Menuju konten utama

Nestapa Warga Sikka: Bertahan dengan Air Keruh dari Celah Batu.

Dihantam kemarau panjang 2026 dan dampak gempa Flores, warga Kampung Hepang di Sikka terpaksa menadah air keruh dari ceruk batu demi bertahan hidup.

Nestapa Warga Sikka: Bertahan dengan Air Keruh dari Celah Batu.
Warga Kampung Hepang, Desa Nen Bura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka saat mengambil air di balik lubang batu, Selasa (13/10/2026). tirto.id/Mario Sina.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Air yang merembes dari celah batu itu jauh dari kata jernih. Warnanya keruh dan debitnya kian menipis dihantam kemarau panjang. Namun, bagi warga Kampung Hepang di Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, NTT, kubangan kecil itulah satu-satunya tumpuan harapan untuk menyambung hidup sehari-hari.

Dusun Hepang berada di dataran tinggi Desa Nenbura. Kampung ini dihuni 159 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 600 jiwa yang tersebar di 102 rumah. Warga menggantungkan kehidupan pada hasil bumi seperti kemiri, pala, jambu mete, dan kelapa.

Di tengah krisis air bersih yang mencekik, warga Kampung Hepang tak punya banyak pilihan. Saban hari, mereka berkejaran dengan waktu demi menampung lelehan air dari ceruk batu di sebuah kebun kawasan RT 07, Dusun Hepang. Air keruh itu diboyong ke rumah, disaring seadanya, lalu direbus untuk minum dan memasak. Derita ini sudah mengendap berbulan-bulan.

Kemarau tajam sepanjang 2026 telah mengeringkan mata air desa, diperparah guncangan gempa Flores pada 15 Agustus 2026 yang merusak cadangan air tanah.

Bagi warga Hepang, air bersih tak lagi secuil urusan memutar keran. Mereka harus menempuh jalan berdebu, mengantre giliran hingga ceruk batu terisi kembali, lalu memikul jatah air yang amat terbatas itu menuju rumah.

“Kalau musim hujan, airnya penuh. Kalau musim kemarau, airnya hanya sedikit. Kalau sedang banyak seperti ini, kami bisa dapat lima jerigen, tetapi airnya keruh,” tutur Fidelis Liseng warga Dusun Hepang.

Ia menuturkan air yang ditampung itu belum bisa langsung digunakan. Setibanya di rumah, warga harus menyaringnya terlebih dahulu sebelum dipakai untuk memasak dan minum.

Menurutnya, sumber air Laki Wair menjadi pilihan karena lokasinya relatif dekat dengan permukiman. Warga menyebutkan, air tersebut keluar dari lubang batu dan harus ditunggu hingga terkumpul cukup banyak untuk bisa diambil.

Di tengah kondisi itu, warga juga mengenal sumber air lain, yakni Wair Wawi Anak dan Wair Kali Raga. Namun, letaknya lebih jauh sehingga warga harus menggunakan kendaraan bermotor untuk menjangkaunya.

Air Berubah Keruh Setelah Gempa

Krisis Air Bersih di Sikka

Warga Kampung Hepang, Desa Nen Bura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka saat mengambil air yang keruh di balik lubang batu. tirto.id/Mario Sina.

Laurensius Pinerius, warga Dusun Hepang, mengatakan kondisi sumber air yang berada sekitar 300 meter dari tempat tinggalnya berubah setelah gempa bumi pada Agustus lalu.

Sebelum gempa, air memang tidak selalu melimpah, terutama saat kemarau. Namun, menurut dia, airnya masih jernih dan dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

“Sekarang airnya juga sudah berkurang,” kata Laurensius saat menceritakan perubahan kondisi sumber air tersebut.

Perubahan itu membuat warga harus lebih berhati-hati saat menggunakan air. Air yang sebelumnya dapat dimanfaatkan dengan lebih mudah kini harus disaring terlebih dahulu.

“Sejak gempa, airnya keruh, sehingga sampai di rumah harus disaring lagi,” ujarnya.

Laurensius mengatakan sumber air lain memang tersedia di wilayah pegunungan. Namun, jaraknya cukup jauh dari permukiman, sehingga warga lebih memilih mengambil air dari sumber terdekat, meskipun kondisinya tidak lagi jernih.

Anak Sekolah Hanya Bisa Cuci Muka

Krisis Air Bersih di Sikka

Air yang keluar dari lubang batu tampak keruh namun dikanfaatkan warga Kampung Hepang, Desa Nen Bura untuk konsumsi rumah tangga. tirto.id/Mario Sina.

Krisis air bersih di Hepang tidak hanya dirasakan orang dewasa yang harus mengurus kebutuhan rumah tangga. Anak-anak sekolah juga ikut menanggung dampaknya.

Keterbatasan air membuat rutinitas sebelum berangkat ke sekolah berubah. Jika sebelumnya anak-anak masih bisa mandi, kini sebagian dari mereka harus berangkat dengan air seadanya.

“Sekarang, kalau ke sekolah, kami hanya bisa cuci muka saja,” ungkap Maria Ayu Ningsih Larasati, siswa kelas IV SDN Hepang.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Sikka, Petrus Poling Wairmahing mengatakan, wilayah terdampak krisis air bersih di Kabupaten Sikka antara lain Kecamatan Doreng, Kecamatan Hewokloang, Kecamatan Kangae, Kecamatan Nelle dan sebagian Kecamatan Waigete, serta sejumlah wilayah di bagian tengah dan barat, khususnya di kawasan pesisir.

Menurutnya, kondisi krisis air bersih diperparah lagi dengan gempa 15 Agustus 2026 lalu, sehingga merusak beberapa fasilitas air bersih masyarakat, instalasi, jaringan perpipaan serta ada juga sumur-sumur yang terganggu.

Ia juga mengatakan krisis air bersih tidak hanya terjadi di wilayah daratan Sikka. Sejumlah wilayah kepulauan termasuk Pulau Palue dan Dambila juga mengalami masalah serupa.

"BPBD Sikka masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah wilayah dan warga terdampak. Data tersebut nantinya menjadi dasar dalam penanganan dan distribusi air bersih," jelasnya.

PMI Sikka Salurkan Bantuan Tandon Air untuk Warga Hepang

Krisis Air Bersih di Sikka

Warga Kampung Hepang, Desa Nen Bura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka saat mengambil air di balik lubang batu, Selasa (13/10/2026). tirto.id/Mario Sina.

Krisis air bersih yang melanda warga Dusun Hepang mendapat respons dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sikka. Sebagai respons awal, satu unit tandon air berkapasitas 1.100 liter disalurkan kepada warga.

Pengurus PMI Kabupaten Sikka sekaligus Koordinator Lapangan Tanggap Darurat Bencana (TDB) Gempa PMI Kabupaten Sikka, Octavianus Aryo Adityo, mengatakan pihaknya menerima keluhan masyarakat mengenai keterbatasan akses air bersih dan penggunaan talang bambu sebagai sarana penyaluran air.

Menindaklanjuti keluhan tersebut, PMI Sikka bersama PMI Pusat melakukan asesmen awal untuk mengetahui kondisi faktual di lapangan, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, serta menghimpun data sebagai dasar koordinasi dan evaluasi penanganan selanjutnya.

“Hasil asesmen ini akan menjadi bahan evaluasi dan koordinasi lebih lanjut,” ungkap Octavianus Aryo Adityo.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemerintahan Desa Nenbura, Ambrosius Edison, mengatakan Desa Nenbura mencakup tiga dusun dan 11 rukun tetangga (RT), dengan jumlah 371 kepala keluarga dan 1.574 jiwa. Pemerintah desa juga mencatat 277 rumah tangga.

Ambrosius menuturkan krisis air bersih di Dusun Hepang bukan sekadar persoalan ketersediaan sarana, melainkan juga menyangkut kesehatan, keselamatan, dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, terutama bagi warga lanjut usia.

Oleh karena itu, selaku pemerintah desa, pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah pusat, serta pihak-pihak terkait dapat membantu penyediaan air bersih dan bantuan tandon air bagi masyarakat di Dusun Hepang, Desa Nenbura.

Baca juga artikel terkait KRISIS AIR BERSIH atau tulisan lainnya dari Mario Wihelmus PS

tirto.id - News Plus
Kontributor: Mario Wihelmus PS
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama