Menuju konten utama

Korban Banjir Aceh Tamiang Keluhkan Air Bersih di Huntara

Selain persoalan air, Nuraini berharap pemerintah menyediakan angkutan khusus sekolah yang gratis bagi anak-anak yang tinggal di huntara.

Korban Banjir Aceh Tamiang Keluhkan Air Bersih di Huntara
Nurita saat menyampaikan keluhannya dalam pertemuan antara gubernur Aceh dengan korban banjir di Masjid Darussalam, Desa Simpang Empat, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Selasa (13/10/2026). Foto: Humas Pemerintah Aceh
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah korban banjir yang kini menempati hunian sementara (huntara) di Kabupaten Aceh Tamiang, mengeluhkan keterbatasan akses air bersih dan transportasi bagi anak-anak mereka untuk bersekolah.

Nuraini, salah seorang warga yang menempati huntara di Desa Simpang Empat, Kecamatan Karang Baru, mengatakan keluarganya harus mengeluarkan uang setiap hari untuk membeli air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami kekurangan air, kami beli air setiap hari Rp10 ribu, Rp20 ribu,” kata Nuraini dalam pertemuan antara Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dengan korban banjir di Masjid Darussalam, Desa Simpang Empat, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Selasa (13/10/2026).

Selain persoalan air, Nuraini berharap pemerintah menyediakan angkutan khusus bagi anak-anak yang tinggal di huntara agar mereka dapat pergi ke sekolah, tanpa membebani keuangan keluarga.

Ia mengungkapkan anaknya harus menempuh perjalanan dari Opak menuju Kuala Simpang yang berjarak kurang lebih 12 kilometer dengan menggunakan kendaraan berbayar. Padahal, sebelumnya ia mendapat informasi dari kepala desa bahwa akan tersedia angkutan untuk anak sekolah.

“Kemarin dari Pak Datok (kepala desa) katanya ada angkutan untuk anak sekolah. Saya tunggu-tunggu tidak ada, Pak,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan Nurita, warga Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru. Ia mengatakan, angkutan bagi anak sekolah sempat tersedia, tetapi tidak lagi beroperasi sejak Sabtu pekan lalu.

Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga pascabencana membuat mereka kesulitan membayar biaya transportasi anak untuk pergi ke sekolah.

“Mohon bantuan dan pengertiannya untuk kendaraan anak-anak sekolah. Awalnya ada, tapi terakhir hari Sabtu kemarin tidak ada lagi angkutan untuk anak sekolah. Kami tidak sanggup membiayai transport untuk naik mobil,” kata Nurita.

Tak hanya transportasi, Nurita juga mengeluhkan kualitas air di huntara yang dinilai belum layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meski air tersedia, ia mengatakan kondisi air tersebut menimbulkan keluhan gatal-gatal pada tubuh warga. Akibatnya, sebagian warga memilih menumpang menggunakan fasilitas masjid untuk memenuhi kebutuhan sanitasi.

“Memang ada airnya, tapi dibilang bersih enggak bersih, sampai badan kami gatal-gatal. Sampai kami harus numpang mandi di masjid, buang air besar, berwudhu kami di masjid,” ungkapnya.

Menanggapi keluhan warga tersebut, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mengatakan pemerintah memahami kondisi warga yang masih menghadapi berbagai keterbatasan di hunian sementara.

Ia menyebut pemenuhan kebutuhan dasar warga akan terus diupayakan secara bertahap, termasuk penyediaan air bersih, fasilitas toilet, dan listrik.

“Kita tahu bahwa ini memang serba kekurangan. Tapi insyaAllah, menyusul dari hari ke hari kita akan kasih kesempurnaan semuanya, contohnya air bersih, WC, dan listrik di tempat yang kita cintai ini,” kata Muzakir Manaf.

Keluhan warga penyintas banjir tersebut menunjukkan bahwa pemulihan kehidupan korban banjir tidak hanya pada penyediaan tempat tinggal sementara, namun juga pemenuhan terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar dan akses pendidikan agar aktivitas sehari-hari dapat kembali berjalan.

Baca juga artikel terkait KORBAN BANJIR ACEH atau tulisan lainnya dari Firhan Farabi

tirto.id - Flash News
Kontributor: Firhan Farabi
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Bayu Septianto