Raspberry Pi 400 dan Pentingnya Literasi Komputer Bagi Anak-Anak

Oleh: Ahmad Zaenudin - 7 November 2020
Dibaca Normal 6 menit
Salah satu rahasia kesuksesan Bill Gates, Mark Zuckerberg, Elon Musk, dan Steve Wozniak: belajar komputer sejak usia dini.
tirto.id - "Kami sedari dulu sadar bahwa ada kesenjangan digital yang sangat nyata di tengah anak-anak," ucap Philip Colligan, Chief Executive Officer Raspberry Pi Foundation--entitas asal Inggris yang mendedikasikan diri untuk menciptakan "komputer mini" berharga terjangkau untuk anak-anak (dan juga pehobi komputer), dengan tujuan menumbuhkan semangat anak-anak untuk berinovasi dengan komputer.

Sebagai respons atas kesenjangan itu, Raspberry Pi meluncurkan Raspberry Pi Model B, komputer mini pertama mereka yang dihargai hanya $35 pada Februari 2012. Tak berselang lama, Raspberry Pi meluncurkan model-model yang lebih canggih lagi murah, misalnya Raspberry Pi 2 atau Raspberry Pi Zero yang dihargai $10. Tak lupa, untuk membuat komputer mini ciptaan mereka bisa memicu inovasi, Raspberry Pi merilis modul-modul khusus, misalnya modul kamera atau modul-modul Internet-of-Things (IoT) lain.

Sayangnya, meskipun komputer mini buatan Raspberry Pi dapat didefinisikan sebagai "komputer sungguhan," Raspberry Pi Model B belum bisa digunakan sebagai "komputer sungguhan". Ada modul ekstra yang harus dibeli dan pengaturan tertentu yang harus dilakukan. Dan karena komputer mini buatan Raspberry Pi ini menggunakan prosesor berbasis ARM, juga umumnya berspesifikasi rendah, di tahun-tahun awal kemunculan komputer ini hanya sistem operasi bernama Raspberry OS (yang dibuat dengan pondasi Debian) yang bisa digunakan.

Raspberry Pi, singkat kata, hanya jadi benda menarik bagi para pehobi, kurang menyentuh anak-anak.


Berangkat dari kenyataan bahwa saat ini anak-anak dipaksa belajar di rumah karena pandemi Corona (dan banyak orang-orang yang butuh komputer berharga terjangkau), Raspberry Pi pun berbenah. Di akhir 2020 ini Raspberry Pi meluncurkan Raspberry Pi 400, suatu "komputer sungguhan" yang dibangun dari Raspberry 4 (komputer mini terdahulu mereka) yang dibalut sebagai keyboard dan tinggal dihubungkan ke monitor atau TV untuk digunakan sebagai komputer. Raspberry Pi 400 pun dapat dibongkar, diambil modul intinya saja untuk kemudian diinovasikan menjadi IoT atau bahkan robot apapun. Tak ketinggalan, Ubuntu, salah satu distro Linux paling populer, mendukung komputer ini.

Paket lengkap, Raspberry Pi 400 dibanderol seharga $100, sementara inti Raspberry Pi 400 (yang dibalut keyboard tetapi tanpa SD Card, dll) dihargai sekitar $55.

Eben Upton, pendiri Raspberry Pi, sebagaimana diungkapkannya pada BBC, menyebut bahwa penciptaan Raspberry Pi 400 terinspirasi dari kesederhanaan komputer 1980-an. Bagi Upton, Raspberry Pi 400 dapat menjadi perangkat yang mendukung kebutuhan apapun, entah bekerja, belajar, atau sekedar bermain. "Bagi anak-anak, memiliki komputer sendiri adalah sesuatu yang sangat berarti di usia mereka," ujar Colligan.

Colligan tak berlebihan. Tanpa komputer di usia dini, mustahil tercipta Microsoft, Facebook, SpaceX, Apple, Google, dan perusahaan teknologi raksasa mana pun yang Anda kenal.

Belikanlah Anakmu Komputer dan Buku, Bukan Motor

"Ketika duduk di bangku kelas 7 di Lakeside School, Bill Gates merupakan sosok bertubuh paling mungil di antara teman-temannya," tulis Brennan Demuth dalam bukunya berjudul Who Is Bill Gates (2013). Tapi, siapa sangka cowok mungil itu adalah salah satu sosok paling cerdas di sekolahnya?

Gates cerdas karena ia melahap banyak sekali buku. Orangtuanya, William Gates Sr dan Marry Gates, membatasi akses anak-anak mereka terhadap TV. Ensiklopedia World Book adalah merupakan bacaan favorit Gates kecil. Bagi Gates, ensiklopedia merupakan jendela (alias "Windows") dunia.

Sebelum kelas 7, dunia Gates memang hanya buku dan buku. Pada suatu hari di tahun 1968, seorang guru mengajak Gates dan teman-temannya ke ruangan baru Lakeside School. Ruangan itu tak lain adalah laboratorium komputer.

Lakeside School baru saja membeli komputer pertamanya. Jangan samakan komputer ini dengan komputer yang Anda kenal sekarang. Bentuk komputer Lakeside School mirip mesin ketik elektonik, alias Teletype, yang terhubung melalui kebel telepon ke komputer utama alias Mainframe di pusat kota. Ketika kode diketik melalui Teletype, sambungan telepon mengirim kode itu ke Mainframe. Tak lama kemudian Mainframe menerjemahkan kode itu sebagai program untuk dijalankan Teletype.

Gates kecil terpesona melihat sang guru mempraktekkan kerja komputer. Sejak itu, hidup Gates bukan hanya buku, tetapi juga komputer.


Bersama beberapa temannya, Gates akhirnya rajin mendatangi laboratorium komputer, bahkan di luar jadwal. Tak jarang, Gates menghabiskan waktunya di laboratorium setelah jam pelajaran usai. Sebagai kutu buku, Gates mencari tahu apa itu komputer dan bagaimana komputer bekerja. Ia, sebagaimana ditulis Demuth, "membaca semua buku manual komputer yang dapat ditemukannya". Gates kecil akhirnya belajar bahasa pemrograman BASIC. Bersama temannya yang juga kepincut dengan komputer, Gates mendirikan Lakeside Programmers. Program komputer pertama yang diciptakan Gates adalah game tic-tac-toe.

Sialnya, anggota Lakeside Programmers akhirnya ketiban musibah. Karena Teletype yang dimiliki Lakeside School harus berinteraksi dengan komputer Mainframe, ada biaya yang harus mereka bayarkan. General Electric, konglomerasi teknologi yang didirikan Thomas Edison, membanderol $86 per bulan bagi penggunaan Mainframe mereka. Gates dkk rupanya kelamaan menggunakan komputer. Akhirnya pihak sekolah mematok tarif $8 dolar per jam untuk Lakeside Programmers jika hendak menggunakan Teletype.

Awalnya, biaya itu ditalangi oleh orangtua. Namun, karena pada itukomputer masihlah barang asing dan dianggap mainan belaka, para orangtua, termasuk orangtua Gates--yang sesungguhnya kaya--menolak membayari hobi anak-anak mereka. Karena terlanjur jatuh hati, Gates dan teman-temannya mencari jalan lain: bekerja.

Untungnya, tatkala Gates dan teman-teman butuh uang untuk membayar biaya "rental" komputer, sebuah perusahaan bernama Computer Center Corporation baru saja bediri di Seattle. Yang menarik, perusahaan tersebut memiliki komputer mainframe sendiri, bukan sebatas Teletype. Gates mendatangani perusahaan tersebut. Awalnya, ia meminta dipekerjakan di sana. Yang lebih menarik, perusahaan tersebut menolak lamaran pekerjaan Gates, tetapi mengizinkan Gates dan teman-temannya menggunakan mainframe dengan satu syarat: menemukan bug atau celah keamanan di program yang mereka buat. Sebagai kutu buku dan maniak komputer, mudah bagi Gates menemukan bug di program yang dibuat Computer Center Corporation. Sejak itulah Gates punya akses tak terbatas untuk memakai komputer.

Gates bahkan tak segan menginap di kantor Computer Center Corporation guna tetap berada di depan komputer.

Bukan hanya Gates dan Lakeside Programmers yang mencintai komputer sejak usia dini. Mark Zuckerberg punya pengalaman yang sama.

Steven Levy, dalam bukunya berjudul Facebook: The Inside Story (2020), mencatat pada 1980-an, "tidak banyak orang yang memiliki komputer, dan di antara orang yang memiliki komputer, tidak banyak yang memiliki modem." Ed Zuckerberg beruntung. Ia memiliki komputer dan modem.

Infografik Pertama Kali Melihat Komputer
Infografik Pertama Kali Melihat Komputer. tirto.id/Quita


Meskipun bekerja sebagai dokter gigi, Ed Zuckerberg adalah pecinta teknologi. Ia bahkan mempelajari bahasa Atari Basic secara otodidak sampai-sampai disindir orangtuanya sendiri. "Tumbuh sebagai Yahudi di New York, jika Anda memiliki setengah kemampuan otak, orangtua pasti menyuruh menjadi dokter. Bagi orangtua di zaman itu, menghabiskan waktu di depan komputer hanyalah kesia-siaan belaka," tutur Ed.

Untunglah, Ed tidak ambil pusing akan sindiran orangtua. Ia paham komputer dianggap sia-sia oleh orangtuanya karena memang di zaman itu dunia komputer masih sangat baru. Maka, tatkala Ed Zuckerberg memiliki anak, yakni Mark Zuckerberg, ia melakukan apa yang tidak dilakukan orangtuanya: membelikan komputer untuk Zuckerberg Junior.

Komputer pertama yang dipegang Mark Zuckerberg kecil adalah Atari 800, komputer pertama ayahnya. Tatkala meng-upgrade komputer menjadi IBM PC, sejenak Ed menyerahkan Atari 800 kepada anaknya. Tak lama kemudian, Ed membelikan anaknya Quantex 486DX--semacam komputer tiruan IBM PC yang berharga jauh lebih murah. Waktu itu Mark Zuckerberg masih duduk bangku kelas 6 SD.

Sebagaimana Bill Gates, Bark adalah pelahap buku. Tak lama setelah memiliki komputer pertamanya, Mark minta dibelikan buku panduan pemrograman komputer, C++. Kala itu, Mark berusia 10 tahun. Namun, karena Ed kemudian tahu buku yang dibelinya berlabel "dummies" alias untuk pemula, ia langsung berinisiatif mencarikan guru les pemrograman komputer untuk Mark. Sejak memiliki komputer dan beri les bahasa program, ujar Zuck, setiap hari ia "menghabiskan waktu hingga 5 jam di depan komputer untuk menulis kode pemrograman".

Program komputer pertama yang dibuat oleh Mark Zuckerberg ialah "ZuckNet," suatu program yang memungkinkan seluruh anggota keluarga Zuckerberg berkomunikasi melalui sambungan T1. Lalu, Mark pun berinisiatif menghubungkan seluruh peralatan dokter gigi milik Ed agar pekerjaan sang ayah lebih mudah.

Tak berbeda dengan Bill Gates dan Mark Zuckerberg, petualangan teknologi Elon Musk pun dimulai sejak usia anak-anak.

Dalam buku Elon Musk: Tesla, SpaceX, and The Quest for a Fantastic Future (2015), Ashlee Vance mencatat penciptaan Tesla, SpaceX, atau perusahaan-perusahaan futuristik lain ciptaan Elon Musk tak bermula tatkala ia memperoleh uang miliaran dolar usai menjual PayPal pada eBay. Semua itu, catat Vance, dimulai sejak usia dini. Musk, yang tumbuh di Pretoria, Afrika Selatan, melihat komputer untuk pertama kalinya di sebuah toko di dalam Sandton City Mall, Johannesburg.

"Holy Shit!" teriaknya ketika melihat komputer bernama Commodore VIC-20 untuk pertama kalinya. Usia Musk saat itu baru 10 tahun.

Musk, tulis Vance "terpesona melihat komputer karena mesin ini dapat melakukan perintah tuannya". Setelah itu Musk memburu ayahnya, Errol Musk, untuk membelikannya komputer tersebut. Sebagai teknisi dan pilot, mudah bagi Errol Musk membelikan anaknya komputer. Tapi Errol juga meledek Musk. Komputer, ujar Errol, "hanya permainan semata" dan "tidak dapat digunakan untuk melakukan kerja teknisi sesungguhnya".

Musk kecil, sebagaimana Bill Gates kecil dan Mark Zuckerberg kecil, akhirnya menghabiskan waktunya untuk mempelajari BASIC.

Bukan sesuatu yang terlalu sulit bagi Musk untuk mempelajari BASIC. Sebab, sebagaimana ditulis Vance, Musk adalah pribadi yang gemar membaca. Bahkan, Kimbal Musk menyebut saudara kandungnya itu "menghabiskan waktu 10 jam tanpa henti setiap hari untuk membaca buku". Tatkala Musk "hilang", keluarganya tahu ia dapat ditemukan di toko-toko buku Pretoria dan Johannesburg. Beberapa buku favoritnya ialah The Lord of the Rings, buku-buku fiksi ilmiah karya Isaac Asimov, hingga novel-novel Robert Heinlein.

Pada usia 12 tahun, Musk menciptakan video game berjudul "Blastar" yang kemudian diedarkan oleh salah satu edisi PC and Office Technology. Menurut majalah komputer Afrika Selatan itu, "Video game ini mengharuskan Anda menghancurkan kapal kargo luar angkasa milik alien yang membawa bom hidrogen". Tak ketinggalan, PC and Office Technology juga mengatakan video game yang diciptakan Musk "layak dimainkan".

Bill Gates kecil, Mark Zuckerberg muda, dan Elon Musk belia asyik bermain software. Kisah masa kecil Steve Wozniak, pendiri Apple, sedikit berbeda. Ia lebih cocok disebut "anak hardware" dibandingkan "anak software".

Wozniak, dalam otobiografi yang ditulisnya dan dibantu oleh Gina Smith berjudul iWoz: Computer Geek to Cult Icon: How I Invented The Personal Computer, Co-Founded Apple, and Had Fun Doing It (2006), mengaku sudah tertarik dengan dunia teknologi sejak kecil. Sang ayah, Francis Jacob Wozniak, adalah seorang teknisi Lockheed, produsen pesawat tempur asal Amerika Serikat.

Dalam otobiografinya, tak diungkapkan apa "komputer" pertama Wozniak (saya beri tanda kutip karena sebagaimana Bill Gates, Wozniak adalah salah satu sosok kunci lahirnya benda bernama komputer dalam rupa hari ini). Tapi, karena hidup berdampingan dengan teknisi Lockheed, Wozniak memiliki akses hampir tak terbatas untuk bermain-main dengan peralatan teknologi (dan sangat mungkin bersentuhan dengan "komputer"). Bahkan jika ia menginginkan, sang ayah tak mempermasalahkan Wozniak membongkar peralatan teknologi yang mereka miliki. Wozniak mengaku lebih suka membongkar TV dan radio yang gambar atau suaranya kurang bagus.

Perangkat teknologi pertama yang dimiliki Wozniak bernama Radio Kit, semacam modul elektronik bagi anak-anak untuk membuat perangkat radio sederhana. Wozniak memperolehnya tatkala ia berusia empat tahun. Di usia itu pula, Wozniak mengenal bagaimana transistor bekerja. Tatkala duduk di bangku kelas 6, Wozniak dibelikan Electronic Kids, semacam modul elektronik.

Selain diajari langsung oleh ayahnya, Wozniak bisa memahami perangkat-perangkat elektronik akibat kegemarannya membaca. Ya, Wozniak juga pelahap buku. Menurut pengakuannya, buku yang paling dicintainya adalah segala novel karangan Harriet Adams, yang menciptakan tokoh fiksi bernama Tom Swift Jr (dan kemungkinan, bahasa pemrograman Apple untuk menciptakan aplikasi bagi Mac dan iOS, "Swift," diambil dari nama tokoh ini). Tak hanya itu, keahlian Wozniak diasah melalui keterlibatannya di ekstrakurikuler elektronik di sekolahnya.

Tatkala menginjak usia muda, Wozniak sukses melakukan aksi peretasan di jaringan telekomunikasi sehingga ia bisa menelepon tanpa perlu membayar uang sepeser pun.

Ungkap Wozniak, apa yang dilakukannya ketika bocah, "merupakan jalan baginya menciptakan Apple I," produk pertama yang diciptakan Apple. Ungkapan ini juga berlaku bagi Bill Gates, Mark Zuckerberg, hingga Elon Musk.

Tentu, pertemuan Bill Gates, Mark Zuckerberg, Elon Musk, dan Steve Wozniak dengan teknologi di usia belia dan akses yang hampir tak terbatas terhadap buku merupakan sesuatu yang mewah, yang tak dimiliki setiap anak-anak. Namun, zaman kini telah berubah. Komputer semakin murah dan informasi semakin mudah (dan bahkan gratis) untuk diakses.

Baca juga artikel terkait KOMPUTER atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight