Menuju konten utama

Mimpi Hamida di Balik Tenda Darurat NTT: Dagang Lagi demi Anak

Rumah Hamida porak-poranda imbas gempa NTT. Tapi dia tetap menggenggam mimpi dapat berjualan lagi, demi sang buah hati tak putus sekolah.

Mimpi Hamida di Balik Tenda Darurat NTT: Dagang Lagi demi Anak
Hamidah (43) bergotong royong bersama ibu-ibu dalam memasak untuk kebutuhan anak-anak mereka dan kelurga. (FOTO/Jay Jasmin)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di balik dinding terpal biru tipis yang bergoyang ditiup angin Nusa Tenggara Timur (NTT), nyala seorang ibu menolak runtuh bersama puing-puing bangunan yang hancur dilanda gempa.

Dua bulan pascagempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Hamida (43), masih merawat sebuah impian sederhana dari dalam tenda darurat. Ia ingin kembali memegang sodet dan berjualan makanan di kantin sekolah demi menjamin masa depan pendidikan sang buah hati.

Bayang gelap gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 itu masih tebal menyelimuti benak Hamida. Dia ingat betul, saat itu dirinya sedang menggoreng makanan untuk dijual.

Perempuan asal Desa Satar Kampas, Kecamatan Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai Timur, NTT ini segera menarik anaknya dan memanggil suaminya agar keluar dari rumah.

“Waktu itu saya masih goreng-goreng jualan juga, terus setelah gempa saya juga menarik anak saya, panggil suami saya keluar dari rumah,” ingat Hamida saat menceritakan momen gempa yang dialaminya.

Sebelum gempa, hari-hari Hamida diisi dengan mengurus rumah tangga, merawat anak dan suami, serta berjualan makanan di kantin sekolah. Ia menjalankan peran sebagai ibu sekaligus istri, sembari membantu memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil berjualan.

“Sebelum gempa saya juga mengurus anak, suami yang pergi kerja, mengurus rumah, bersih rumah. Ada juga jualan, jualan kantin sekolah saya,” ujarnya.

Namun, gempa mengubah kehidupan yang selama ini dijalani Hamida. Rumahnya porak-poranda. Kini, dia bersama keluarganya pun harus bertahan di tenda darurat.

Dapur Bersama dan Ketabahan Pengungsi Gempa Flores

Ibu Hamidah Bertahan di Tenda Darurat

Hamidah bergotong royong bersama ibu-ibu dalam memasak untuk kebutuhan anak-anak mereka dan kelurga. (FOTO/Jay Jasmin)

Bagi Hamida, berada di tenda darurat bukan berarti tanggung jawabnya terhadap keluarga ikut berhenti. Ia tetap merawat anak dan suaminya. Terlebih, anak-anaknya masih merasa takut setelah gempa dan membutuhkan perhatian darinya.

“Mereka merasa takut, membutuhkan perhatian saya juga,” kata Hamida.

Di tengah riuhnya tempat pengungsian, Hamida bersama para ibu lainnya bahu-membahu merajut rutinitas yang tersisa. Jemari mereka tetap lincah merawat keluarga dan meracik makanan di tengah kondisi yang belum pulih. Bagi mereka, meski rumah telah porak-poranda dikunyah gempa, urusan perut dan kasih sayang keluarga sama sekali tidak bisa ditunda.

Aktivitas tersebut sebelumnya dilakukan di rumah kini harus mereka jalani di tengah keterbatasan. Selain itu, mereka juga berusaha memastikan keluarga masing-masing tetap mendapatkan makanan.

“Di tenda ini sudah saya masak sama ibu-ibu lain ini, di sini untuk bekal makan suami, anak, semuanya bertahan di sini,” tuturnya.

Di tengah segala keterbatasan itu, Hamida tetap memikirkan bagaimana keluarganya bisa melanjutkan kehidupan. Dia berusaha mempertahankan aktivitas berjualan yang selama ini menjadi sumber pemenuhan kebutuhan makan keluarganya.

Kehidupan setelah gempa membuat upaya untuk kembali mendapatkan penghasilan menjadi penting, terlebih pekerjaan suaminya sebagai petani kini tidak menentu.

Menggoreng Asa yang Tersisa di Tengah Keterbatasan NTT

Ibu Hamidah Bertahan di Tenda Darurat

Hamidah bergotong royong bersama ibu-ibu dalam memasak untuk kebutuhan anak-anak mereka dan kelurga. (FOTO/Jay Jasmin)

Keinginan Hamida tidak muluk-muluk. Saat ditanya tentang harapannya, ia hanya ingin memiliki tempat berteduh yang layak dan modal untuk kembali berdagang. Baginya, bisa kembali menyalakan kompor jualan berarti memiliki kesempatan untuk membiayai sekolah anaknya agar tidak terputus di tengah jalan akibat bencana alam ini.

“Harapan saya, saya butuh rumah, butuh jualan lagi biar anak saya tidak berhenti sekolah,” ujarnya.

Kalimat itu menggambarkan perjuangan Hamida setelah bencana. Ia tidak hanya berusaha memulihkan kehidupan rumah tangga, tetapi juga memikirkan masa depan anaknya.

Bagi Hamida, pemulihan bukan hanya tentang kembali memiliki rumah. Pemulihan juga berarti bisa kembali bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memastikan anaknya tetap memiliki kesempatan untuk belajar.

Baginya, bisa kembali berjualan berarti menjaga ekonomi keluarga. Sebuah kesempatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus agar anaknya tetap bersekolah. Dari tenda darurat, ia terus berjuang untuk mewujudkan harapan tersebut.

Dalam proses pemulihan, Hamida turut tersokong oleh bantuan kemanusiaan yang diterimanya. Ia mengaku bersyukur atas bantuan yang datang dari segala penjuru, termasuk air bersih dari Plan Indonesia.

“Saya juga dan ibu-ibu lain nih berterima kasih ada bantuan seperti kakak-kakak, ibu-ibu Plan Indonesia. Ini membantu kami di sini, anak-anak [jadi] masih bisa sekolah,” kata Hamida.

Bantuan yang diberikan Plan Indonesia tidak hanya berupa air bersih, tetapi juga dukungan pendidikan bagi anak-anak terdampak gempa. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membantu anak-anak tetap belajar dan menjalani aktivitas pendidikan di tengah proses pemulihan setelah bencana.

Penulis: Jasmin

Reporter: Jasmin

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya

tirto.id - News Plus
Editor: Siti Fatimah