tirto.id - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat perbaikan tanggul serta menormalisasi sungai di Aceh setelah bencana longsor dan banjir bandang di kawasan tersebut. Penanganan itu difokuskan di lima wilayah, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Utara, Nagan Raya, dan Pidie Jaya.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menyampaikan bahwa penanganan bencana dinilai harus memberikan manfaat untuk masyarakat. Hal ini disebut dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut dia, penanganan bencana tidak hanya berorientasi pada pemulihan kondisi setelah bencana, melainkan juga harus memperkuat ketahanan infrastruktur.
"Pekerjaan masih terus kita lanjutkan. Saat ini jajaran Sumber Daya Air melakukan pembersihan sungai dan muara untuk memperlancar aliran air serta mengurangi risiko terjadinya banjir susulan," tutur Dody dalam keterangan resmi, Sabtu (7/11/2026).
Pembersihan Sedimen dan Penguatan Tanggul di Berbagai Kabupaten
Perbaikan berupa perbaikan tanggul-normalisasi sungai yang dilakukan pemerintah di sejumlah kawasan di Aceh. foto/ istimewa/Kementerian Pekerjaan Umum

Sementara itu, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Asyari mengatakan, pihaknya terus meningkatkan kesiapsiagaan serta merespons secara cepat setiap kejadian bencana banjir di seluruh kabupaten/kota di Aceh.
"Upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mengurangi risiko bencana, meningkatkan perlindungan masyarakat, serta mewujudkan infrastruktur sumber daya air yang lebih tangguh dan berkelanjutan," ujarnya.
Kata Asyari, hingga 4 November 2026, pengerjaan perbaikan di Aceh Tenggara difokuskan pada upaya pencegahan luapan susulan Sungai Lawe Bulan dan Lawe Kihing dengan mengerahkan satu unit excavator untuk melakukan normalisasi alur serta penguatan tanggul sungai di Desa Kuning I.
Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan dengan berfokus pada pengerukan sedimen dan perapian alur di Pinding, Bambel, Aceh Tenggara, agar debit air dari hulu tak lagi mengancam kawasan pertanian-perumahan warga.
Penanganan juga berlangsung di Gayo Lues pascabanjir yang sempat memutus akses antar-desa. Pada 3-4 November 2026, satu unit eskavator dioperasikan untuk melakukan normalisasi alur dan perbaikan tanggul Sungai Pangur yang melintasi Badak, Dabun Gelang.
"Di Kabupaten Aceh Utara, fokus pekerjaan diarahkan pada penanganan dampak meluapnya Sungai Peuto dan rusaknya infrastruktur pintu air yang sempat merendam rumah warga serta badan jalan Lhoksukon-Cot Girek," sebut Asyari.
Sementara itu, pada tanggal 3-4 November 2026, Tim Satgas menempatkan satu unit alat berat untuk membersihkan serta normalisasi saluran pembuangan di Syamtalira Aron, Aceh Utara.
Antisipasi Abrasi dan Perbaikan Jalur Transportasi Utama
Perbaikan berupa perbaikan tanggul-normalisasi sungai yang dilakukan pemerintah di sejumlah kawasan di Aceh. foto/ istimewa/Kementerian Pekerjaan Umum

Percepatan serupa juga dilakukan di Nagan Raya, Aceh guna mengantisipasi ancaman abrasi tebing sungai yang kian mendekati perumahan di Desa Pulo Raga dan Desa Krueng Cut, Beutong, Aceh.
Pada 3 dan 4 November 2026, alat berat excavator dikerahkan untuk membangun tanggul darurat sekaligus menormalisasi alur Sungai Krueng Seunagan di Desa Krueng Cut yang berbatasan dengan jalur lintas Meulaboh-Beutong.
Lalu, di Kabupaten Pidie Jaya, pengerjaan fisik ditingkatkan dengan pengerahan dua unit excavator secara simultan di Desa Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, pada 3 dan 4 November 2026.
"Alat berat tersebut difokuskan untuk mempercepat perbaikan tanggul jebol serta merapikan alur Krueng Meureudu pascabanjir luapan akhir Oktober lalu yang sempat melumpuhkan Jalan Nasional Banda Aceh-Medan," urai Asyari.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































