tirto.id - Hujan membasahi Kastil Windsor saat pasukan kehormatan Inggris berseragam merah berdiri tegap menyambut Sultan Haitham bin Tarik dari Oman. Kunjungan kenegaraan ini menjadi yang pertama dilakukan oleh seorang Sultan Oman ke Inggris sejak 1982, ketika Ratu Elizabeth II menjamu Sultan Qaboos bin Said.
Raja Charles III dan Ratu Camilla menyambut Sultan Haitham dalam upacara resmi, dilanjutkan dengan jamuan makan malam kenegaraan. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham dan sejumlah tokoh dari kalangan bisnis turut hadir.
Kutipan itu mengingatkan pada ketertarikan Charles terhadap Islam yang telah ia tunjukkan jauh sebelum menjadi raja.
Ketertarikan Charles pada Islam
Jejak pemikiran Charles tentang Islam bisa ditelusuri ketika ia menyampaikan pidato bertajuk "Islam and the West" di Sheldonian Theatre, Oxford, dalam acara Oxford Centre for Islamic Studies. Pidato tersebut menjadi salah satu bukti publik tentang ketertarikannya.
Dalam pidatonya, Charles menyoroti kesalahpahaman yang membentuk hubungan Islam dan Barat. Ia mengingatkan bahwa setelah Perang Dingin, harapan akan perdamaian belum menghapus prasangka terhadap Islam. Konflik di Timur Tengah dan penderitaan umat Islam di Bosnia turut memperkuat ketakutan tersebut.
Charles mengkritik kecenderungan masyarakat Barat yang menjadikan tindakan kelompok ekstrem sebagai gambaran umum Islam. Ia membandingkannya dengan menilai kehidupan di Inggris hanya berdasarkan kasus pembunuhan, pemerkosaan, kekerasan terhadap anak, dan kecanduan narkoba.
Menurutnya, cara pandang seperti itu menghasilkan penilaian yang menyimpang dan tidak adil. Ia juga menegaskan bahwa ekstremisme juga ditemukan dalam pandangan agama lain, termasuk Kristen. Charles menyebut mayoritas muslim menjalani kehidupan beragama yang moderat dan mengutip pandangan bahwa Nabi Muhammad yang tidak menyukai ekstremisme.
Charles juga menyoroti sumbangan peradaban Islam terhadap perkembangan Eropa. Ia mengingatkan bahwa masyarakat muslim di Spanyol selama berabad-abad tidak hanya melestarikan pengetahuan Yunani dan Romawi, tetapi juga mengembangkannya. Sumbangan itu mencakup matematika, astronomi, kedokteran, farmakologi, dan arsitektur. Menurut Charles, Islam telah membantu membentuk Eropa modern dan merupakan bagian dari warisan sejarahnya.
Perhatian Charles meluas hingga hubungan manusia dengan alam. Ia menilai Islam mempertahankan pandangan yang menyatukan manusia dan alam, agama dan sains, serta pikiran dan materi. Sebaliknya, ia mengkritik kecenderungan masyarakat Barat yang memperlakukan alam sebagai sesuatu yang dapat dikuasai dan dieksploitasi. Baginya, nilai spiritual dalam Islam dapat membantu Barat membangun kembali tanggung jawab terhadap lingkungan.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa Charles melihat peradaban Islam sebagai sumber pengetahuan dan gagasan untuk menghadapi persoalan modern.
Namun, pidato yang berlangsung pada 27 Oktober 1993 itu tidak membuktikan bahwa Charles menganut Islam. Ia sendiri menyatakan bahwa dirinya bukan ahli Islam dan menempatkan pidatonya sebagai upaya memperbaiki pemahaman antara dua tradisi peradaban.
Hubungan inilah yang mempertemukan ketertarikan budayanya dengan kepentingan luar negeri Inggris.
Charles dan Diplomasi Inggris di Teluk
Sejak 2011, ketika gelombang Arab Spring mengguncang Timur Tengah, Charles aktif menjalankan diplomasi Inggris dengan para penguasa Arab. Menurut investigasi Declassified UK berjudul “Charles of Arabia” (2021), sejak 2011 ia menghadiri 95 pertemuan dengan pemimpin dari delapan monarki Teluk. Media independen yang berbasis di London tersebut menilai aktivitasnya turut memperkuat hubungan Inggris dengan kawasan yang menjadi pasar penting industri pertahanan Inggris.
Pada April 2011, Charles dan Camilla mengunjungi Maroko atas permintaan Pemerintah Inggris. Agenda kunjungan mencakup promosi perdagangan, hubungan bilateral, dialog antaragama, dan kerja sama lingkungan.
Memasuki Juni 2012, giliran Sultan Qaboos dari Oman yang bertamu ke Clarence House, kediaman Charles di London. Saat itu, Oman sedang menghadapi gelombang protes. Sultan kemudian mengirimkan 110 kuda yang dimodifikasi menggunakan dua pesawat Boeing 777 untuk merayakan ulang tahun Ratu Elizabeth II. Desember di tahun itu, Oman menyepakati pembelian 12 jet Typhoon dan delapan pesawat Hawk dari BAE Systems dengan nilai sekitar £2,5 miliar.
Pada Februari 2014, Charles mengunjungi Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Di Riyadh, ia mengikuti tari pedang bersama keluarga Kerajaan Saudi. Sehari kemudian, BAE Systems, perusahaan dirgantara dan pertahanan Inggris, mengumumkan kesepakatan harga akhir untuk pengadaan 72 jet tempur Typhoon.
Namun kesepakatan itu mendapat kecaman dari berbagai aktivis. Campaign Against Arms Trade (CAAT) menyebut tindakan Charles sangat tidak pantas.
Kedekatan tersebut juga menuai kritik karena berlangsung di tengah catatan pelanggaran hak asasi manusia di sejumlah negara Teluk. Di Bahrain, aparat menindak demonstrasi prodemokrasi pada 2011, sementara Inggris tetap mempertahankan kerja sama pertahanan dengan pemerintah setempat.
Pada 12 Desember 2011, Charles menjamu Raja Hamad dari Bahrain di Clarence House. Jamuan terjadi setelah sebulan sebelumnya, Komisi Penyelidikan Independen Bahrain menerima 559 pengaduan mengenai perlakuan terhadap tahanan. Dalam laporannya, komisi menemukan pola perlakuan buruk yang dalam banyak kasus memenuhi kategori penyiksaan.
Di Oman, seorang aktivis bernama Khalfan al-Badwawi mengkritik kebijakan Sultan Qaboos. Ia ditangkap, disiksa, dan diisolasi dalam tahanan selama 32 hari.
“Saya mengadakan demonstrasi dengan seorang teman di Muscat di tengah ibu kota. Kami bertanya siapa--kuda atau manusia--yang penting?” tanya al-Badwawi dalam wawancara dengan Novaramedia.
Di Arab Saudi, Inggris terus memasok persenjataan ketika koalisi pimpinan negara itu terlibat dalam Perang Yaman. Para pengkritik menilai kunjungan dan pertemuan seremonial keluarga Kerajaan Inggris berisiko memberi legitimasi kepada para penguasa tersebut, sekaligus mengaburkan pertentangan antara kepentingan dagang dan komitmen terhadap HAM.
Charles sendiri pernah menyuarakan keprihatinan atas kasus Raif Badawi, blogger Saudi yang dipenjara dan dicambuk. Ia mengangkat kasus tersebut dalam pertemuannya dengan Raja Salman pada Februari 2015.
Ratusan dokumen perjalanan luar negeri Charles juga menjadi sorotan setelah Declassified UK melaporkan bahwa 212 berkas perjalanan luar negeri Charles dirahasiakan untuk jangka panjang. Angka tersebut bukan berarti seluruh berkas khusus aktivitas diplomatiknya di kawasan Teluk disegel.
Karena itu, ketertarikan Raja Charles pada kebudayaan Islam perlu dibaca terpisah dari dampak diplomatiknya, sembari tetap mempertanyakan bagaimana Inggris menyeimbangkan kepentingan strategis dengan komitmen terhadap hak asasi manusia.
Oman dan Kepentingan Strategis Inggris
Saat mengutip hadis Nabi Muhammad tentang keramahan penduduk Oman, Raja Charles juga memuji peran negara itu sebagai perantara diplomatik di tengah konflik kawasan. Ia menyebut upaya Oman menjaga jalur pelayaran tetap terbuka dan memuji kebijakan luar negerinya yang mengutamakan dialog.
Posisi geografis menjadikan Oman penting bagi Inggris. Negara ini memiliki wilayah Musandam yang menghadap Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Gangguan terhadap lalu lintas di selat tersebut dapat berdampak pada pasokan minyak dan perdagangan internasional.
Oman juga mempertahankan hubungan dengan berbagai pihak yang bersaing di kawasan, termasuk Amerika Serikat dan Iran. Kebijakan luar negerinya kerap mengandalkan dialog dan mediasi.
Hubungan lama Inggris dan Oman juga mencakup pertahanan, termasuk penempatan personel Inggris yang membantu angkatan bersenjata Oman. Di pelabuhan Duqm, pesisir Laut Arab, Inggris juga memperoleh akses ke fasilitas dukungan logistik bagi kapal-kapalnya.
Dalam pernyataan bersama pada 23 Oktober, Inggris dan Oman menegaskan kembali kerja sama pertahanan serta persiapan latihan militer Saif Sareea IV. Keduanya juga sepakat memperkuat pertukaran informasi keamanan maritim dan kerja sama di bidang keamanan siber.
Kedua negara kerap merujuk pada sejarah panjang hubungan mereka. Dalam pidato Windsor, Charles dan Sultan Haitham sama-sama mengutip Perjanjian 1800. Dokumen itu memuat harapan agar persahabatan kedua negara tetap utuh “hingga akhir zaman”, bahkan sampai matahari dan bulan menyelesaikan peredarannya. Charles menyebut janji tersebut ambisius dan menilai hubungan Inggris–Oman telah membuktikan ketahanannya selama lebih dari dua abad.
Kerja sama ekonomi turut diperluas kedua negara. UK Export Finance meningkatkan batas pembiayaan untuk Oman sebesar £1,6 miliar sehingga kapasitasnya mencapai £7 miliar. Fasilitas ini ditujukan untuk mendukung ekspor Inggris ke Oman dan membuka peluang proyek di sejumlah sektor, termasuk energi hijau, teknologi, mineral kritis, kecerdasan buatan, dan pusat data. Kedua negara juga mengumumkan kerja sama pendidikan dan riset melalui Cardiff University dan Oman Net Zero Centre.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































