29 Juni 1986

Piala Dunia 1986: Pesona Maradona & Cara Argentina Menepis Keraguan

Ilustrasi Mozaik Argentina Juara Piala Dunia 1986. tirto.id/Nauval
Oleh: Renalto Setiawan - 29 Juni 2020
Dibaca Normal 4 menit
Timnas Argentina 1986: Formasi 3-5-2 racikan Bilardo, kekompakan tim, dan kegemilangan Maradona.
Pada 29 Juni 1986, tepat hari ini 34 tahun lalu, Argentina menjadi juara Piala Dunia 1986. Gelar itu mereka genggam setelah mengalahkan Jerman Barat 3-2 di laga final yang menegangkan.

Di bawah terik matahari Meksiko, Argentina sempat unggul dua gol lebih dulu melalui Jorge Luis Brown dan Jorge Valdano. Jerman Barat menyamakan kedudukan lewat Karl-Heinz Rummenigge dan Rudi Voller. Dan pada menit ke-83, sekali lagi, setelah berkali-kali, Diego Maradona kembali menunjukkan kelasnya untuk mengunci kemenangan Argentina.

Mendapatkan umpan di lapangan tengah, Maradona tak buru-buru menguasai bola. Ia menunggu bola memantul, sedikit memutar badan, merencanakan sesuatu. Para pemain Jerman Barat mengepungnya, tak tahu kalau Jorge Burruchaga gelandang Argentina, terus berlari ke arah pertahanan mereka. Lewat satu sentuhan ajaib Maradona, bola bergulir ke depan ke arah Burruchaga yang sudah berdiri tanpa kawalan.

Seperti seorang bocah yang menjajal sepeda baru, Burruchaga langsung melaju kencang ke arah gawang Jerman Barat yang dikawal Harald Schumacher. Satu sentuhan, dua sentuhan, dan pada sentuhan ketiga ia menendang bola ke arah gawang. Schumacher yang telat maju ke depan gagal menepisnya. Bola masuk dan papan skor berubah menjadi 3-2 untuk Argentina.

Kelak, Burruchaga tak akan pernah melupakan momen itu. Ia ingat seragam kuning-kuning Harald Schumacher, sontekan kaki kanannya, dan sprint sejauh 36 meter--yang ia sebut sebagai “sprint paling jauh sekaligus paling menggembirakan dalam hidupku”--ke arah gawang Jerman Barat. Lain itu, ia juga selalu ingat Maradona.

Maradona, kata Burruchaga kepada FIFA, “seperti punya mata di belakang kepalanya”. Kapten Argentina itu masih bisa mengumpan dengan jitu meski sedang membelakanginya. Maka untuk umpan tersebut dan penampilan brilian di Meksiko yang membawa Argentina meriah gelar Piala Dunia 1986, Burruchaga mengatakan: “Aku selalu bersyukur karena Maradona adalah orang Argentina.”

Timnas yang Diragukan

Setelah resmi menjabat sebagai pelatih anyar Argentina pada awal 1983, Carlos Bilardo langsung terbang ke Costa Brava, Spanyol. Ia hendak menemui Maradona untuk menjelaskan visi dan misinya sebagai pelatih Argentina. Pertemuan itu, menurut Bilardo, amat penting karena menyangkut masa depan timnas Argentina.

Maradona yang kala itu sudah mendunia sedang berada dalam masa sulit. Pindah dari Boca Junior ke Barcelona dengan status pemain termahal di dunia, sinar terang Sang Bintang seperti memudar begitu saja. Ia kesepian, sulit beradaptasi, dan dihajar penyakit hepatitis. Namun, Bilardo yakin Maradona masih punya cukup tenaga untuk mengangkat prestasi Argentina.

Maka, sebagaimana diceritakan Shartak Dev di Football Paradise, dalam pertemuan itu Bilardo tanpa ragu mengatakan ia akan menjadikan Maradona sebagai kapten timnas sekaligus menggaransi satu tempat untuknya di Piala Dunia 1986.

Menurut Jonathan Wilson dalam Angels With Dirty Face (2015), pada mulanya keputusan Bilardo sempat ditentang para pelaku sepakbola Argentina, termasuk para pemain senior. Mereka menilai Bilardo terlalu menganakemaskan Maradona. Terlebih pada masa-masa tersebut Maradona amat jarang membela timnas Argentina. Selain karena hepatitis, Maradona sering ditimpa masalah lain: dari cedera engkel, penyalahgunaan obat-obat terlarang, hingga skandal rumah tangga.

Lain itu, Bilardo juga dianggap hanya menggunakan kepopuleran Maradona untuk mengamankan jabatannya.

Timnas Argentina era Bilardo hanya menang 3 kali dalam 15 pertandingan awal. Cara mereka bermain pun amat jauh dengan cara bermain Argentina di bawa asuhan Cesar Luis Menotti. Sementara anak asuh Menotti memegang teguh filosofi la nuestra yang menonjolkan kualitas individu dan permain indah, Argentina arahan Bilardo bermain amat pragmatis. Timnas Argentina ini, seperti pernah diutarakan Bilardo, “hanya percaya dengan kemenangan.”

Masalahnya kemenangan ternyata masih amat berjarak dengan timnas Argentina. Selain kalah, Argentina juga hampir selalu bermain buruk dan membosankan. Kekalahan demi kekalahan itu membuat publik sepakbola Argentina murka.

“Halaman depan rumahku dua kali diserang orang. Karenanya, setiap kali kami akan menjalani laga penting, aku menyuruh istriku memajang tulisan ‘rumah ini dijual’ di halaman depan,” ungkap Bilardo.

Titik kulminasi dari penampilan buruk ini membuat Bilardo sempat berada di tubir pemecatan. Tak main-main, salah seorang yang ingin Bilardo angkat kaki dari kursi pelatih Argentina adalah Raul Alfonsin, Presiden Argentina. Namun, ketika Alfonsin menyampaikan keinginannya kepada Maradona, sang kapten menolak dengan tegas.

“Jika Anda memecat Bilardo, aku juga akan ikut keluar. Lebih jelasnya, Anda akan memecat dua orang sekaligus,” ungkapnya.

Maradona sebenarnya tak suka dengan pendekatan taktik Bilardo dan lebih menyukai pendekatan taktik Menotti. Namun ia percaya pendekatan Bilardo kelak akan mendatangkan sesuatu bagi Argentina. Selain itu, pemecatan Bilardo, kata Maradona, “tak akan memberikan dampak baik bagi kelangsungan tim.”

Bilardo akhirnya urung dipecat dan imbasnya publik sepakbola Argentina mulai meragukan kapasitas timnas kebanggaannya.

Masih menurut Jonathan Wilson, setelah kejadian itu timnas Argentina diperlakukan seperti entitas asing. Publik sepakbola Argentina hampir tak peduli dengan penampilan mereka, baik saat kalah maupun menang. Perlakuan ini menurut Maradona bahkan masih terjadi ketika timnas Argentina melangsungkan pertandingan perdana di Piala Dunia 1986 melawan Korea Selatan.

“Mereka (para penggemar Argentina) seperti menonton kami dengan sebelah mata. Mereka bahkan tidak tahu siapa saja yang bermain untuk timnas,” kata Maradona dalam Maradona: The Autobiography of Soccer’s Greatest and Most Controversial Star (2000).

Mantra Bilardo: Formasi 3-5-2

Salah satu masalah utama timnas Argentina adalah belum nyetelnya formasi 3-5-2 racikan Bilardo. Formasi ini, terutama saat Maradona absen, membuat Argentina tampil kaku dan kesulitan mengalirkan bola ke lini depan. Meski demikian, Bilardo mengatakan “kami tak ragu dengan formasi ini, bahwa kami akan tetap bermain dengan tiga bek, lima gelandang tengah, dan dua orang penyerang [di Piala Dunia 1986].” Ia punya alasan kuat.

Sebagai salah satu gudang pesepakbola berbakat, saat itu Argentina seperti berada dalam kutukan. Mereka tidak mempunyai banyak pemain kreatif kelas atas yang mampu membuat mereka bermain menyerang seperti yang diinginkan publik. Sementara pemain-pemain dengan karakter bertahan berjubel, Maradona adalah satu-satunya pemain kreatif Argentina dengan kemampuan di atas rata-rata.

Oleh karena itu, menurut Bilardo, bermain dengan mengedepankan pertahanan merupakan pilihan yang masuk akal bagi Argentina, terutama saat menghadapi lawan yang lebih superior. Mereka hanya akan menyerang saat benar-benar mendapatkan kesempatan atau bergantung pada Maradona. Untuk menunjang pendekatan tersebut, formasi 3-5-2 jadi pilihan yang paling tepat.



Soal formasi tersebut, Jonathan Wilson dalam Inverting The Pyramid (2008) menjelaskan bahwa Bilardo pada dasarnya mengadopsinya dari catenaccio Italia yang memainkan sweeper atau libero dan tiga orang man-to-man marker di lini belakang. Setelah itu, ia juga mempelajari taktik bertahan 1-3-3-1-2 ala Jerman Barat di Piala Dunia 1974.

Namun, seiring perkembangan taktik, Bilardo sadar seorang libero atau sweeper ternyata juga bisa diberi tugas untuk melakukan man-to-man marking. Agar lebih efektif, ia lantas mengurangi empat orang pemain di belakang menjadi tiga orang. Dari sanalah Bilardo kemudian punya ide untuk menerapkan formasi 3-5-2.

Setelah para pemain Argentina secara susah payah mampu menerapkan pendekatan taktik tersebut dengan sempurna, Bilardo ternyata memilih merahasiakannya. Selama fase penyisihan grup Piala Dunia 1986, Argentina lebih sering bermain dengan formasi 4-3-1-2. Mereka baru menggunakan formasi "rahasia" ketika bertemu Inggris di perempat final.

Masih menurut Jonathan Wilson, kali ini dalam salah satu kolomnya di Guardian, Bilardo menerapkan formasi 3-5-2 yang berbeda dari biasanya. Ia menyimpan Pedro Pasculli, penyerang sekaligus pahlawan kemenangan Argentina atas Uruguay di babak 16 besar. Sebagai gantinya, ia memainkan Maradona untuk mendampingi Jorge Valdano di lini depan, tapi dengan posisi sedikit di belakang.

“Memainkan penyerang murni melawan Inggris sama saja cari mati [...] di posisi itu, dengan dukungan tiga gelandang, Maradona akan lebih mendapatkan kebebasan,” ungkap Bilardo.

Sejarah kemudian mencatat Argentina berhasil mengalahkan Inggris 2-1 dengan cara brilian. Mereka bertahan secara kompak, dan setiap kali Maradona membawa bola, pertahanan Inggris tampak dekat dengan bencana.

Maradona mempermainkan pertahanan Inggris, memimpin setiap serangan berbahaya Argentina, membuat Terry Butcher dan kawan-kawan lebih sering menebas angin ketimbang bola atau kaki. Sampai akhirnya momen yang kelak akan selalu dikenang itu tiba: “Gol Tangan Tuhan” dan gol solo run dari Maradona.


Sejak itu, Bilardo terus mempertahankan formasi 3-5-2 hingga Argentina menjadi juara. Dan Maradona, seperti saat tampil melawan Inggris, kembali tampil sebagai bintang. Di semifinal, ia mencetak dua gol kemenangan Argentina atas Belgia. Sedangkan di final, satu assist-nya memastikan Argentina mengunci gelar juara sekaligus membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Dunia 1986.

Namun, soal keberhasilan Argentina tersebut, Bilardo tak lupa mengingatkan: “Selama Piala Dunia [1986], penampilan pemain-pemain lain tak kalah brilian ketimbang Maradona. Meskipun ia menjadi faktor fundamental, kesuksesan ini bukan hanya karena Maradona: kami tahu bagaimana cara mendukungnya dan membuatnya nyaman di atas lapangan.”

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 1986 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Irfan Teguh
DarkLight