tirto.id - Ada sebuah foto terkenal dari meja kerja Albert Einstein yang diabadikan tak lama setelah ia meninggal pada 1955. Meja itu penuh sesak oleh tumpukan kertas, buku-buku, dan dokumen yang berserakan. Pemandangan tersebut memang cocok dengan kata-kata Einstein sendiri. Suatu kali, sang ilmuwan pernah berucap, "Jika meja yang berantakan adalah tanda dari pikiran yang berantakan, lantas bagaimana dengan meja yang kosong?"
Kerapian memang bukan ciri Einstein. Meja kerjanya berantakan. Pun demikian dengan rambutnya yang khas itu. Namun, itu semua tidak menghalanginya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa yang membuat dirinya jadi salah satu ilmuwan paling berpengaruh sepanjang masa. Maka, tidak heran apabila dia kemudian "membela diri" lewat kata-katanya soal meja yang berantakan tadi.
Narasi ini bahkan sampai menghasilkan sosok ikon global bernama Marie Kondo yang buku dan acara televisinya mengajari jutaan orang tentang caranya "merapikan hidup" dengan hanya menyimpan barang yang "memancarkan kebahagiaan". Popularitas KonMari, metode merapikan ruang ala Marie Kondo, meledak setelah Netflix menayangkan sebuah acara bernama Tidying Up with Marie Kondo pada 2019.
Narasi yang memihak pada kerapian memang bukan sembarang narasi. Ada bukti ilmiah yang mendasarinya. Para peneliti dari UCLA’s Center on Everyday Lives of Families, misalnya, pernah mempelajari 32 keluarga di California. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang menggambarkan rumah mereka sebagai "berantakan" atau "penuh dengan barang" memiliki kadar kortisol yang lebih tinggi sepanjang hari. Kortisol merupakan hormon stres. Artinya jelas, ruang hidup yang berantakan berimbas buruk bagi mereka yang tinggal di dalamnya.
Dengan demikian, merapikan ruang pun bukan lagi sekadar perkara estetika. Lebih dari itu, bersih-bersih dan beres-beres adalah wujud perawatan diri yang nyata. Sebab, orang-orang yang menggambarkan rumah mereka sebagai tempat yang "menenangkan" atau "memulihkan" ternyata memiliki level kortisol yang lebih rendah sepanjang hari, khususnya pada malam hari, waktu tubuh beristirahat.
Namun, apakah itu berarti kekacauan tidak punya tempat sama sekali? Oh, tidak semudah itu.
Berantakan Melahirkan Keberanian
Pada 2013, Kathleen Vohs, profesor di Carlson School of Management, Universitas Minnesota, bersama timnya melakukan serangkaian eksperimen. Dari sana, mereka menemukan bahwa lingkungan rapi dan lingkungan berantakan memengaruhi cara otak bekerja dengan cara yang berbeda. Dan yang terpenting, dari temuan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa kekacauan tidak melulu berimpak negatif.
Dalam salah satu eksperimen, partisipan diminta berada di ruangan rapi atau ruangan berantakan, lalu diminta menyebutkan sebanyak mungkin kegunaan alternatif dari bola ping-pong. Jawaban mereka dinilai oleh juri yang tidak mengetahui dari ruangan mana jawaban itu berasal. Hasilnya, partisipan dari ruangan berantakan menghasilkan jawaban yang lebih kreatif dan lebih orisinal. Mereka tidak cuma mampu melahirkan lebih banyak ide, tetapi ide-ide yang dihasilkan pun lebih segar dan tidak terduga.
Eksperimen lain dalam studi yang sama menguji soal pilihan. Partisipan dari ruangan rapi lebih cenderung memilih opsi yang konvensional dan mengikuti norma, seperti memilih apel daripada cokelat saat diberi camilan. Sementara itu, partisipan dari ruangan berantakan cenderung memilih pilihan yang lebih tidak lazim. Vohs dan timnya menyimpulkan bahwa keteraturan mendorong orang mengikuti konvensi sosial, sementara ketidakberaturan mendorong orang keluar dari zona nyaman kognitif itu.
Temuan Vohs dkk. itu ternyata memang sejalan dengan bukti-bukti yang sudah ada. The American Psychological Association mencatat bahwa sejumlah tokoh paling inovatif dalam sejarah dikenal justru karena meja kerjanya yang sangat berantakan. Selain Einstein, nama-nama seperti Mark Twain dan Steve Jobs juga masuk dalam daftar itu. Jobs, pendiri Apple yang terkenal dengan obsesinya pada desain yang bersih dan minimalis, rupanya bekerja di meja yang jauh dari kata teratur.
Ada logika yang masuk akal di sini. Lingkungan yang teratur memancarkan sinyal "ikuti aturan yang ada". Setiap benda berada di tempatnya, setiap kategori terdefinisi dengan jelas, dan otak kita secara tidak sadar ikut beroperasi untuk mengikuti sistem yang sudah ada. Lingkungan yang berantakan, di sisi lain, tidak memberikan panduan seperti itu. Otak terdorong untuk membuat koneksi baru, menemukan pola yang tidak biasa, dan berpikir out-of-the-box.
Kemudian, ada pula sisi lain dari kekacauan yang disampaikan dalam artikel di Journal of Business Research. Hasil penelitian Jamal Abarashi dari Auckland University of Technology bersama timnya menunjukkan bahwa kekacauan, khususnya dalam rumah yang ditinggali sebuah keluarga, adalah mekanisme yang lahir secara natural dari koeksistensi manusia-manusia di dalamnya.
Dalam studinya, Abarashi dkk. meneliti dan mewawancarai secara mendalam 22 rumah tangga di Selandia Baru. Para informan diminta mengambil foto sendiri ruangan-ruangan di rumah mereka, baik dalam kondisi rapi maupun berantakan, sebagai bahan diskusi wawancara. Tujuannya bukan sekadar mengukur seberapa berantakan rumah mereka, melainkan memahami mengapa kekacauan itu ada dan apa fungsinya dalam ritme kehidupan keluarga sehari-hari. Dan ternyata, kekacauan di rumah hampir tidak pernah terjadi secara acak atau semata-mata karena kemalasan. Ia muncul dari cara keluarga hidup dan bergerak bersama.

Para peneliti mengidentifikasi tiga jenis "kapasitas" yang membuat kekacauan muncul. Pertama, kapasitas transien. Ini adalah kekacauan yang bersifat sementara dan muncul di titik-titik transisi aktivitas.
Ketika anggota keluarga pulang dari bekerja atau sekolah, mereka meletakkan tas, kacamata, dan kunci di permukaan yang paling mudah dijangkau, misalnya meja makan. Meja itu sekilas terlihat berantakan, padahal ia sedang berfungsi sebagai zona penyerap sementara yang memperlancar perpindahan dari ritme luar ke ritme dalam rumah. Merapikannya secara paksa dan segera justru bisa mengganggu alur transisi itu.
Jenis kedua adalah kapasitas fungsional. Ini terjadi ketika sebuah ruang harus melayani banyak fungsi secara bersamaan. Meja dapur seorang partisipan dalam penelitian itu, misalnya, sekaligus berfungsi sebagai tempat makan, meja kerja, dan meja belajar anak. Kekacauan yang muncul di sana bukan pertanda kegagalan menjaga kebersihan, melainkan bukti bahwa satu permukaan sedang melakukan banyak pekerjaan sekaligus. Membersihkannya setiap saat justru akan memutus fungsi-fungsi ganda itu dan memaksa semua aktivitas rumah tangga berjalan berurutan, bukan paralel.
Yang paling menarik adalah kapasitas ketiga, yaitu kapasitas konduktif. Ini adalah kekacauan yang muncul karena rumah sedang digunakan untuk bersosialisasi, belajar bersama, dan mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Seorang partisipan bernama James membiarkan jaket putrinya tergantung di punggung kursi alih-alih langsung menyuruhnya menaruh ke tempat yang benar. Baginya, ini bukan soal pendisiplinan yang lemah. Ia ingin memastikan putrinya tahu bahwa proses belajar bertanggung jawab itu dihargai, dan bahwa hubungan mereka tidak terus-menerus diinterupsi oleh tuntutan-tuntutan yang kaku. Dengan kata lain, kekacauan kecil itu adalah ruang toleransi yang menjaga kehangatan.
Adaptasi Pragmatis
Keluarga-keluarga dalam penelitian itu sebenarnya juga tidak tinggal diam di hadapan kekacauan. Mereka memiliki strategi, baik yang disadari maupun tidak.
Ada strategi restoring, yaitu mengembalikan barang ke tempatnya ketika kekacauan sudah melampaui batas toleransi. Ada strategi tolerating, yaitu membiarkan kekacauan sementara karena ada prioritas lain yang lebih mendesak saat itu. Dan ada strategi concealing, yaitu menyembunyikan kekacauan di balik lemari atau laci agar area yang terlihat tetap tampak rapi tanpa harus benar-benar membereskan semuanya.
Semua strategi ini bukanlah tanda kegagalan menjaga kebersihan. Menurut Abarashi dalam kolomnya di The Conversation, strategi-strategi tadi adalah wujud adaptasi pragmatis dari cara keluarga modern mengelola kehidupan yang kompleks dan penuh tuntutan.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa berantakan itu tidak selalu baik. Sebab, ternyata memang ada orang-orang yang secara natural kesulitan berfungsi di lingkungan yang penuh kekacauan. Sebuah penelitian yang dilakukan Ricardo Mateo cs. dari Universitas Navarra menguji 80 mahasiswa dalam dua kondisi: ruangan rapi dan ruangan berantakan. Tugas mereka adalah memasukkan data survei ke komputer. Ini adalah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi dan hasilnya bergantung pada kepribadian masing-masing orang.
Dari penelitian itu, didapati bahwa orang-orang dengan tingkat conscientiousness tinggi, yaitu mereka yang secara alami teliti, terorganisasi, dan bertanggung jawab, membuat lebih banyak kesalahan ketika berada di ruangan berantakan dibandingkan saat mereka berada di ruangan rapi. Ketidaksesuaian antara watak mereka yang suka keteraturan dengan lingkungan yang kacau menciptakan gangguan kognitif yang menggerogoti akurasi kerja. Sebaliknya, orang dengan conscientiousness rendah, mereka yang secara alami lebih santai soal kerapian, tidak terpengaruh oleh kondisi ruangan sama sekali.
Artinya, kekacauan bisa membantu kreativitas, tetapi bagi pekerjaan yang membutuhkan akurasi tinggi dan bagi mereka yang berwatak rapi, lingkungan berantakan justru bisa kontraproduktif. Para peneliti dari Navarra juga menekankan bahwa temuan ini memiliki implikasi penting bagi dunia kerja. Di lingkungan yang melibatkan keselamatan, seperti ruang operasi, laboratorium farmasi, atau menara pengawas lalu lintas udara, standar kerapian yang ketat bukan soal selera estetika, melainkan soal keselamatan jiwa.
Artinya, kerapian dan kekacauan ini pada akhirnya bukan soal benar dan salah, melainkan gabungan dari berbagai faktor, mulai dari kepribadian, situasi rumah tangga, sampai jenis aktivitas yang dilakukan. Semua punya tempatnya masing-masing. Semua punya fungsinya masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana lingkungan tempat hidup bisa memberikan kemudahan sebesar-besarnya bagi mereka yang tinggal di dalamnya.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





































