjaminan kredit.

Sistem yang terdampak digunakan SMBC Consumer Finance untuk menjalankan kerja sama penjaminan kredit dengan sejumlah lembaga keuangan, termasuk bank regional, bank internet, dan koperasi simpan pinjam Jepang.

Perusahaan mendeteksi akses tidak sah pada 2 November dan langsung memutus akses ke sistem yang terdampak pada hari yang sama. Namun, sampai saat ini investigasi mengenai penyebab serta cakupan kebocoran masih berlangsung.

Ancaman serangan siber juga muncul di Malaysia. Situs korporat Bank Rakyat dilaporkan mengalami peretasan pada 6 November 2026. Dilansir Portal berita RTM, insiden tersebut dikategorikan sebagai web defacement, yakni pengambilalihan atau perubahan tampilan halaman situs oleh pihak tidak berwenang.

Menteri Komunikasi Malaysia, Fahmi Fadzil, menyatakan insiden hanya melibatkan situs yang dikelola penyedia layanan pihak ketiga dan tidak mengganggu sistem operasional perbankan.

Bank Rakyat juga menegaskan, data pribadi, informasi perbankan, serta simpanan nasabah tidak terdampak. Sehingga, nasabah tetap dapat melakukan transaksi melalui aplikasi iRakyat dan saluran perbankan digital lainnya.

Berbeda dengan Malaysia, India menghadapi ancaman serangan siber yang menyasar perusahaan pembiayaan dan teknologi finansial. Badan keamanan siber India (CERT-In) memperingatkan adanya peningkatan serangan oleh kelompok yang dinamai Crafty Falcon. Kelompok tersebut memanfaatkan sejumlah perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengotomatisasi serangan terhadap lembaga keuangan. Targetnya meliputi perusahaan pembiayaan nonbank (NBFC), perusahaan teknologi finansial (fintech), agregator pembayaran, hingga bursa aset kripto.

CERT-In juga mengidentifikasi penggunaan sejumlah perangkat, antara lain ARTEX, PentAGI, Cairn, dan CyberStrikeAI. Perangkat tersebut memungkinkan pelaku mengotomatisasi pencarian celah keamanan, menyusun skrip serangan, hingga mengeksploitasi sistem pembayaran dan pencairan dana.

Serangan juga dirancang untuk memanfaatkan periode akhir pekan dan hari libur ketika pengawasan keamanan cenderung lebih rendah.

Peringatan tersebut menyusul sejumlah insiden di sektor keuangan India. Dua perusahaan pembiayaan nonbank sebelumnya dilaporkan kehilangan sekitar 2 juta dolar AS melalui lebih dari 700 transaksi ilegal yang memanfaatkan API pembayaran yang terhubung dengan ICICI Bank. Namun, CERT-In tidak menyatakan bahwa seluruh insiden tersebut dilakukan oleh kelompok Crafty Falcon.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana