STOP PRESS! Setahun Pemerintahan Trump: AS Tutup Sementara Layanan Publik

Ruang Pengap di Negeri Pelarian

Kolumnis:
10 Januari, 2018

Pengungsi dan Pencari Suaka ditampung dalam ruangan Sel. tirto.id/Arimacs Wilander

Seorang pengungsi yang menghuni ruang penampungan membuka pintu sel. tirto.id/Arimacs Wilander

Selain berjejal orang yang tidur di lorong Sel, barang-barang kebutuhan pengungsi juga berjejal menggantung di sepanjang lorong. tirto.id/Arimacs Wilander

Ruang penuh sesak dengan orang dan barang-barang bawaan. tirto.id/Arimacs Wilander

Tidur di lantai lorong-lorong Sel beralaskan kasur tipis. tirto.id/Arimacs Wilander

Penuhnya ruang penampungan pengungsi membuat mereka tidur harus mepet ke pintu sel. tirto.id/Arimacs Wilander

Ruang privat bagi pengungsi suami istri. tirto.id/Arimacs Wilander

Sel yang dihuni khusus wanita. tirto.id/Arimacs Wilander

Membuka Pintu Sel berharap tak begitu pengap. tirto.id/Arimacs Wilander

Secara bergiliran, pengungsi bergantian untuk tidur dan berjaga di ruang Sel yang sempit. tirto.id/Arimacs Wilander

Tidur di lantai berdempet-dempetan beralaskan kasur tipis dan selimut. tirto.id/Arimacs Wilander

Penuh sesak tidur bersama di lantai. tirto.id/Arimacs Wilander

Tatapan kosong pencari suaka. tirto.id/Arimacs Wilander

Gelombang pencari suaka dan pengungsi terus berlangsung, dan Indonesia kerap menjadi negara rujukan. Para pengungsi datang dari Afghanistan, Somalia, Sudan, Myanmar, Pakistan, Kongo, dan Srilanka. Umumnya, mereka lari dari tekanan suasana perang di negaranya.

Januari 2018, Otoritas Imigrasi Jakarta mencatat 155 pencari suaka dan 69 pengungsi ditampung di Rumah Detensi Imigrasi Jakarta. Bangunan yang sebenarnya dibuat untuk penampungan sementara para pelanggar administrasi keimigrasian (Immigratoir), bukan untuk menampung pencari suaka dan pengungsi.

Immigratoir, pencari suaka, dan pengungsi menghuni 5 blok di Rumah Detensi Imigrasi Jakarta yang idealnya hanya menampung 120 orang. Mereka mengisi sel-sel sempit dan lorong di antara sel. Dinding sel dan lorong dipenuhi baju dan tas yang mereka bawa selama pelarian. Mereka tidur di lantai dengan kasur lipat tipis yang tebalnya kira-kira 3 cm.

Meski tidak layak, mereka lebih memilih penampungan ketimbang harus pulang ke negara asal mereka yang penuh konflik.

Foto & Teks: Arimacs Wilander

Keyword


Ruang Pengap di Negeri Pelarian